Rabu 18 Maret 2020, 04:00 WIB

Korona dan Hidup Sehat di Kota Sehat

Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan | Opini
Korona dan Hidup Sehat di Kota Sehat

Dok.MI

JIKA disuruh memilih, semua orang pasti ingin selalu hidup sehat. Namun, derajat kesehatan seseorang sangat ditentukan lingkungan tempat tinggal orang itu, dari lingkup rumah tangga, RT/RW, kelurahan, kecamatan, hingga kota.

Pemanasan global telah membawa perubahan iklim ekstrem yang memengaruhi kehidupan dan kesehatan kota dan kita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2020) telah mengidentifikasi dampak kesehatan akibat perubahan iklim terhadap kawasan perkotaan, seperti cuaca ekstrem, temperatur memanas, serta peningkatan dan ketidakaturan curah hujan.

Semua itu berpengaruh terhadap pola mikroba, seperti alur kontaminasi dan transmisi dinamis terhadap penyebaran penyakit, baik melalui bakteri maupun virus. Dampak bagi kesehatan ialah penyebaran penyakit melalui air, udara, makanan, dan minuman. Merebaknya penyakit lingkungan, seperti diare, demam berdarah, infeksi saluran pernapasan atas, dan kini virus korona harus terus diwaspadai.

Peta sebaran diare dan demam berdarah banyak berada di kantong-kantong kampung kumuh perkotaan yang merupakan kawasan paling rentan terhadap penyebaran penyakit lingkungan.

Suhu udara kota yang semakin meninggi, musim kemarau yang bertambah kering, hingga tingkat polusi udara yang memburuk menjadi ancaman besar peningkatan berbagai penyakit, seperti asma, infeksi saluran pernapasan atas, stres, dan kanker paru-paru.

Penyebaran virus korona di berbagai belahan dunia membuka mata rantai kehidupan di dunia yang saling terkait dan saling terhubung erat. Penyebaran wabah korona seharusnya menjadi momentum bersama akan pentingnya menjalankan gaya hidup sehat dan tekad mewujudkan kota sehat.

Menjaga keseimbangan

Kota tempat kita tinggal harus mampu menjaga keseimbangan antara keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan dengan kemakmuran warga, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian alam. Kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Kota harus dirancang mampu memperkuat kesehatan dan kualitas hidup penghuni kota (seluruh makhluk hidup) dan dijaga keberlanjutan ekosistemnya (sumber daya alam). Pembangunan kota sehat mensyaratkan keamanan ekologis yang meliputi air bersih, suplai air baku, udara segar, makanan, hunian dan tempat kerja yang sehat, serta pelayanan dan perlindungan pemerintah terhadap bencana.

Kota sehat dimulai dari rumah sehat yang membentuk keluarga/warga sehat. Rumah sehat dengan banyak bukaan (jendela, pintu, ventilasi) yang mengalirkan udara segar dan cahaya sinar matahari.

Ruang dapur bersih, kamar mandi kering, dan higienis, serta kamar, ruang tamu, dan ruang keluarga yang terjaga kebersihannya menjadi syarat utama terwujudnya keluarga sehat.

Membiasakan mencuci tangan setiap kali setelah berkegiatan dan sebelum makan serta membersihkan diri sebelum beristirahat dan sebagai syarat sebelum beribadah.

Pengolahan, pemilihan, dan pemilahan sampah serta pengelolaan air limbah rumah tangga menjamin keberlanjutan rumah sehat. Kehadiran taman atau kebun yang asri menjadi area relaksasi alami yang menyehatkan bersama keluarga.

Tekad menciptakan keluarga/warga sehat dengan membangun rumah sehat harus menular dan menyebar ke lingkungan sekitar, dari tingkat RT/RW, kelurahan, kecamatan, hingga kota. Hal ini tampak pada saluran air tidak ada yang tersumbat, tidak air tergenang, sampah dipilah dan diolah, serta air limbah diolah sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat. Juga, keteduhan pepohonan dan taman-taman asri untuk ruang berolahraga.

Kesadaran akan kota sehat bertujuan agar warga memahami alam lingkungan sekitar, membangun budaya hidup sehat, tanggung jawab terhadap lingkungan, memperkuat kemampuan untuk berkontribusi meningkatkan kualitas hidup, menciptakan lingkungan sehat, serta keberlanjutan ekosistem perkotaan. Ketersediaan ruang terbuka hijau, pertanian kota, dan lingkungan hijau akan menyegarkan iklim mikro kota sehat.

Kota menyediakan jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman, jalur sepeda (parkir, ruang ganti, rambu dan marka, bengkel, serta fasilitas sepeda sewa), kendaraan ramah lingkungan, serta angkutan umum terpadu. Warga harus didorong terbiasa berjalan kaki atau bersepeda dalam jarak dekat agar tetap bergerak dan bugar.

Pemerintah harus melakukan berbagai strategi membangun budaya hidup sehat dan mempercepat terwujudnya kota sehat, seperti sosialisasi dan advokasi di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan kelurahan yang melibatkan lintas sektor, organisasi massa, dan swasta.

Pemerintah harus melakukan pemetaan populasi dan daerah rentan kesehatan di wilayahnya dengan membentuk sistem tanggap bencana sektor kesehatan, menyiapkan peraturan perundangan terkait dengan kota sehat berbasis pemberdayaan masyarakat, lalu meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas dan pelayanan kesehatan, melaksanakan pelatihan masyarakat, mencegah dan mengendalikan penyakit lingkungan, serta mengembangkan teknologi tepat guna sesuai keadaan khusus setempat.

Pemerintah mendorong setiap tingkatan, dari RT/RW, kelurahan/desa, kecamatan, hingga kota/kabupaten untuk mewujudkan lingkungan/kota yang menyehatkan.

Pemerintah harus mendorong dan menginisiasi seluruh pihak untuk bekerja sama dan berbagi pengalaman, pembelajaran, dan sumber daya dalam pengembangan kota sehat dan mempromosikan praktik-praktik terbaik ke kota/kabupaten lain.

Bersama bisa cegah penyebaran virus korona. Hidup sehat di kota sehat sudah bukan pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Baca Juga

Dok. Pribadi

UN, AN/AKM dan Literasi Penilaian

👤Syamsir Alam Divisi Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma 🕔Senin 26 Oktober 2020, 03:05 WIB
DUNIA pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, minggu lalu dikejutkan rencana Kemendikbud untuk meluncurkan kembali penilaian...
Dok.pribadi

Perubahan Iklim dan Perikanan Berkelanjutan

👤Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 16:05 WIB
Mari bersatu padu membangun negeri lewat pengelolaan perikanan...
Dok. Pribadi

Nasib BUMDes dalam UU Cipta Kerja

👤Muhammad Nalar Al Khair | Pengamat Ekonomi PKP Berdikari |OPINI 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 15:15 WIB
Dengan adanya Undang Undang Cipta Kerja ini, permasalahan badan hukum yang sebelumnya  membuat BUMDes sulit berkembang telah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya