Selasa 17 Maret 2020, 17:07 WIB

AS Mulai Percobaan Pertama Vaksin Covid-19 pada Manusia

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
AS Mulai Percobaan Pertama Vaksin Covid-19 pada Manusia

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Ilustrasi - Vaksinasi

 

UJI coba pertama pada manusia untuk mengevaluasi kandidat vaksin terhadap virus korona baru (covid-19) telah dimulai di Seattle, Amerika Serikat. Perkembangan itu disampaikan oleh pejabat kesehatan AS, Senin (16/3).

Namun, dibutuhkan sekitar 12-18 bulan sebelum vaksin tersebut tersedia dan telah melewati lebih banyak fase uji coba untuk membuktikannya berhasil dan aman.

Baca juga: Covid-19 Mewabah di AS, DK PBB Batalkan Pertemuan

Vaksin ini disebut mRNA-1273 dan dikembangkan oleh para ilmuwan dan kolaborator National Institutes of Health (NIH) AS pada perusahaan bioteknologi Moderna, yang berbasis di Cambridge, Massachusetts.

"Uji coba open-label akan melibatkan 45 sukarelawan dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun selama sekitar 6 minggu. Peserta pertama menerima vaksin penyelidikan hari ini," ujar NIH.

Pendanaan juga disediakan oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) yang berbasis di Oslo. Hingga kini, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 175.000 orang di seluruh dunia sejak pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Tiongkok tengah, pada akhir Desember 2019.

Covid-19 telah merenggut 7.000 nyawa, menurut penghitungan AFP, sebagian besar di Tiongkok diikuti oleh Italia.

"Menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2 adalah prioritas kesehatan masyarakat yang mendesak," kata Anthony Fauci, Kepala bidang Penyakit Menular di NIH, menggunakan nama teknis untuk virus yang diyakini berasal dari kelelawar.

"Studi Fase 1 ini, diluncurkan dalam kecepatan rekor, merupakan langkah pertama yang penting untuk mencapai tujuan itu." tandasnya.

Percobaan Seattle akan mempelajari dampak dari dosis yang berbeda yang diberikan oleh injeksi intramuskular di lengan atas. Relawan akan dimonitor untuk menilai efek samping seperti nyeri atau demam.

Virus korona berbentuk bulat dan memiliki duri atau ujung runcing yang menonjol dari permukaannya, sehingga membuat penampakannya seperti mahkota. Duri tersebut mengikat sel manusia, memungkinkan virus untuk masuk.

Perlombaan global

Farmasi-farmasi dan laboratorium penelitian di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan perawatan dan vaksin untuk virus korona.

Sebuah pengobatan antivirus yang disebut remdesivir, yang dibuat oleh Gilead Sciences yang berbasis di AS, sudah dalam tahap akhir uji klinis di Asia dan dokter di Tiongkok telah melaporkan obat itu terbukti efektif dalam memerangi penyakit Covid-19.

Tetapi hanya uji coba secara acak yang memungkinkan para ilmuwan untuk mengetahui dengan pasti apakah itu benar-benar membantu atau apakah pasien pulih tanpa itu.

Satu lagi, farmasi AS bernama Inovio, yang membuat vaksin berbasis DNA, mengatakan akan memasuki uji klinis bulan depan. (AFP/OL-6)

Baca Juga

DOK NU Online

Mufti Damaskus Adnan al-Afyouni Dekat dengan Indonesia

👤Wisnu AS 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 21:00 WIB
Syekh Adnan al-Afyouni pernah mengunjungi Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pertengahan...
AFP/Souleiman

Suriah Hargai Belasungkawa Indonesia atas Tewasnya Mufti Damaskus

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 20:45 WIB
Syekh Al-Afyouni disebutkan sebagai sosok yang membela hak para ulama dalam menghadapi terorisme dan...
AFP/Bartosz Siedlik

Presiden Polandia Dinyatakan Positif Korona

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 19:23 WIB
Meskipun tidak jelas waktu awal terinfeksi, dia sempat menghadiri forum investasi di Tallinn pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya