Selasa 17 Maret 2020, 07:55 WIB

Stabilitas Emosi dan Plus Minus Kerja dari Rumah

Galih Agus Saputra | Weekend
Stabilitas Emosi dan Plus Minus Kerja dari Rumah

Unsplash/ Mimi Thian
Kebebasan bekerja, kurang berdampak baik bagi pegawai dengan stabilitas emosi yang rendah.

SEBAGIAN pegawai mungkin percaya bahwa sistem kerja dari rumah akan sangat mengasyikan. Sebab mereka dapat memperoleh otonomi atau kebebasan, bahkan ada pula yang merasa puas karena dapat bekerja tanpa stres atau tekanan. Akan tetapi, sebuah penelitian dari Baylor University, Waco, Texas, Amerika Serikat ternyata menjelaskan bahwa anggapan tersebut 'belum sepenuhnya benar'.

Penelitian yang ditulis Asisten Profesor Manajemen, Hankamer School of Business, Baylor University, Sara Perry itu pernah terbit di 'European Journal of Work and Organizational Psychology'. Dalam paparannya, Sara mengatakan bahwa tim peneliti mengukur tingkat kemandirian atau otonomi, dan ketegangan (yang didefinisikan sebagai kelelahan, pelepasan hingga ketidakpuasan), serta stabilitas emosi masing-masing peserta.

"Seseorang yang memiliki stabilitas emosi tinggi biasanya akan menghadapi sesuatu dengan tenang. Seseorang yang rendah stabilitasnya mungkin menjadi frustrasi dan putus asa, ia dapat mengeluarkan energi dengan emosi, alih-alih menyelesaikan masalah yang dihadapi," tutur Sara.

Sara selanjutnya menjelaskan bahwa penelitian itu dilakukan terhadap 403 orang pegawai. Hasil penelitian memberi gambaran bahwa, pertama, otonomi sangat penting untuk melindungi kesejahteraan pegawai yang bekerja jarak jauh dan membantu mereka menghindari ketegangan.

Kedua, ada pegawai yang menjelaskan bahwa otonomi dan stabilitas emosi tingkat tinggi dapat membantunya untuk lebih berkembang. Ketiga, ada pula pegawai yang menganggap bahwa stabilitas emosi yang rendah tidak akan mempengaruhi hasil kerja sekalipun ia mendapat otonomi tinggkat tinggi.

Sara mengatakan hasil ini rupanya bertentangan dengan penelitian terdahulu. Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa otonomi merupakan kebutuhan universal yang perlu dimiliki setiap pegawai. Dengan adanya penelitian ini, lanjut Sara, pegawai yang memiliki stabilitas emosi rendah tidak perlu diberi terlalu banyak otonomi.

"Saya menyarankan manajer melihat perilaku pegawainya terlebih dahulu. Maksudnya bukan ciri-ciri kepribadian, tetapi dilihat, misalnya, jika seseorang menangani pekerjaannya dengan baik di kantor, mereka mungkin juga tidak akan sembarangan ketika di rumah, begitu juga sebaliknya," imbuhnya. (M-1)

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

Instagram @cmbynfilm

Timothee Chalamet Akan Bermain di Sekuel "Call Me by Your Name"

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 13:25 WIB
"Call Me by Your Name" masuk nominasi film terbaik Oscar...
 Angela Weiss / AFP

PBB Minta Pemerintah di Seluruh Dunia Lindungi Perempuan

👤Adiyanto 🕔Senin 06 April 2020, 10:25 WIB
Selama beberapa pekan terakhir ketika tekanan ekonomi dan sosial dan ketakutan telah tumbuh,  pihaknya telah menyaksikan lonjakan...
Lionel BONAVENTURE / AFP

YouTube Pantau Video Konspirasi Palsu Teknologi 5G dan Covid-19

👤Adiyanto 🕔Senin 06 April 2020, 10:01 WIB
Setidaknya, tujuh menara seluler telah dibakar di Inggris, setelah teori konspirasi online secara tidak akurat mengklaim hubungan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya