Sabtu 14 Maret 2020, 07:48 WIB

Bahaya Bencana-Bencana Susulan

Dosen Luar Biasa Prodi Jurnalistik Fikom Unpad S Sahala Tua Saragih | Opini
Bahaya Bencana-Bencana Susulan

Dok UNPAD
Dosen Luar Biasa Prodi Jurnalistik Fikom Unpad S Sahala Tua Saragih

“YANG membuat kami lebih menderita dan sakit hati bukanlah ke- matian dan penderitaan akibat gempa bumi dan tsunami itu sendiri. Penderitaan itu masih bisa kami tahan, bahkan ada kekuatan dan solidaritas yang luar biasa yang kami alami. Namun, yang membuat kami putus asa ialah ‘bencana susulan’: perebutan bantuan yang didistribusi secara tidak adil, korupsi, orang-orang yang mencari keuntungan dari penderitaaan kami. Banyak kelompok yang mengatasnamakan korban bencana demi kepentingan mereka sendiri. Mereka menjadi ‘pahlawan’ dan kami hanya menjadi objek, sebuah angka dalam proposal proyek, didegradasi martabatnya sebagai manusia.” Demikian pernyataan seorang peserta konsultasi teologi bencana dalam sebuah diskusi kelompok (Teologi Bencana, Pergumulan Iman dalam Konteks Bencana Alam dan Bencana Sosial, 2019).

Pernyataan yang sangat lirih dari korban bencana alam (gempa bumi dan tsunami) yang mahadahsyat di Aceh pada 26 Desember 2004 itu menggugah kembali ingatan kita tentang berbagai perilaku buruk orang Indonesia pada 2005 dan tahuntahun berikutnya.

Pada 2005, mengalir deras sumbangan uang dari puluhan negara sahabat melalui pemerintah pusat. Jumlahnya sampai ratusan miliar rupiah. Namun, banyak oknum pejabat yang mengorupsi sumbangan itu. Mereka menari-nari di atas kurang-lebih 200 ribu mayat yang bergelimpangan di Aceh.

Sebuah majalah berita pernah membuat laporan khusus tentang korupsi sumbangan bagi korban bencana alam akbar itu. Sayangnya, tak ada koruptornya yang dihukum.

Sejak awal Januari 2005, di berbagai kota bermunculan berbagai lembaga yang sangat gesit mengumpulkan sumbangan (sebagian besar uang) dari masyarakat. Di kampus-kampus pun bermunculan lembaga-lembaga dadakan yang sangat sibuk mengumpulkan sumbangan uang dari para dosen, mahasiswa, dan masyarakat yang berlalu dari depan kampuskampus. Berbagai perusahaan media massa juga sangat aktif mengumpulkan banyak sumbangan.

Ketika itu, banyak pengumpul sumbangan yang menari-nari di atas mayat-mayat yang bergelimpangan dan tenggelam di Aceh. Mereka sangat tak bermoral dan beradab. Anehnya, pemerintah pusat dan daerah waktu itu tak pernah mengontrol para pengumpul sumbangan. Para akuntan publik pun tak pernah dilibatkan pemerintah untuk mengaudit semua sumbangan yang dikumpulkan berbagai pihak.

Inilah salah satu ‘bencana susulan’ yang terjadi pada masa itu, yang secara moral dan sosial sesungguhnya jauh lebih parah daripada bencana pertama (gempa bumi dan tsunami).

‘Bencana susulan’ kini

Berikut ini dapat kita simak wujud ‘bencana-bencana susulan’ setelah terjadi bencana kesehatan bernama virus korona baru (covid-19). Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3) akhirnya mengungkapkan ada dua orang, ibu dan anak, positif menderita penyakit covid-19.

Mereka dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. covid-19 semula hanya bencana kesehatan di Tiongkok. Kemudian virus korona baru itu telah menjalar ke berbagai nagara Asia. Kini covid-19 sudah menjadi bencana kesehatan sejagat (dunia).

Tak lama setelah pengumuman presiden itu, banyak orang berduit di Jakarta dan kotakota besar lain dilanda kalap berbelanja. Mereka membeli sebanyak-banyaknya bahan pokok (beras, minyak goreng, gula, dan mi instan).

Tentu saja harga berbagai kebutuhan pokok tiba-tiba meroket di berbagai tempat. Bahkan, ada pula pedagang melambungkan harga jahe merah, kunyit, dan temulawak setelah ada ilmuwan yang mengatakan ketiga hasil pertanian itu ampuh mencegah virus korona.

Lalu bermunculanlah orang-orang yang aji mumpung untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memeras orang-orang yang sedang dilanda penyakit, terutama penyakit psikologis (dilanda ketakutan yang berlebihan atau paranoid). Padahal, Presiden Jokowi dan para pejabat pemerintah lainnya sudah menyatakan persediaan masker dan bahan pokok lebih daripada cukup. Jadi, tak perlu perlu kalap berbelanja, main borong masker dan barang kebutuhan pokok sehari-hari.

Fenomena yang paling parah ialah bermunculannya orang-orang yang sangat tak berperikemanusiaan. Mereka memborong masker sebanyakbanyaknya, lalu menimbunnya. Kemudian, dijual secara langsung dan daring dengan harga yang sangat mahal.

Perilaku buruk lainnya ditunjukkan orang-orang berduit yang memborong masker (tidak untuk dijual). Padahal, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kemenkes, dan para dokter sudah berkali-kali menegaskan bahwa orang sehat tak perlu (butuh) masker. Akibatnya, banyak orang sakit (bukan covid-19) yang rutin menggunakan masker menjadi korban kekalapan mereka.

Banyak orang sakit, terutama penderita kanker, membutuhkan banyak masker. Sekali empat jam mereka mesti mengganti masker. Pasti penderitaan orang-orang sakit, terutama kaum miskin, semakin parah, baik secara biologis maupun psikologis.

Adapun perilaku yang paling parah di beberapa kota, Polri menangkap para pedagang masker bekas. Tentu saja masker itu tak layak pakai, bahkan bisa menularkan virus. ‘bencana-bencana susulan’ ini jauh lebih parah daripada bencana pertama (krisis kesehatan).

Memang, Presiden telah memerintahkan Polri agar segera menindak tegas para penimbun barang, terutama masker, karena mereka melanggar hukum. Menurut Pasal 29 UU No 7/2014 tentang Perdagangan, pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas perdagangan barang, dihukum pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp50 miliar (Media Indonesia,4/3/2020).

Pembuatan ‘bencana-bencana susulan’ itu tergolong kejahatan kemanusiaan. Para pelakunya sangat tak manusiawi, tidak bermoral dan beradab. Oleh karena itu, mereka mesti dihukum berat.

‘Bencana susulan’ lainnya berupa berita-berita bohong (hoaks) tentang covid-19 di berbagai media massa dan media sosial. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, sejak 23 Januari-8 Maret lalu ada 177 hoaks tentang covid-19 yang beredar di Indonesia (liputan6.com, 9-3-2020).

Berita-berita bohong itu niscaya bisa meneror banyak orang, bisa membuat sangat stress, bahkan takut berlebihan (paranoid). ‘Bencana susulan’ ini juga jauh lebih parah daripada bencana pertama.

Ada pula pembuat ‘bencana susulan’ lainnya. Di negeri yang warganya sangat tekun beragama ini bermunculan ‘hakim-hakim moral dan rohani’. Mereka menghakimi para penderita covid-19 di Tiongkok. Menurut mereka, bencana kesehatan itu terjadi gara-gara dosa bangsa itu. Lalu sekarang, apakah para penderita covid-19 di Indonesia juga karena dosa bangsa kita?

Kini para rohaniwan semua agama perlu berenung mendalam. Apa yang telah mereka lakukan selama ini terhadap umat masing-masing? Apakah mereka telah sungguh-sungguh mendidik dan mengajar umat masing-masing agar menjadi manusia yang manusiawi, berperikemanusiaan, yang mau dan mampu berbelaskasihan, bersimpati, serta berempati terhadap orang-orang yang sedang dilanda bencana?

Ini juga pertanyaan reflektif bagi semua orangtua, guru, dosen, dan pengelola media massa. Umat beragama di negeri ini mesti dididik dan diajar agar tidak menjadi manusia yang ‘madut’ (mata duitan), yang mempertuhankan uang atau diperhamba uang.

Baca Juga

Antara

Pandemi Covid-19 dan Kesadaran Kolektif

👤Riris Andono Ahmad, Direktur Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM, Satgas Covid-19 UGM 🕔Senin 06 April 2020, 06:45 WIB
Pandemi kepanikan itu jauh lebih cepat menyebar jika dibandingkan dengan pandemi penyakitnya itu...
MI

Menggugah Kesadaran Umum

👤Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 06 April 2020, 05:13 WIB
Kesadaran umum akan badan yang sehat dan pentingnya kekebalan tubuh meningkat. Vitamin C dan E habis di pasar. Orang rajin berjemur untuk...
MI/SUMARYANTO

Nasihat untuk Luhut Pandjaitan dan Said Didu 

👤Laode Ida, Anggota Ombudsman RI 🕔Minggu 05 April 2020, 11:49 WIB
Situasi itu sebenarnya biasa saja dalam negara demokrasi. Apalagi, di dalam negara yang masyarakat heterogen seperti...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya