Sabtu 14 Maret 2020, 07:30 WIB

Waspadai Pengaruh Habitus Kekerasan di Era Digital

Dosen Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Universitas Airlangga Rahma Sugihartati | Opini
Waspadai Pengaruh Habitus Kekerasan di Era Digital

Dok UNAIR
Dosen Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Universitas Airlangga Rahma Sugihartati

TINDAK kekerasan yang terjadi dan dilakukan anak di bawah umur cenderung makin meresahkan. Seorang remaja berusia 15 tahun, NF, tega membunuh bocah berusia 6 tahun, tetang ganya sendiri, tanpa alasan apa pun.

Tindak kekerasan yang dilakukan NF di kawasan Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, menambah daftar panjang tindak kekerasan yang dilakukan anak-anak.

Sebelumnya, kasus pembunuhan juga dilakukan sekelompok anak-anak. Seorang pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cibadak dilaporkan tewas.

Pelajar yang diketahui sebagai suporter klub futsal di sekolahnya itu dikeroyok 7 orang pelajar yang berasal dari sekolah lain.

Kasus perundungan dan tindak kekerasan yang dilakukan anak-anak itu hanyalah puncak gunung es. Diperkirakan masih banyak tindakan kekerasan lain yang tidak terekspose ke publik karena korban tidak berani melapor atau karena sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Tindak kekerasan yang dilakukan anak-anak kini cenderung makin sadis dan meresahkan.

Habitus kekerasan

Tindak kekerasan yang dilakukan NF dan anak-anak lain biasanya memang dipicu faktor yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang ditengarai kerap menstimulasi anak melakukan tindak kekerasan ialah pengaruh perkembangan teknologi informasi, fi lm, dan media sosial yang makin masif dan tidak terkontrol.

NF, misalnya, tega membunuh tetangganya sendiri karena terinspirasi hobinya menonton film horor. NF gemar menonton film Chucky dan The Slender Man. Film-film horor yang menceritakan tindakan pembunuhan yang kejam, alih-alih membuat tidak nyaman, justru dalam kenyataan menjadi ilham bagi NF untuk melakukan hal yang sama.

Di era masyarakat digital, kehadiran teknologi informasi dan internet memang menawarkan berbagai informasi baru, termasuk tindak kekerasan kepada anak-anak.

Dunia maya yang tanpa batas, sering kali menawarkan pengaruh buruk tindak kekerasan kepada anak. Itu karena bagi anak-anak di era milenial, dunia maya merupakan habitus sosial baru yang memengaruhi perkembangan sosial-psikologis anak dengan kuat.

Pierre Bourdieu, seorang teoritisi post-strukturalis, dalam bukunya Outline of a Theory of Practice (1972) menyatakan bagaimana perilaku seseorang dipengaruhi aturan main dalam arena yang mana seseorang berada serta habitus yang dimiliki.

Habitus ialah konsep yang dipergunakan Bourdieu untuk menjelaskan disposisi perilaku menubuh (embodied) yang berkembang dan dikonstruksi oleh norma, nilai, dan kebiasaan melalui pengasuhan dan pendidikan. Termasuk, kehadiran habitus baru di dunia digital. Cara kita berbicara, melampiaskan emosi, marah, cara berpikir atau bersikap, semua ditentukan habitus yang mana kita tumbuh dan berkembang.

Seorang anak yang tumbuh di lingkungan digital yang banyak menawarkan gambar, film atau video kekerasan, jangan heran jika mereka kemudian terbiasa menghalalkan cara-cara untuk mengekspresikan emosinya. Di rumah, di sekolah, atau di mana pun, bukan tidak mungkin habitus kekerasan berkembang dan menjadi disposisi--yang sering kali dilakukan secara spontan atau tanpa sadar oleh para pelaku aksi kekerasan.

Berbagai praktik kekerasan yang dilakukan anak-anak, termasuk di dalamnya tindak pembunuhan yang sadis, boleh jadi ialah implikasi dari perkembangan habitus kekerasan sebagaimana dikatakan Bourdieu.

Seorang anak yang setiap hari mengakses dan mengonsumsi video-video atau film yang sarat dengan konten kekerasan, cepat atau lambat, niscaya akan terpengaruh. Bagi anak-anak yang secara psikologis bermasalah atau memiliki indikasi psikopat, bukan tidak mungkin mereka kemudian mempraktikkan apa yang dilihat di dunia nyata.

Mencegah

Untuk mencegah agar habitus kekerasan tidak terus berkembang di kalangan anakanak, ada banyak agenda yang semestinya menjadi fokus perhatian guru, para orangtua dan masyarakat. Pertama, bagaimana memutus mata rantai habitus kekerasan dengan cara mengembangkan counter culture yang lebih menekan arti penting perdamaian dan keserasian sosial.

Iklim pendidikan di sekolah yang selama ini lebih menekankan persaingan atau kompetisi di kalangan sesama siswa, misalnya, perlu diredifinisikan dan dialihkan pada hal-hal yang lebih berorientasi pada hubungan kerja sama, kohesi sosial, dan keserasian antarsiswa. Subkultur anak-anak marginal yang condong menghalalkan perilaku menyimpang, termasuk tindak kekerasan, perlu dicounter dengan sosialisasi perilaku yang senang bersahabat.

Kedua, bagaimana mengembangkan partisipasi anak-anak sebagai pionir untuk memonitor suasana pertemanan. Sekaligus menjadi watchdog terhadap apa-apa saja yang terjadi dan dialami teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan sosial mereka tinggal.

Anak-anak di sini perlu dididik untuk berani bersuara menyampaikan hal-hal yang menyimpang di sekitarnya tanpa harus merasa terancam keselamatannya. Jaminan dari guru dan masyarakat benar-benar harus kuat untuk memastikan anak berani melaporkan bila ada temannya yang menjadi korban tindak kekerasan.

Ketiga, mendorong tumbuhnya literasi informasi di kalangan anak-anak agar mereka tidak mudah termakan isu atau contoh tindak kekerasan yang banyak berseliweran di dunia maya.

Dengan gadget yang dimiliki, anak dapat mengakses informasi apa pun tanpa batas. Tanpa didasari pengetahuan dan literasi yang memadai, jangan kaget jika anak-anak kita rawan terjerumus mencontoh perilaku yang keliru dari film atau informasi yang mereka akses dari dunia maya.

Tindak kekerasan dan bahkan kasus pembunuhan sadis yang terjadi dan belakangan ini makin marak sebetulnya bukan hal baru. Kasus seperti ini sudah puluhan tahun terjadi tanpa ada penanganan yang benar-benar serius.

Sudah waktunya, bagi sekolah, orangtua, dan masyarakat, untuk ambil bagian dan mencegah tindakan habitus kekerasan agar tidak makin marak–-yang berisiko melahirkan anak yang terbiasa melakukan tindak kekerasan dan berperilaku menyimpang.

Baca Juga

MI/ROMMY PUJIANTO

Pengaruh Cuaca dan Iklim terhadap Penyebaran Covid 19

👤Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Tim Mikrobiologi UGM 🕔Rabu 08 April 2020, 07:25 WIB
Uniknya, di Tiongkok sebagai negara asal covid-19, kasusnya semakin...
ANTARA/Agus Bebeng/Medcom.id

Jeda Korona

👤Yudi Latif, Cendekiawan 🕔Rabu 08 April 2020, 04:55 WIB
Bisa kita saksikan, saling tuding sesama warga masih berkobar saat solidaritas diperlukan. Saling bantah sesama pejabat masih tergelar saat...
Dok. Pribadi

Esensi Korona dan Spiritualitas Milenial

👤Dimas Oky Nugroho Doktor Antropologi Politik UNSW Sydney, Koordinator Perkumpulan Kader Bangsa 🕔Selasa 07 April 2020, 07:40 WIB
Era milenial, eranya kaum muda yang tumbuh seiring dengan perkembangan era...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya