Minggu 21 Februari 2016, 01:05 WIB

Kolaborasi Musik dan Puisi

Abdillah Marzuqi | Hiburan
Kolaborasi Musik dan Puisi

DOK. DKJ

 

HANYA ada piano besar berdamping satu kursi di tengah panggung. Dari awal hingga akhir pertunjukan, hanya itu properti yang bisa dilihat penonton. Namun, malam itu, tak cuma denting piano yang mereka dengar. Ada aksara yang dirapalkan secara indah, kadang menghentak layaknya sebuah sajak.

Nada dan kata memang menjadi fokus pertunjukan malam itu. Bertajuk Konser di Hadapan Rahasia: Perpaduan Puisi dan Musik, pianis Ananda Sukarlan tampil memukau bersama Mariska Setiawan (soprano). Mereka berkolaborasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (17/2) malam. Pertunjukan itu dihelat dalam rangka peluncuran buku puisi Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel.

Lampu sorot seolah tak pernah berpindah posisi, selalu menampakkan sinarnya ke arah tengah panggung. Dengan cahaya yang begitu konstan, tentu suasana panggung sukar terbentuk. Namun, dengan modal pengaturan kekuatan cahaya, kadang redup, sering pula terang, ternyata lampu itu cukup bisa membangun suasana panggung yang selama ini kerap digunakan untuk pertunjukan teater itu. Namun, kali ini, di panggung itu, yang dimainkan ialah teater yang pemaknaan dan pesannya tergantung penonton. Imajinasi dan kedalaman rasa milik penontonlah yang menentukan kedalaman lakon.

Sebab, nada dan kata memang menjadi fokus pertunjukan malam itu. Jadilah tiga lakon dengan tiga ‘senjata’. Ananda dengan denting piano, Mariska dengan vokal soprannya, dan Adimas dengan katakata puitisnya. Malam itu Ananda tampil bersahaja. Ia cukup mengenakan baju batik lengan panjang. Busananya dipadu dengan celana gelap dan sepatu pantofel hitam. Mariska cukup anggun dengan balutan busana warna merah, sedangkan Adimas mengenakan setelan jas, kaus, dan celana panjang yang semuanya berkelir hitam.

Awalnya, Adimas punya giliran untuk bermain jurus kata sebagai pembuka acara. Setelah sedikit cakap, giliran Ananda memainkan Rapsodia Nusantara #3. Gubahan itu terdiri atas dua lagu yang berasal dari Maluku, yakni Rasa Sayange dan Sarinande.

Ananda memang telanjur akrab dengan dunia sastra. Komponis sekaligus pianis itu tak membatasi dirinya untuk melakukan interpretasi terhadap puisi. Melalui tangan dan imaji, kata-kata diubahnya menjadi bunyi. Tak melulu harus dari buku puisi, bahkan puisi pendek hasil tweet juga tak luput dari kenakalannya.

Beberapa puisi yang dimusikalisasikan ialah gubahan Eva Soraya berjudul Aku tak Peduli, karya Sapardi Djoko Damono berjudul Yang Fana Adalah Waktu dan Ketika Kau Entah di Mana, serta Rangkaian Rahasia untuk Mariska yang diambil dari puisi Adimas.

Selain itu, Ananda menampilkan hasil interpretasi karya sastra dari beberapa penyair, dalam bentuk musik tentunya, misalnya, alunan nada Darkness and My Lover hasil pemaknaan dari puisi The Sleepers karya Walt Whitman dan Call Me But Love dari dialog lakon Romeo & Juliet.

Yang menarik ialah ketika Ananda mengubah nada dari tweet Aan Masyur. Awalnya, Ananda mengaku kesulitan menerjemahkan puisi tersebut dalam bunyi. Namun, yang muncul justru sebaliknya. Bangunan emosi yang kuat tercipta dari setiap denting nada yang keluar dari pianonya.

Bunyi tuts piano masih menyisakan gema. Belum cukup terbuai, nada pilu menggencar dan semakin menggoreskan perasaan gelap. Irama semakin merancak dan menggebu. Bait pertama diiringi nada gelap yang semakin menjadijadi seiring dengan vokal sopran Mariska saat berucap ‘Wahai kekasih lukai aku sekali lagi’ dan mengulang kata ‘sekali lagi’ dengan vokal lebih tinggi.

Namun, bait berikutnya berbeda. Hanya disertai sesekali denting. Ada lompatan rasa dan emosi. Bait pertama membuat perasaan serasa diseret masuk dalam pilu, lalu diayun kemudian diempas pada bait kedua. ‘Aku rindu melihat kau menyesal’, bait itu diucap dengan vokal melengking yang membuat suasana syahdu menyayat makin terbangun.


Hasil interpretasi

Buku Di Hadapan Rahasia memuat 70 puisi yang ditulis Adimas dalam kurun 2013-2015. Puisi itu banyak yang lahir dari interpretasi dia terhadap apa pun yang ada di sekitarnya, bisa berupa lukisan, musik, bahkan gim.

“Saya berterima kasih pada benda-benda budaya, game, musik, lukisan, dan mitos. Hubungannya dengan rahasia,” ujar mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, itu.

Lelaki kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 8 Juli 1991, itu mengakui ada pergulatan batin dalam dirinya. Semakin ia merasa mengenal dirinya, semakin ia sadar ketidaktahuannya. Adimas merasa ada jarak antara dia dan dirinya. Ia selalu terbentur dengan rahasia ketika berusaha mengenali dan memahami diri.

Pergulatan itulah yang kemudian diwahanakan dalam puisi berjudul Di Hadapan Rahasia. “Yang paling mewakili diri saya ya puisi Di Hadapan Rahasia, makanya jadi judul buku ini,” tegas Adimas yang kerap mencicitkan bait-bait kata lewat akun @Adimasnuel.

‘Masihkah kita harus bersengketa ketika hari hampir habis, sementara daun-daun tak sekali pun menebak ke mana angin akan meniupnya. Seperti kita manusia yang amat kecil di hadapan rahasia, yang tak sepenuhnya berkuasa atas jatuh bangun kita’, demikian salah satu bait puisi itu. (M-4)

Baca Juga

Istimewa

Novel Remaja Karya Lexie Xu Dijadikan Drama Serial ‘Omen’

👤Deri Dahuri 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 19:28 WIB
Serail drama ‘Omen’ disutradarai oleh Arie Azis berdasarkan naskah arahan dan skenario oleh Hilman Hariwijaya, diadaptasi dari...
AFP/Frazer Harrison/Getty Images

Daniel Craig tidak Berencana Wariskan Harta untuk Anak-Anaknya

👤Cecylia Rura 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 13:00 WIB
Aktor Daniel Craig memiliki seorang putri bernama Ella, 28, anak dari pernikahan pertama dengan aktris Fiona Loudon. Craig kemudian...
MI/Permana

Ini Cara Muhammad Khan Optimalkan WFH

👤Antara 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 10:45 WIB
Dia punya waktu untuk menonton film-film yang tidak sempat disaksikan karena aktivitas yang padat. Khan juga bisa leluasa membaca buku...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya