Sabtu 21 Maret 2020, 06:00 WIB

Saatnya Bersatu (Data) Lawan Covid-19

Setia Pramana Dosen Politeknik Statistika STIS Jakarta | Opini
Saatnya Bersatu (Data) Lawan Covid-19

stis.ac.id

WABAH covid-19 semakin meluas, baik secara global maupun nasional, dan menjadi bencana internasional yang memerlukan penanganan serius. Hingga tulisan ini dibuat, terdapat 218.544 kasus dengan jumlah meninggal 8.939 di lebih dari 152 negara.

Penanganan dan pencengahan meluasnya pandemik virus korona itu jelas harus berdasarkan data yang berkualitas dengan enam dimensinya; relevan, akurat, tepat waktu, mudah diakses, terbandingkan (comparability), dan koheren. Data yang berkualitas dan terintegrasi dari berbagai kementerian dan lembaga, pelaku usaha, akademisi, bisnis, serta masyarakat menjadi sangat krusial dalam penanganan wabah korona.

Tiongkok, sebagai negara yang pertama terdampak covid-19, menggunakan berbagai sumber dan jenis data sebagai basis kebijakannya dan menerapkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk penanganan serta mencegah penyebaran virus yang lebih meluas. Penggunaan data kependudukan terkini sebagai dasar untuk melihat daerah rawan penyebaran dan juga untuk memastikan kebutuhan pokok serta pangan tersedia di daerah tersebut.

Basis data kesehatan yang terpadu menjadi salah satu kunci sukses Tiongkok untuk memonitor kesehatan setiap individu. Setiap orang wajib memonitor dan mencatat suhunya setiap hari dalam masa lockdown. Data wajah dan video pergerakan orang juga dipantau untuk melihat mobilitas warga dan potensi penyebaran virus korona.

Korea Selatan termasuk negara yang sukses dalam menanggulangi covid-19 tanpa melakukan karantina atau lockdown. Tingkat kematian karena covid-19 sangat kecil, sekitar 1% (91 dari 8.565, data pada 19 Maret 2020). Hal ini disebabkan Korea Selatan melakukan massive testing yang mana per 8 Maret 2020 telah dilakukan 189.236 tes atau sekitar 3.692 tes per 1 juta orang.

Korea Selatan juga memiliki data yang terintegrasi antara institusi pemerintah, rumah sakit, operator seluler, jasa keuangan, dan lainnya. Pemerintah Korsel menggunakan data tersebut secara real time dan memberikan informasi secara cepat kepada masyarakat. Jika ada orang yang dinyatakan positif, orang-orang di sekitar suspect tersebut akan diberikan informasi mengenai detail perjalannya seperti aktitivitas kegiatan serta peta komuter orang tersebut selama dua minggu terakhir. Karena itu, masyarakat dapat melakukan self isolation.

Cepat dan akurat

Banyak tes dilakukan secara drive through yang hasilnya didapat dalam hitungan menit. Pergerakan penduduk juga dipantau dan berdasarkan data dan kecerdasan buatan, pemerintahnya dalam membuat klaster area yang memiliki risiko tertinggi untuk kebijakan penanggulangannya yang sesuai. Selanjutnya, data mengenai suplai dan distribusi kebutuhan pokok pun dipantau secara real time sehingga tidak ada kenaikan harga yang berarti selama kejadian pandemik ini.

Sama seperti halnya negara tetangga Singapura, saat jumlah suspect masih sedikit, dilakukan tracking terhadap kegiatan suspect tersebut dengan menggunakan berbagai data base yang ada. Rapid testing juga dilakukan dengan masif.

Semua tindangan cepat dan akurat di atas dapat dilakukan karena pemerintah Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan memiliki data digital yang terintegrasi antarinstitusi pemerintah dan pihak pelaku usaha dan bisnis. Selain itu, mereka juga melibatkan peran aktif akademisi dan masyarakat.

Di Indonesia, data dasar dan data sektoral yang menjadi dasar kebijakan saat ini tersebar di berbagai institusi pemerintahan. Saat ini telah berusaha disatukan ke sebuah sistem tata kelola data pemerintah melalui Perpres No 39/2019 tentang Satu Data Indonesia (SDI).

Kebijakan SDI ini bertujuan menghasilkan data yang akurat, terkini, serta terpadu dan bersinergi dalam hal penggunaan data antara instansi pusat, daerah, dan lintas kementerian-lembaga. Satu data Indonesia memiliki empat prinsip utama, yakni satu standar data, satu metadata baku, interoperabilitas data, kode referensi, dan data induk. SDI juga menjamin kerahasiaan data pribadi dan melakukan sertifikasi sistem elektronik sebagai upaya pencegahan terhadap kegagalan perlindungan data pribadi yang dikelola.

Selain data dari pemerintah, dibutuhkan juga data dari dunia usaha, terutama para operator seluler dan berbagai perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi digital. Kontribusi sumber data dari berbagai sumber sektor digital saat ini sangat berguna untuk percepatan penanggulangan wabah covid-19. Data pergerakan masyarakat dapat dipantau dengan menggunakan data dari operator seluler sehingga dapat dilihat lokasi masyarakat berkumpul dan bergerak untuk melihat risiko, baik individu maupun daerah akan terpapar virus.

Kemudahan akses

Kemudian, data dari perusahaan e-commerce (seperti market place) dan penyedia jasa digital (seperti ojek online dan online ticketing) dapat digunakan untuk melihat fluktuasi harga dan pola belanja, serta perjalanan masyarakat. Jika data ini dapat diakses dengan mudah oleh pemerintah, dampak informasi tersebut juga dapat langsung digunakan pemerintah untuk dapat melihat dampak wabah ini terhadap pasokan kebutuhan pangan, dunia industri, wisata, dan sektor lainnya.

Dengan demikian, pemerintah dapat melakukan tindakan preventif yang lebih cepat dan terukur. Pengelolaan data nonpemerintah dari private sector sepertinya perlu dilakukan dalam waktu dekat.

Dalam hal pengembangan vaksin, berbagai sumber data juga dimiliki berbagai institusi riset, baik pemerintah maupun swasta. Data klinis pasien dari rumah sakit hingga data genomics (DNA dan RNA sequencing), baik manusia, bakteri, maupun virus, data base komposisi jamu, herbal asli Indonesia, maupun data hasil riset, tersebar di berbagai institusi. Semua itu belum terintegrasi secara baik. Jika ini dapat diintegrasikan, akan memudahkan kita dalam mendapatkan vaksin yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Data yang terintegrasi mendatangkan tantangan baru berupa kemampuan kita untuk melakukan analisis dari data yang sangat besar (big data) dan bervariasi jenis dan strukturnya. Hal ini merupakan tantangan bagi para akademisi maupun praktisi analis data. Ilmuan data (data scientist) yang andal dan berpengalaman memegang peran besar dalam penggunaan big data tersebut untuk melakukan analisis, prediksi, serta pengembangan kecerdasan buatan (AI), baik untuk penanggulangan wabah maupun pengembangan vaksin dalam waktu yang sangat cepat.

Data yang terbuka (open data) pada level tertentu yang dapat diakses masyarakat tidak hanya dapat membuat masyarakat menjadi tenang, tapi juga dapat berkontribusi dalam hal pencegahan, penanggulangan, pengembangan vaksin, dan pengobatan.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, peneliti akademisi, dan masyarakat dalam penyediaan data yang valid serta dalam waktu cepat menjadi kunci dalam kebijakan yang tepat dan cepat dalam penanggulangan wabah covid-19 yang semakin meluas ini.

Baca Juga

Dok. Pribasi

Covid-19 dan Generasi Charlie (Gen C)

👤Pramudianto, Doktor bidang Sumber Daya Manusia dan Trainer 🕔Sabtu 04 April 2020, 20:56 WIB
KITA mengenal generasi silent atau generasi tradisional yaitu mereka yang lahir sebelum tahun 1940....
Dok. Pribadi

Melawan Covid-19, Membangun Partisipasi Warga

👤Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan (PKP) Berdikari 🕔Sabtu 04 April 2020, 19:25 WIB
DI era 80-an hingga 90-an, aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) turut membantu pembangunan di banyak wilayah di...
Dok. MI

Ancaman Resesi akibat Pandemi

👤Galih Prasetyo Vice President Youth on Organization of Islamic Cooperation (Pemuda OKI Indonesia) yang terafiliasi ICYF, Turki, dan Penulis buku Indonesia dalam Cengkeraman Liberalisme (2015) 🕔Sabtu 04 April 2020, 07:10 WIB
COVID-19 belum reda. Jumlah kasus terus bertambah di Tanah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya