Jumat 20 Maret 2020, 06:00 WIB

Bersatu Melawan Virus Korona

Adi Prayitno Dosen Ilmu Politik Fisip UIN Jakarta, Direktur Eksekutif Parameter Politik | Opini
Bersatu Melawan Virus Korona

Dok. Pribadi

VIRUS korona kian meresahkan. Jumlah korban yang terpapar terus meningkat. Butuh gerakan bersama melawan ganasnya virus yang sangat berbahaya ini. Bergandengan tangan, bersatu saling padu mencari solusi. Bukan sibuk saling menyalahkan, menuding, dan mencari kambing hitam. Semua itu tak menyelesaikan persoalan, malah membuat keadaan semakin runyam.

Tiap saat, publik khawatir akan penyebaran virus korona. Sukar dideteksi bisa datang kapan saja tanpa diundang. Tak kuasa pula ditolak. Jangan lagi ditambah dengan narasi politik yang justru menambah beban mental publik. Kepanikan kerap terpancar setiap kali ada informasi bertambahnya jumlah orang yang terduga kena virus korona. Cemas tiada henti.

Presiden Jokowi sudah menganjurkan warga untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah, menjauhi keramaian serta membatasi kontak sosial (social distancing). Semua itu dilakukan sebagai ikhtiar mengantisipasi sebaran virus yang terus melebar. Meski terkesan lambat, tak perlu lagi terus menghujat. Upaya sudah dilakukan. Tinggal diimplementasikan.

Sejumlah kepala daerah juga telah melakukan langkah serupa. Misalnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih dulu memulai antisipasi dampak korona dengan meliburkan sekolah, menutup tempat rekreasi, serta memaklumatkan menjauhi kerumunan. Tak perlu membandingkan, apalagi membenturkan langkah Jokowi dan Anies Baswedan dalam melawan virus korona. Niatnya sama. Jihad melawan virus mematikan itu.

Sekali lagi, korona bukan soal Jokowi versus Anies Baswedan. Bukan pula perkara politik elektoral. Terlalu remeh-temeh itu semua. Virus korona menyangkut keselamatan seluruh warga negara karena virus bisa menjangkit siapa pun. Tak peduli elite ataupun warga biasa. Tak perlu lagi bertengkar. Butuh sinergi saling melengkapi dalam mengantisipasi dampak korona.

Daerah lain juga sudah melakukan langkah serupa. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan lainnya, menyeru langkah antipasti menangkal virus korona. Dari menghindari kerumunan, menganjurkan pola hidup sehat, hingga mengerjakan segala sesuatu di rumah. Semua dilakukan untuk menanggulangi virus korona. Bukan ajang gagah-gagahan mencari panggung politik. Bukan tempat mencari sensasi, apalagi mencari keuntungan ekonomi.

Pemerintah dan kepala daerah sudah berijtihad untuk mencegah menyebarnya virus korona. Tentu saja langkah ini positif sebagai bekal kolektif melawan korona. Ke depan, perlu singkronisasi program sehingga tak ada lagi friksi dan misinformasi yang justru membuat suasana tak kondusif.

Dampak psikologis

Dampak psikologis merebaknya virus korona relatif buruk bagi kesehatan mental. Anjuran social distancing secara tak langsung membatasi gerak dan jarak antarwarga. Ada tembok tebal pemisah yang sukar dijebol. Tautan batin kemesrasaan tak lagi terasa karena warga saling mengurung diri. Karena itu, terpaksa menutup ruang berkomunikasi dengan pihak luar sebab khawatir tertular virus korona.

Dampak yang paling buruk ialah munculnya ketidakpercayaan sosial (social distrust). Masyarakat saling curiga. Merasa tak aman berdekatan dengan orang lain yang berimplikasi pada rapuhnya basis kohesivitas sosial.

Fenomena semacam ini sangat potensial mengganggu iklim berdemokrasi. Itu karena demokrasi tumbuh berkembang di atas rekatan fondasi kukuh kebersamaan yang didasarkan pada ras saling percaya pada orang lain. Hormat dan respek antarsesama.

Kondisi saat ini hampir mirip dengan nukilan Robert Putnam dalam Bowling Alone (1995) yang menggambarkan sepinya klub boling di Amerika kala itu. Bukan karena bisnis boling tutup, melainkan karena warganya yang tak lagi bergaul dalam komunitas klub boling. Impeknya cukup serius. Warga tersekat dalam kubangan kehidupan individual. Tak ada lagi perasaan kolektif sebagai unit kesatuan civil society yang peduli dan responsif.

Padahal, bermain boling tidak sekadar menyalurkan hobi dan bakat, tetapi mencari komunitas untuk saling berinteraksi secara terbuka. Dalam perkembangannya, orang Amerika cenderung sendirian bermain boling. Secara fisik, sehat. Namun secara mental, kurang sehat karena tak terhubung dengan jaringan komunitas sosial. Implikasinya, muncul sikap cuek terhadap situasi sekitar. Bahkan, merasa tak nyaman dengan pihak luar.

Kasus virus korona bisa berdampak serius secara psikologis jika tak dikelola dengan baik karena memunculkan perasaan saling curiga dan merasa tak aman berdekatan dengan warga lainnya. Juga, merasa insecure jika berada dalam komunitas besar. Takut bersalaman. Panik jika ada orang lain yang batuk, flu, dan pilek. Beban psikologis semacam ini perlu dinetralisasi guna mengurangi kadar ketegangan yang berkembang belakangan ini.

Momen bersatu

Wabah virus korona mestinya menjadi momen bersatu bagi seluruh komponen bangsa. Merekatkan kembali ikatan tali persaudaraan tanpa sekat. Tak perlu lagi saling menyalahkan. Hilangkan perasaan sebagai pihak paling benar. Sejauh ini, pemerintah belum seutuhnya konsolidatif menghadapi korona. Infrastruktur dan alat deteksi virus masih terbatas. Yang perlu dilakukan saat ini ialah saling membesarkan jiwa dan memotivasi untuk optimistis menghindari korona.

Dalam situasi semacam ini, perlu kiranya merenungkan kembali makna penting politik yang paling hakiki, yakni mengupayakan kemaslahatan hidup seluruh warga negara. Politik bukan hanya soal pilkada, pileg, dan pilpres. Jauh dari itu semua, politik merupakan jalan sunyi nan mulia mencari solusi menuju kedamaian hidup.

Politik tak melulu seperti diktum Harold Lasswell tentang cara meraih kekuasaan (how to get the power). Namun, politik sekal-kali harus diletakkan dalam kerangka filosofis substansial sebagai kebajikan menciptakan ketenteraman di masyarakat. Jauh dari intrik, apalagi dendam politik.

Dalam konteks inilah perlu kiranya menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa virus korona harus menjadi momentum membangun kebersamaan. Virus korona bukan soal Jokowi versus Anies Baswedan, melainkan menyangkut keselamatan seluruh warga negara. Sampai kapan bangsa ini terbelah untuk urusan yang sebenarnya tak terlampau penting.

Jokowi tak mungkin lagi maju Pilpres 2024. Tak perlu terus-menerus direcoki kinerjanya. Pun dengan Anies Baswedan, yang belum tentu bisa maju pilpres nantinya. Belanda masih jauh. Jalan yang harus dilalui masih terjal, berliku, dan mendaki.

Saatnya berangkulan menyudahi pertikaian. Mari dukung semua program pemerintah dalam mengantisipasi virus korona. Mari juga dukung seluruh program kepala daerah lainnya untuk menanggulangi korona. Bukan hanya program Anies Baswedan. Membangun jembatan pengertian bersama antara pemerintah pusat dan daerah ialah satu-satunya cara bersama melawan ganasnya wabah korona.

Saling menghujat, mencibir, dan merasa paling benar sendiri tak akan menyelesaikan apa pun. Virus korona tak bisa dicegah dengan kegaduhan politik. Korona hanya mungkin dikalahkan jika seluruh eksponen bangsa saling mendukung dan saling menguatkan. Ulurkan tangan kebersamaan untuk bersatu melawan virus korona.

Baca Juga

Dok. Pribasi

Covid-19 dan Generasi Charlie (Gen C)

👤Pramudianto, Doktor bidang Sumber Daya Manusia dan Trainer 🕔Sabtu 04 April 2020, 20:56 WIB
KITA mengenal generasi silent atau generasi tradisional yaitu mereka yang lahir sebelum tahun 1940....
Dok. Pribadi

Melawan Covid-19, Membangun Partisipasi Warga

👤Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan (PKP) Berdikari 🕔Sabtu 04 April 2020, 19:25 WIB
DI era 80-an hingga 90-an, aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) turut membantu pembangunan di banyak wilayah di...
Dok. MI

Ancaman Resesi akibat Pandemi

👤Galih Prasetyo Vice President Youth on Organization of Islamic Cooperation (Pemuda OKI Indonesia) yang terafiliasi ICYF, Turki, dan Penulis buku Indonesia dalam Cengkeraman Liberalisme (2015) 🕔Sabtu 04 April 2020, 07:10 WIB
COVID-19 belum reda. Jumlah kasus terus bertambah di Tanah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya