Senin 16 Maret 2020, 17:31 WIB

Pembunuh 19 Penyandang Disabilitas Hadapi Hukuman Mati

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Pembunuh 19 Penyandang Disabilitas Hadapi Hukuman Mati

AFP
Polisi berjaga di luar Care Centre Tsukui Yamayuri, tempat Satoshi Uematsu, mantan karyawan di fasilitas itu melakukan penikaman massal.

 

Sebuah pengadilan di Jepang menjatuhkan putusan, Senin (16/3), atas seorang pria yang dituduh membunuh 19 orang penyandang disabilitas di sebuah rumah perawatan pada 2016. Peristiwa itu merupakan salah satu pembunuhan massal terburuk di negara itu.

Satoshi Uematsu, mantan karyawan di fasilitas itu, tidak membantah keterlibatannya dalam amukan penusukan mengerikan yang mengejutkan Jepang, negara dengan kejahatan kekerasan jarang terjadi. Dia menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah.

Pengacaranya mengajukan pembelaan tidak bersalah, dengan alasan pria 30 tahun itu menderita 'gangguan mental' terkait dengan penggunaan ganja.

Baca Juga: 19 Penyandang Disabilitas Tewas Dalam Serangan di Jepang

Tetapi jaksa penuntut mengatakan Uematsu layak memikul tanggung jawab atas serangan di pusat Tsukui Yamayuri-en di kota Sagamihara di luar Tokyo dan harus dieksekusi karena kejahatannya.

''Tindakannya tidak manusiawi dan memberikan tidak ada ruang untuk keringanan hukuman," kata jaksa penuntut bulan lalu.

Perilaku Uematsu di pengadilan, termasuk yang tampaknya mencoba memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, mengganggu proses persidangan pertama pada Januari, dengan hakim memutuskan reses dan kemudian melanjutkan tanpa dia.

Dia menghadapi enam dakwaan termasuk pembunuhan dan dia dilaporkan tidak akan mengajukan banding atas keputusan apa pun yang akan dijatuhkan pengadilan. Tapi dia juga membela diri, dengan alasan tindakannya tidak pantas dihukum mati.

Uematsu dilaporkan mengatakan dia ingin membasmi semua orang disabilitas dalam serangan mengerikan yang juga menyebabkan 26 orang lainnya terluka. Dia menyerahkan diri ke polisi setelah serangan itu, membawa pisau berlumuran darah.

Di antara beberapa korban yang diidentifikasi secara terbuka adalah seorang perempuan berusia 19 tahun, Miho, yang ibunya mengatakan di pengadilan bahwa Uematsu, "Tidak membutuhkan masa depan."

"Aku sangat membencimu. Aku ingin mencabik-cabikmu. Bahkan hukuman yang paling ekstrem adalah ringan untukmu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu," kata ibunya, menurut penyiar publik NHK.

"Tolong bawa kembali putriku yang paling berharga. Kamu masih hidup. Ini tidak adil. Itu salah. Saya menuntut hukuman mati," tambahnya.

Uematsu tidak menunjukkan penyesalan atas serangan itu. Dia mengatakan kepada harian Mainichi Shimbun bahwa orang-orang dengan cacat mental tidak punya hati dan bagi mereka 'tidak ada gunanya hidup'.

"Saya harus melakukannya demi masyarakat," ujarnya. (AFP/Hym/OL-10)

Baca Juga

AFP / Aidan JONES

Dilema Para ‘Phim’ dan Ancaman Terinfeksi Virus Korona di Bangkok

👤Deri Dahuri 🕔Minggu 05 April 2020, 14:33 WIB
Kendati diselimuti kekhawatiran terpapar Covid-19, para 'Phim' nekat mencari pelanggan demi uang buat membayar biaya sewa...
AFP/JACK GUEZ

Israel Perketat Lockdown di Bnei Brak

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Minggu 05 April 2020, 12:55 WIB
Mulai Minggu (5/4) pagi, pasukan polisi dan militer memblokade akses ke Route 481, sebuah arteri area metropolitan utama Tel Aviv yang...
AFP/FRANCK FIFE

Renault Siapkan 1.300 Mobil Antar Jemput Tenaga Medis Prancis

👤Antara 🕔Minggu 05 April 2020, 12:15 WIB
Layanan penyediaan mobil listrik ini yang disajikan sejak Februari lalu itu, sedang diadaptasi untuk menawarkan hingga 300 mobil Renault...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya