Kamis 19 Maret 2020, 02:11 WIB

Produk Fitofarmaka Indonesia masih Sedikit

Wisnu Arto Subari | Humaniora
Produk Fitofarmaka Indonesia masih Sedikit

Dok. Nucelus Farma
Penghargaan untuk Nucleus farma

 

DARI 45 ribu jenis tumbuhan obat di dunia, sekitar 35 ribu tumbuh di Indonesia. Sayangnya, yang berhasil menciptakan fitofarmaka yaitu negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Fitofarmaka adalah obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. Bahan baku dan produk jadinya juga telah distandardisasi.

Menurut peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Teni Ernawati, Indonesia masih kekurangan produk fitofarmaka, bahkan dapat dikatakan negara paling sedikit yang memilikinya. 

"Fitofarmaka kita baru ada 24 merek, imbuhnya, masih kalau jauh dibandingkan obat herbal terstandar (OHT) yang berjumlah ratusan dan jamu yang berjumlah ribuan," ujarnya.

Banyak proses yang harus dilalui jika jamu dan OHT ingin 'naik kelas' menjadi fitofarmaka. 

"Bahan baku harus terstandardisasi, proses ekstraksinya seperti apa, harus melalui proses good manufacturing practice (GMP), senyawa aktif dan senyawa kimia dalam kandungan herbal harus teridentifikasi dengan baik, harus teruji pada hewan dan manusia," jelas Teni dalam keterangan pers yang diberikan.

CEO and Pendiri Nucleus Farma Edward Basilianus menambahkan, perlu kerja sama tiga pihak untuk mendorong fitofarmaka di Indonesia, yakni akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. 

Baca juga : Kekayaan Agrobiodiversitas Belum Diolah Jadi Obat Asli Indonesia

Akademisi dibutuhkan untuk proses penelitian uji klinis, dunia usaha berperan memproduksi dan memasarkannya, serta pemerintah yang mengatur regulasi.

"Kami fokus mengembangkan fitofarmaka dan satu-satunya produsen obat alami di Indonesia yang memperoleh Certificate FDA Registered Facility dari AS, agar kami bisa mengekspor dan orang asing tidak ragu mengonsumsinya," ujar Edward.

"Kami sedang merancang obat superantioksidan untuk menghadapi Covid 19, obat kanker, dan obat hipertensi. Jadi nanti kalau sudah diluncurkan, penderita ketiga penyakit tersebut tidak perlu mengonsumsi obat kimia yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka panjang," kata pria yang akrab disapa Edo tersebut.

Pihaknya bekerja sama dengan LIPI dalam mengembangkan obat antikanker dalam bentuk jamu dari teripang emas (golden stichoupus variegatus) yang diperoleh dari lautan Indonesia. 

Di Amerika Serikat, obat kanker berbahan teripang sudah berhasil dikembangkan, tapi bahan bakunya hidup di lautan Atlantis.

Edward menjadi salah satu figur yang berhasil memboyong penghargaan Indonesia Award 2020 pada pekan lalu. Penghargaan ini diberikan oleh Indonesia Achievement Center kepada figur maupun lembaga yang dinilai berhasil menciptakan berbagai terobosan dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Edward memperoleh penghargaan karena dinilai berhasil mengembangkan obat dari bahan-bahan alami. (OL-7)

Baca Juga

123rft.com

Penelitian Transmisi Melalui Udara Virus SARS-CoV-2 Terus Dikaji

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 10 Juli 2020, 16:12 WIB
“WHO mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini. Seiring dengan transmisi melalui udara, kami melihat banyak rute transmisi...
Ist/KLHK

 Menteri LHK Siti Nurbaya: Saya Bangga Jadi Anak Polisi!

👤Deri Dahuri 🕔Jumat 10 Juli 2020, 15:38 WIB
Menteri Siti Nurbaya menceritakan tentang karakter ayahnya, Mohamad Bakar yang seorang purnawirawan Polri itu di hadapan hadirin...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Peserta Kartu Prakerja 'Bodong' dapat Dituntut Pidana

👤Dhika kusuma winata 🕔Jumat 10 Juli 2020, 15:25 WIB
Penerima Kartu Prakerja yang 'bodong' atau tidak sesuai ketentuan yang menerima bantuan biaya/insentif pelatihan bisa digugat jika...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya