Senin 16 Maret 2020, 04:30 WIB

Berprestasi tanpa Narkoba

(Sru/Tri/J-2) | Fokus
Berprestasi tanpa Narkoba

Dok.MI/BNN

Pemadat tidak lagi memikirkan risiko apa pun, asalkan dapat menikmati serbuk pembawa derita. Kini kenikmatan itu diganjar dengan hidup terkurung di balik terali besi.

NARKOBA berujung gelap mata. Seorang anak, AF, 24, nekat menggadaikan sertifikat tanah milik orangtuanya yang bernilai Rp60 miliar menjadi Rp3,7 miliar ke perusahaan simpan pinjam.

Sertifikat yang digadaikan itu terlebih dahulu dibuatkan ganda oleh sang anak dengan dibantu sindikat pemalsu surat sah agar pemilik tidak curiga. SHM palsu kemudian kembali disimpan ke brankas ayahnya.

Tersangka AF menggunakan uang gadai senilai Rp3,7 miliar itu untuk membeli narkoba dan foya-foya. Sebagian lagi, sebesar Rp40 juta, sebagai uang jasa sindikat pemalsu sertifikat.

"Tersangka mencuri sertifikat tersebut di brankas saat orangtuanya berobat ke Korea," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, pekan lalu.

Dari hasil pengembangan, selain mengamankan AF, polisi juga menciduk enam tersangka sindikat pemalsu surat-surat, di antaranya EN, Y, KS, AS, SW, dan satu lagi dalam perawatan lantaran sakit.

Kombes Yusri menguraikan AF ketergantungan narkoba sejak 2018. Kepergian orangtua ke luar negeri membuatnya nekat mencuri SHM No 2785/Cipete Selatan an HM Ismet Abdullah.

Pemadat seperti AF tidak lagi memikirkan risiko apa pun, asalkan dapat menikmati serbuk pembawa derita. Kini kenikmatan sesaat pemuda tampan dan bertubuh atletis itu diganjar dengan hidup terkurung di balik terali besi. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, mencuri dan memakai narkoba.

Kisah tragis AF juga dijalani Karin. Sudah bermacam-macam narkoba ia cicipi sejak 1997. Ada saja alasan dibuat agar orangtua memberi uang. Jika alasan tak lagi mempan, barang yang ada di rumah dipindahtangankan.

Bagi orang yang mau kembali, selalu terbuka titik balik. Hari itu, pada 2008, Karin yang kini berusia 42 tahun bertemu dengan salah satu anggota BNN Provinsi DKI. Anggota tersebut terus mendekatinya agar mau direhabilitasi.

Beruntunglah Karin yang kemudian sadar dan berani memutuskan untuk kembali ke dunia nyata. Karin akhirnya mau menjalani terapi metadon selama 8 tahun hingga kemudian bebas.

"Sekarang giliran saya berbagi. Saya peduli dengan mereka. Kalau bukan kami, mantan pecandu, siapa lagi yang mau peduli dengan mereka," beber Karin dengan semangat kepada Media Indonesia di Jakarta, Kamis (12/3).

Namun, jalan yang ditemui untuk bisa membebaskan pecandu narkoba tidaklah seperti harapannya. Penolakan demi penolakan diterima. Meskipun demikian, Karin tidak menyerah.

"Tantangan terberatnya ialah menyadarkan mereka yang terus menolak. Dari situ pendekatan kami ubah dengan memberikan motivasi tentang kehidupan serta menjaga kesehatan," tuturnya.

Salah satu hal yang ditakuti para pecandu, khususnya pengguna jarum suntik, ialah tertular virus HIV. Melalui edukasi dampak penggunaan jarum suntik, banyak pecandu yang ia dampingi mau membuka diri untuk rehabilitasi.

Sehat dan normal

Setelah 2 tahun menjadi aktivis, sudah cukup banyak pecandu yang ia bebaskan dari narkoba. Ia sangat bahagia ketika melihat mantan para pecandu itu bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan menjalani kehidupan yang sehat dan normal.

"Saya merasa bahagia saat teman-teman yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri itu berkumpul dan dapat tertawa bersama orang-orang dekatnya. Di situ saya merasa ada rasa penghargaan terhadap diri sendiri yang tak bisa diukur dari apa pun," cetusnya.

Keberhasilannya menjadi aktivis tentunya tak lepas dari peran pembinaan BNN Provinsi DKI Jakarta. "Saat saya masih baru, mereka (BNN DKI) memberikan pembinaan dan motivasi agar saya percaya diri. Saya diedukasi agar memiliki strategi pendekatan terhadap para pecandu," jelas Karin.

Menurutnya, para pecandu narkoba umumnya lebih mendengar jika didampingi mantan pecandu. Ia pun sampai kini terus menjalin komunikasi dengan mantan para pecandu, yang ia dampingi, yang berhasil lepas dari narkoba.

Pendampingan penting guna menjaga agar mantan para pecandu tidak lagi kembali ke dunia kelam. Karin kerap diajak BNN dalam pertemuan dengan komunitas-komunitas milineal di Jakarta. "Ketika saya disebut sebagai orang yang berhasil lepas dari narkoba, ada rasa bangga dan memotivasi saya agar terus konsisten," tukasnya.

Anggota Komisi E DPRD DKI Abdul Azis Muslim sependapat dengan Karin bahwa menyelamatkan lingkungan masyarakat dari narkoba sudah menjadi tanggung jawab bersama.

"Dimulai dari diri sendiri yang kemudian menular kepada keluarga sehingga bisa menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba. Masyarakat jangan apatis," pintanya.

Seperti yang sedang dilakukan Dewan Pengurus Pusat Gerakan Antinarkotika (Granat), semua cabang di seluruh Indonesia digerakkan untuk menyuluh kaum milineal dengan mendatangi sekolah-sekolah.

"Generasi muda lebih berpotensi menyalahgunakan narkoba. Dengan relawan yang ada di setiap daerah, Granat kerap melakukan penyuluhan bahaya narkoba ke sekolah-sekolah," cetus Ketua Umum DPP Granat Henry Yosodiningrat.

Mantan anggota DPR RI itu mengapresiasi kinerja pihak kepolisian sebagai penegak hukum dalam pemberantasan narkoba. Namun, ia meminta Polri semakin meningkatkan upaya pencegahan.

Untuk mencegah peredaran narkoba di tempat hiburan malam, misalnya. Henry mengimbau adanya sinergitas antara Polri, pengelola tempat hiburan malam, dan pemerintah daerah.

Cara Ito Sumardi saat menjabat Kapolwiltabes Surabaya (2001-2003), menurutnya, ampuh untuk meredam peredaran narkoba di tempat hiburan malam.

House music memicu orang menggunakan narkoba agar jogetnya lebih asyik. Jika pemda mensyaratkan boleh memutar lagu house music, hanya lima lagu, konsumsi akan berkurang.

"Pemda dan polisi memonitor. Kalau ada pelanggaran, polisi cabut izin keramaian, pemda cabut izin usaha. Terobosan dari Pak Ito ini efektif mencegah kaum muda mabuk narkoba di Surabaya," papar mantan anggota DPR RI tersebut. (Sru/Tri/J-2)

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

MI/ADAM DWI

Lebih Presisi Diagnosis Penyakit

👤 (Ata/Wan/H-2) 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 01:45 WIB
DENGAN merujuk penelitian Accenture, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu mereduksi human error (kesalahan...
 FOTO: 123RF

Artificial Intelligence Sebuah Keniscayaan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 01:30 WIB
Pesatnya kemajuan teknologi era revolusi industri 4.0 yang mengelaborasikan teknologi siber dan teknologi otomatisasi berlandaskan pada...
DOK DIKTI KEMENDIKBUD

Seperti Naik di Pundak Raksasa

👤 Syarief Oebaidillah 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 01:15 WIB
PEMERINTAH melalui Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Konsorsium Riset Artificial...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya