Jumat 13 Maret 2020, 17:49 WIB

Imam Besar Istiqlal: Pandemi Korona Bukan Azab

Antara | Humaniora
Imam Besar Istiqlal: Pandemi Korona Bukan Azab

Dok.MI
Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar

 

IMAM Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar menegaskan bahwa penyakit saluran pernafasan yang disebabkan virus corona jenis baru (COVID-19) bukanlah azab dari Tuhan.

"Tapi satu poin yang ingin saya garis bawahi bahwa virus ini tidak ada kaitannya dengan kebijakan, jangan dipolitisir lah. Saya ingin mengatakan bahwa dalam hadist Nabi, azab sudah tidak ada lagi setelah doa Rasulullah dikabulkan," kata Nazaruddin Umar seusai menemani Presiden Jokowi melihat penyemprotan disinfektan di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat.

Pembersihan dimulai sekitar pukul 09.10 WIB di ruang shalat utama masjid. Sekitar 15 orang petugas pembersihan merupakan gabungan dari PMI, TNI dan pihak kepolisian yang seluruhnya menggunakan baju pelindung.

Baca juga: Soal Antisipasi Korona, Ombudsman DKI: MRT Paling Siap

Presiden Jokowi melihat pembersihan itu didampingi Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Erick Thohir serta Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar.

"Yang muncul nanti musibah dan bala. Dalam Al-Quran ada musibah, ada bala, ada azab. Azab sudah tidak ada lagi, yang ada hanya musibah. Kalau azab hanya menimpa orang kafir, tidak menimpa orang beriman. tapi kalau musibah, dua-duanya kena, siapa yang lengah, kena, sama dengan bala," tambah Nazaruddin.

Artinya, Nazaruddin meminta agar umat Muslim tidak menilai bahwa penyebaran COVID-19 sebagai suatu azab.

"Definisi azab dalam Al-Quran diciptakan kepada umat terdahulu. Doa Rasulullah inilah yang kita bersyukur kepada Nabi, tidak akan ditimpakan azab lagi kepada umat, Ini ada hadistnya," tegas Nazaruddin.

Untuk menghadapi mewabahnya COVID-19, menurut Nazaruddin, bukan hanya membutuhkan daya tahan fisik, tapi juga daya tahan batin dan mental.

"Daya tahan fisik, daya tahan batin dan daya tahan mental ketiga konsep daya tahan ini akan kita terapkan. Bagaimana Nabi mencegah penyakit menular, bagaimana Nabi mencegah epidemi pandemi, bagaimana Al Quran memperkenalkan kasus-kasus yang melanda umat sebelumnya," ungkap Nazaruddin.

Untuk menjaga daya tahan fisik, Nazaruddin mengimbau jamaah yang berkunjung ke MasjidIstiqlal membawa persiapan pribadi.

"Kami imbau kepada seluruh jemaah Masjid Istiqlal untuk membawa persiapan lain karena kita tidak siapkan karpet, mungkin bawa sajadah masing-masing. Pada saat buka puasa kami akan siapkan, biasanya 3000-4000 orang yang berbuka puasa di sini," tambah Nazaruddin.

Persiapan lain adalah untuk pelaksanaan tarawih pada bulan Ramadhan.

"In syaa Allah di bawah kontrol pihak terkait nanti ada itikaf. Tiga tahun terakhir lebih banyak yang datang dibanding tarawih, in syaa Allah kami antisipasi. 10 hari terakhir Ramadhan mudah-mudahan tidak akan ada kejadian istimewa. In syaa Allah Istiqlal dan masjid lain bisa aman," ungkap Nazaruddin.(OL-4)

Baca Juga

ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA

​​​​​​​Seruan Paskah, Kemenag Ajak Gereja Muliakan Kehidupan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 09 April 2020, 15:17 WIB
Kemenag telah mengeluarkan imbauan agar umat Kristen melaksanakan ibadah di rumah dengan memanfaatkan tekhnologi informasi atau...
MI/Mohamad Irfan

Istana: Revisi Perpres BPJS Kesehatan Masih Dibahas Kementerian

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 09 April 2020, 15:03 WIB
Landasan hukum yang baru dibutuhkan, menyusul keputusan Mahkamah Agung terkait pembatalan kenaikan iuran BPJS...
Ilustrasi

MUI Dukung Gelar Istihotsah dan Zikir Nasional

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 09 April 2020, 14:54 WIB
Majelis Ulama Indonesia ( MUI) mendukung penyelenggaraan kegiatan Istighotsah dan Zikir Nasional untuk memohon doa kepada Allah SWT dalam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya