Senin 16 Maret 2020, 18:50 WIB

Deteksi Dini Glaukoma, Cegah Kebutaan

Eni Kartinah | Humaniora
Deteksi Dini Glaukoma, Cegah Kebutaan

Istimewa
Prof dr Widya Artini Wiyogo SpM (K) (kiri), Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

GLAUKOMA masih menjadi salah satu momok penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, tertinggi kedua setelah katarak. Nyaris tak memiliki gejala pada tahap awal, glaukoma justru berpotensi memberi dampak yang lebih fatal, yakni kebutaan permanen. Deteksi dini dan penanganan sejak fase awal menjadi faktor kunci untuk mencegah hilangnya penglihatan akibat glaukoma.

"Bersifat kronis dan membutakan, glaukoma merupakan salah satu penyakit di bidang mata yang berdampak sangat besar terhadap kualitas hidup penyandangnya. Sayangnya, di Indonesia permasalahan glaukoma masih memprihatinkan lantaran penderita seringkali baru mencari pengobatan ketika sudah pada stadium lanjut," papar Prof dr Widya Artini Wiyogo SpM (K), Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dokter Subspesialis Glaukoma, dan Ketua Layanan Glaukoma JEC Eye Hospitals & Clinics, di Jakarta, pekan lalu.

"Penatalaksanaan glaukoma sedini mungkin sangatlah krusial agar progresivitas penyakit ini dapat dikontrol dan kerusakan saraf mata bisa diperlambat sehingga kebutaan pun tercegah,” papar Prof dr Widya Artini Wiyogo SpM (K).

Peningkatan tekanan pada bola mata (intraocular) menjadi faktor risiko utama penyebab glaukoma. Bola mata manusia mengandung cairan (aquos humor) yang berfungsi memberikan nutrisi organ-organ di dalamnya. Cairan ini diproduksi dan dikeluarkan dalam siklus yang seimbang sehingga tekanan intraocular tetap terjaga normal (dengan rentang 10-21 mmHg).

Penderita glaukoma umumnya mengalami ketidakseimbangan daur cairan (terjadi masalah di saluran pengeluaran) yang mengakibatkan naiknya tekanan pada bola mata hingga di atas 21 mmHg

 Apabila berlangsung terus menerus, kerusakan saraf mata tidak dapat terhindarkan yang lambat laun menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga penderita hanya bisa melihat seolah dari lubang kunci, dan akhirnya buta total tanpa bisa disembuhkan. Mengingat gejalanya baru bisa dikeluhkan ketika glaukoma telah berada pada tahapan lanjut, glaukoma dijuluki sebagai ’si pencuri penglihatan’.

“Pendeteksian seawal mungkin menjadi langkah antisipasi. Terlebih mengingat semua orang (dari segala usia) berisiko terserang glaukoma,” imbuh Prof Widya.

Memeringati World Glaucoma Week pad 8-14 Maret 2020, rumah sakit spesialis mata JEC menghadirkan fasilitas JEC Glaucoma Suite. Yaitu, layanan khusus yang komprehensif bagi pasien glaukoma. Layanan ini telah tersedia di JEC @ Menteng, Jakarta.

Operasi Katarak Gratis

Sementara itu, terkait dengan penanggulangan katarak, JEC menjalankan kegiatan Bakti Katarak berupa pemberian tindakan operasi katarak gratis kepada kalangan yang membutuhkan.  Selama 36 tahun kehadirannya, JEC telah secara rutin menjalankan Bakti Katarak dengan keseluruhan tindakan menjangkau lebih dari 3.000 orang dari seluruh Indonesia. (OL-09)

 

Baca Juga

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Hadapi Covid-19, Pengadaan Alat Pelindung Diri Semakin Digenjot

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:27 WIB
Di sisi lain, pemerintah telah melakukan pengadaan 191.666 set APD dan didistribusikan ke seluruh provinsi serta rumah sakit yang...
MI/Susanto

Keputusan Larangan Mudik Tunggu Presiden

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:20 WIB
Berdasarkan Ratas tentang Antisipasi Mudik Lebaran 2020 yang dipimpin Presiden, pemerintah masih akan melakukan kajian dampak ekonomi jika...
Antara/Nyoman Hendra Wibowo

Kriteria Jalur Prestasi dalam PPDB harus Jelas

👤Atikah Iswahyuni 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:10 WIB
Pemerintah dan seluruh pihak terkait harus menetapkan definisi dari prestasi yang dimaksud, apakah akademik atau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya