Jumat 13 Maret 2020, 20:58 WIB

Tujuh Profesor Menari di Hadapan Paku Alam X

Rosmery Sihombing | Humaniora
Tujuh Profesor Menari di Hadapan Paku Alam X

Istimewa
Para penari profesor sedang membawakan tarian Jawa tradisional Beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX.

 

TUJUH profesor menyuguhkan tarian Jawa “Beksan Pitutur Jati” di hadapan KGPAA Paku Alam X dan ratusan tamu undangan yang hadir pada Tingalan Wiyosan Dalem atau Peringatan Ultah ke- 59 Wagub DIY itu di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, Jumat (13/3).

Ketujuh guru besar yang menarikan beksan ciptaan almarhum Paku Alam IX itu adalah Prof Dr Y Sumandiyo Hadi dan Prof Dr Dr I Wayan Dana (ISI Yogyakarta), Prof Dr Djazuli (UNNES Semarang), Prof Dr Sri Rochana Widyastutieningrum dan Prof Dr Nanik Sri Prihatini (ISI Surakarta), serta Prof Dra Indah Susilowati dan Prof Dr Ir Erni Setyowati (UNDIP Semarang).

Selama seperempat jam, para penari sepuh itu menunjukkan kepiawaiannya dalam membawakan Beksan Pitutur Jati. Pitutur sendiri berarti ajaran atau nasehat, sedangkan jati berarti bersungguh-sungguh. Sehinggga Pitutur Jati, dapat dimaknai sebagai ajaran tentang kesungguhan, hati, sikap dan perilaku.  

Inti dari beksan Pitutur Jati, menurut  KRT. Radyo Wisroyo, humas tingalan wiyosan dalem itu, adalah pemberian nasehat kepada generasi muda untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kebaikan, kesahajaan, tata krama dan kerendahan hati yang diajarkan leluhur.  Supaya generasi muda tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Tarian ini, lanjut dia, juga menggambarkan kerukunan,  keselarasan, keseimbangan, keserasian, dan sikap saling menghormati. Yang direpresentasikan oleh adanya penari laki-laki dan perempuan menari beriringan satu sama lain.

Prof Wayan, salah satu penari yang membawakan beksan tersebut mengartikan,  melalui  beksan Pitutur Jati ciptaan Paku Alam IX ini dimaksudkan agar pemimpin mau mendengar keluh-kesah rakyatnya. “Jangan maunya yang di atas saja, tapi mau mendengarkan pula keluh-kesah dan informasi masyarakat perkotaan maupun perdesaan,” harap  pengajar ISI Yogyakarta ini.

Beksan ini sudah untuk kedua kalinya dibawakan Prof Wayan. “Dulu, lima-enam tahun lalu saya juga pernah membawakan Beksan Pitutur jati di sini, ketika acara Paku Alam IX,” kenang  dia.. Kenapa beksan ini harus dibawakan oleh penari yang bergelar profesor? Menurutnya, paling pantas memberikan suatu teladan atau ajaran kepada mahasiswa dan masyarakat adalah seorang maha guru. “Kami profesor ’kan maha guru,” sebutnya.

Penampilan ketujuh  penari sepuh membawakan beksan ini memukau para tamu undangan dari belasan kerajaan daerah lain. Mereka tepuk tangan gemuruh, usai tarian Beksan Pitutur Jati ini disuguhkan.  Paduka Paku Alam X disertai permaisurinya menyalami satu persatu para penari gaek itu, begitu mereka selesai pentas. (RO/OL-4)

Baca Juga

Dok Bandara YIA Operasional

15 Bandara PT Angkasa Pura I Terapkan Protokol Kesehatan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 21:00 WIB
Tidak perlu ada kekhawatiran dipastikan setelah manajemen telah melakukan protokol kesehatan di seluruh bandara yang...
MI/Susanto

Kemenhub Berupaya Sektor Transportasi tidak jadi Klaster Baru

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 20:00 WIB
Menhub melihat kecenderungan masyarakat untuk melakukan perjalanan menggunakan semua jenis transportasi akan meningkat pada libur panjang...
DOK MI

Bioskop Dibuka Kembali, Ini Rekomendasi PDIB

👤Widhoroso 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 19:45 WIB
Apabila ditemukan terjadi pelanggaran terhadap aturan protokol kesehatan yang berlaku maka harus diberikan sanksi secara tegas kepada pihak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya