Selasa 17 Maret 2020, 01:10 WIB

Vonis Mati untuk Pembunuh 19 Orang di Jepang

Vonis Mati untuk Pembunuh 19 Orang di Jepang

Ilustrasi

 

PENGADILAN di Jepang kemarin menjatuhkan hukuman mati dalam kasus seorang pria yang dituduh membunuh 19 penyandang disabilitas dan melukai 26 lainnya di rumah perawatan Tsukui Yamayuri-en pada 2016.

Dalam salah satu pembunuhan massal terburuk di negara itu, sang pelaku, Satoshi Uematsu, tidak membantah keterlibatannya. Pengacaranya mengajukan pembelaan tidak bersalah dengan alasan pria 30 tahun tersebut menderita gangguan mental akibat penggunaan ganja.

Akan tetapi, jaksa penuntut mengata­kan mantan karyawan di fasilitas itu layak memikul tanggung jawab atas serangan di Kota Sagamihara di luar Tokyo itu dan harus dieksekusi karena kejahatannya.

“Tindakannya tidak manusiawi dan tidak ada ruang untuk keringanan hukuman,” kata jaksa penuntut.


Mengejutkan Jepang

Kejadian penusukan itu telah mengejutkan Jepang, negara yang jarang mengalami kejahatan kekerasan.

Perilaku Uematsu di pengadilan, termasuk yang tampaknya mencoba memasukkan sesuatu ke mulutnya, mengganggu proses persidangan pertama pada Januari. Hakim pun memutuskan reses dan kemudian melanjutkan tanpa sang terdakwa.

Dia menghadapi enam dakwaan, termasuk pembunuhan dan dilaporkan mengatakan tidak akan mengajukan banding atas keputusan apa pun yang dijatuhkan pengadilan. Namun, Uematsu juga membela diri dengan alasan ­tindakannya tak pantas dihukum mati.

Uematsu mengatakan dia ingin membasmi semua penyandang disabilitas. Dia menyerahkan diri ke polisi setelah serangan itu dengan membawa pisau berlumuran darah.

Uematsu tidak menunjukkan penyesalan atas serangan itu dan mengatakan kepada harian Mainichi Shimbun bahwa orang-orang dengan cacat mental tidak punya hati dan bagi mereka tidak ada gunanya hidup. “Saya harus melakukannya demi masyarakat,” ujarnya.

Proses pengadilan ini mendapat perhatian warga Jepang. Juru bicara pengadilan mengatakan lebih dari 1.600 orang antre untuk dapat masuk ke ruang sidang yang hanya menyediakan sepuluh kursi.

Jepang telah berusaha memberikan aksesibilitas untuk warganya, termasuk penyandang cacat. Terutama menjelang berlangsungnya Paralympic Games di Tokyo tahun ini. Para aktivis memuji terpilihnya dua anggota parlemen dari kelompok penyandang disabilitas baru-baru ini.

Namun, para kritikus menilai Jepang masih belum sempurna mengintegrasikan penyandang disabilitas dalam kehidupan warga Jepang.  (AFP/Hym/X-11)

Baca Juga

AFP/ATTA KENARE

Iran Laporkan 133 Kematian Baru Covid-19

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 07 April 2020, 18:45 WIB
Iran pada Selasa (7/4) melaporkan 133 kematian baru akibat virus covid-19. Alhasil jumlah total kematian yang dikonfirmasi secara resmi...
AFP/ROSLAN RAHMAN

Singapura Jadi 'Kota Mati' karena Pandemi Covid-19

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 07 April 2020, 18:35 WIB
Distrik bisnis yang biasanya ramai di Singapura nyaris sepi pada Selasa (7/4) karena sebagian besar tempat kerja di negara itu ditutup....
AFP

PM Inggris Harus Dibantu Pasokan Oksigen di ICU

👤Henri Siagian 🕔Selasa 07 April 2020, 18:33 WIB
Meskipun telah menerima oksigen, kantor PM Inggris menyatakan Johnson masih sadar dan dipindahkan ke perawatan intensif jika dia perlu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya