Jumat 20 Maret 2020, 06:15 WIB

Virus Korona dan Keluarga Indonesia

Seto Mulyadi Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma | Opini
Virus Korona dan Keluarga Indonesia

MI/ Tosiani

SAYA ingin mengawali tulisan ini secara positif. Mencuplik studi yang dimuat dalam The Economist (2017), para orangtua dari kelas menengah di 11 negara maju dewasa ini menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak mereka.

Pada 1965, setiap ibu menggunakan 54 menit per hari untuk menemani anak-anak mereka. Pada 2012, alokasi waktunya mendaki ke 104 menit per hari. Adapun di kalangan ayah, durasi waktu untuk menyertai anak-anak naik dari 16 menit ke 59 menit per hari.

Bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Tidak sedikit yang menilai, semakin lama semakin berkurang waktu yang disediakan ayah dan bunda untuk anak-anak. Apalagi penyebabnya kalau bukan tuntutan jam kerja yang meninggi, jam sekolah yang semakin panjang, dan kehadiran gawai di tangan.

Berpijak dari situ, keharusan bagi anak-anak untuk tidak ke sekolah, disertai imbauan agar para pekerja bekerja dari rumah, diharapkan menjadi penawar yang akan meningkatkan peran ayah dan bunda dalam mengasuh anak-anak mereka.

Namun, sayang beribu sayang, boleh jadi 14 hari ini merupakan masa 'liburan' yang paling tidak disukai anak-anak, dan tentu juga orangtua. Dari sisi mindset, liburan ini datang tiba-tiba. Akibatnya, tidak ada persiapan agenda liburan seperti masa berwisata lazimnya.

Anggaplah, agenda liburan biasanya bisa disusun secara spontan. Namun, meski harga tiket pesawat dan kamar hotel sedang bagus-bagusnya, kenyataannya hasrat untuk memperolehnya justru sedang jelek-jeleknya.

Apalagi anak-anak yang secara kodrati merupakan individu yang 'tak bisa diam'. Dalam situasi normal, saat anak-anak diizinkan aktif di luar dan dalam ruangan, selama 60 menit anak lelaki usia SD dan SMP melakukan 13.000 hingga 15.000 langkah per hari. Pada anak perempuan, 11.000 sampai 12.000. Memasuki usia pubertas, baik anak lelaki maupun anak perempuan melakukan 10.000 hingga 11.700 langkah per hari. Demikian rangkum Catrine Tudor-Locke dkk (2011).

Sekarang, sebagai konsekuensi karantina diri yang juga harus mereka jalani, jumlah di atas pasti akan berkurang banyak. Itu bermakna, semakin rendah aktivitas fisik keseharian anak-anak dari kodrat mereka, semakin tertekan pula mereka secara psikologis.

Sebagian orangtua yang mengirim anak ke sekolah agar bisa beraktivitas sehari-hari secara lebih sehat tergopoh-gopoh. Orangtua mendadak sontak harus menemukan jalan agar berada di dalam rumah selama dua pekan tetap menjadi waktu yang produktif dan menyenangkan bagi anak-anak.

Pada saat yang sama, orangtua juga masih harus menjalankan kewajiban yang sama sebagai tulang punggung keluarga. Menjaga keseimbangan keduanya agar tetap harmonis satu sama lain, dan itu dilakukan dalam situasi karantina, besar kemungkinan membutuhkan upaya yang besar pula.

Banyak pesan berantai di berbagai Whatsapp Group yang menyajikan informasi tentang serbaneka kegiatan yang dapat dilakukan bersama anak-anak. Kegiatan pendidikan juga difasilitasi lewat beragam aplikasi berbasis daring. Semua itu konstruktif, tetapi dalam perubahan yang terjadi seketika, yakni dari di luar rumah menjadi di dalam rumah (isolasi diri). Apalagi ketika perubahan itu merupakan konsekuensi dari bencana global, maka patut diantisipasi bahwa banjir informasi tadi justru dapat mempercepat meruyaknya wabah berikutnya; information fatigue syndrome.

Istilah tersebut sering digunakan dalam konteks kerja dan dampak informasi terhadap proses pembuatan keputusan. Namun, relevan juga bila diterapkan sebagai potret tentang kondisi batiniah para keluarga yang diharuskan mengurung diri mereka untuk sekian lama akibat bencana nasional dan dibombardemen dengan berbagai informasi terkait covid-19.

Ketika anggota keluarga sudah dijangkiti information fatigue syndrome, maka jangankan waspada, mereka justru bisa menjadi mati rasa dan kebas pikiran. Informasi yang lalu lalang, betapa pun pentingnya, justru akan dianggap biasa-biasa saja.

Tingkat responsivitas melemah seiring dengan pemunculan hindsight bias, yakni bias pemikiran yang ditandai terlalu kuatnya keyakinan bahwa seolah 'saya bebas dari risiko, saya tidak akan terkena penyakit, saya mampu mengatasinya'. Perilaku ceroboh, mengabaikan protokol kesehatan menghadapi covid-19, menjadi manifestasinya.

Dampak sosial

Becermin pada lockdown yang diberlakukan di Wuhan, Tiongkok, sebagai contoh. Alih-alih menjadi momentum bagi pelekatan ikatan keluarga, isolasi diri di dalam rumah justru berdampak sosial yang tidak sederhana. Kepolisian di Jingzhou Jialy County ialah satu dari sekian kantor polisi yang menerima peningkatan laporan tentang kekerasan dalam rumah tangga. Pada Februari 2020, masuk 162 laporan, dan itu adalah tiga kali lipat lebih tinggi daripada jumlah laporan sejenis sebelum diberlakukannya lockdown.

Sekian banyak ilmuwan psikologi juga telah memperkirakan bahwa, dalam situasi bencana yang memaksa dilakukannya karantina diri, jumlah kelahiran dan perceraian akan meningkat.

Sepintas lalu, naiknya jumlah kelahiran merupakan kabar gembira. Namun, jika diselisik lebih dalam, kelahiran justru bisa menjadi episode suram ketika sesungguhnya suami istri tidak siap untuk itu. Dengan kata lain, masa isolasi diri justru berpotensi menghadirkan beban serius yang tidak cukup diantisipasi keluarga itu sendiri.

Stres, kebingungan, bahkan amarah juga menjadi fenomena yang merisaukan, dan dampak susulan itu semua ialah meningkatnya konsumsi rokok serta penyalahgunaan narkoba. Situasi lebih buruk dapat dipastikan akan berlangsung manakala pasokan sumber bahan pokok masyarakat tidak tersedia secara memadai, baik karena pasokan yang kurang maupun karena harganya di atas daya jangkau masyarakat.

Tentu, kita menaruh harapan positif bahwa masa karantina dua pekan akan berefek positif pula bagi teratasinya wabah covid-19. Pada sisi lain, tulisan ini menyajikan sebuah gambaran bahwa ada dampak sosial yang dapat mengena ke keluarga Indonesia. Virus korona dikabarkan menyerang utamanya kelompok usia produktif, terlebih manula. Akan tetapi, di luar urusan virus, ada dampak sosial yang--pahitnya--bisa saja menambah mapan posisi anak-anak sebagai kelompok rentan utama dalam situasi bencana.

Otoritas terkait, tak pelak, tidak hanya dituntut untuk merespons secara tepat bahaya virus dan tingginya biaya ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi covid-19. Tak kalah pentingnya ialah risiko sosial yang dapat muncul dari lingkungan keluarga. Ini semua yang kiranya patut menjadi pemikiran dan kepedulian kita bersama, utamanya demi kepentingan terbaik bagi keluarga dan anak-anak Indonesia.

Semoga.

Baca Juga

Dok. Pribasi

Covid-19 dan Generasi Charlie (Gen C)

👤Pramudianto, Doktor bidang Sumber Daya Manusia dan Trainer 🕔Sabtu 04 April 2020, 20:56 WIB
KITA mengenal generasi silent atau generasi tradisional yaitu mereka yang lahir sebelum tahun 1940....
Dok. Pribadi

Melawan Covid-19, Membangun Partisipasi Warga

👤Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan (PKP) Berdikari 🕔Sabtu 04 April 2020, 19:25 WIB
DI era 80-an hingga 90-an, aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) turut membantu pembangunan di banyak wilayah di...
Dok. MI

Ancaman Resesi akibat Pandemi

👤Galih Prasetyo Vice President Youth on Organization of Islamic Cooperation (Pemuda OKI Indonesia) yang terafiliasi ICYF, Turki, dan Penulis buku Indonesia dalam Cengkeraman Liberalisme (2015) 🕔Sabtu 04 April 2020, 07:10 WIB
COVID-19 belum reda. Jumlah kasus terus bertambah di Tanah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya