Kamis 12 Maret 2020, 20:44 WIB

Ini 5 Hal seputar Daun Kratom yang Laku Diekspor

Thomas Harming Suwarta | Humaniora
Ini 5 Hal seputar Daun Kratom yang Laku Diekspor

AFP
Daun kratom di perkebunan di Pontianak, Kalimantan Barat.

 

BADAN Narkotika Nasional (BNN) telah menyatakan kratom sebagai zat narkotika dan karena itu dilarang untuk digunakan.

Dari hasil penelitian BNN, tanaman yang banyak dibudidayakan di wilayah Kalimantan dan menjadi obat tradsional tersebut pada dosis rendah memiliki efek stimulan Susunan Saraf Pusat (SSP) seperti kokain, dan pada dosis tinggi menunjukkan efek depresan SSP seperti opium.

Baca juga: Polres Belitung Amankan 11,5 Kg Serbuk Tanaman Kratom

Berikut adalah paparan hasil kajian singkat kratom yang dilakukan oleh Pusat Laboratorium Narkotika BNN yang dikeluarkan di Jakarta, 6 September 2019.

1. Apa itu kratom?

Kratom atau dalam bahasa latinnya Mitragyna speciosa (Korth) Havil. Tumbuhan ini awalnya merupakan tumbuhan liar yang mudah tumbuh di beberapa negara tropis dari suku Rubiaceae yang berasal dari Asia Tenggara (Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Vietnam) dan Papua Nugini.
Tanaman ini memiliki sejumlah nama lokal seperti kratom, ketum, biak-biak, maupun purik.

2. Di mana tanaman ini banyak tumbuh?

A. Di Indonesia tumbuhan ini banyak tumbuh di Kalimantan.

Kini, produk berbahan kratom banyak tersedia di Amerika Serikat dan Eropa dan dijual secara masif melalui media online dan disalahgunakan dalam bentuk serbuk, teh herbal, atau hasil ekstrak (bentuk cairan).

B. Digunakan oleh pengobat tradisional.

Di Kalimantan, kratom banyak digunakan oleh pengobat tradisional, tanpa menyadari kratom dapat berefek serupa dengan narkotika.

C. Ditanam untuk diekspor

Petani sengaja menanam kratom untuk diekspor ke luar negeri karena harganya cukup mahal dan mereka banyak yang beralih fungsi dari petani karet dan sawit menjadi petani kratom karena harga karet dan sawit yang jatuh. Hal ini juga sejalan dengan krisis ketersediaan opiat di Amerika Serikat. Warga AS banyak yang beralih ke kratom karena memilki efek yang sama dengan opiat. Sehingga mereka sengaja datang ke Kalimantan Barat untuk mencari kratom. Bahkan ada kasus warga negara AS meninggal karena injeksi kratom ke tubuhnya namun kasus ini tidak terpublikasi dan ditutupi oleh warga setempat.

Baca juga: Daun Dolar Kratom

4. Regulasi.

A. ASEAN

Hasil pembahasan sidang harmonisasi ASEAN di bidang Obat Tradisional dan Suplemen Makanan di tingkat ASEAN menggolongkan kratom sebagai tumbuhan yang dilarang untuk seluruh bagian tumbuhan karena dapat memberikan efek ketergantungan, euforia, halusinasi, narkotika, toksisitas terhadap sistem saraf sehingga berpotensi untuk disalahgunakan.

B. Thailand

Pengesahan Kratom Act pada 1943 membuat penanaman pohon kratom di Thailand ilegal.

Pada 1979 kratom dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika Thailand (schedule 5) bersama dengan ganja dan jamur sehingga ilegal untuk diperjualbelikan, ditanam, maupun dipanen.

C. Amerika Serikat (AS).

Belum ada keputusan final Drug Enforcement Administration (DEA) mengenai status kratom.

Enam negara bagian seperti Alabama, Arkansas, Indiana, Tennessee, Vermont, dan Winconsin melarang penggunaan kratom.

D. Australia

Australia melarang kratom dalam Poisons Standard February 2017.

E. Jerman

Kratom dan senyawa yang terkandung dalam kratom tidak termasuk yang diatur dalam Undang-Undang Narkotik yang sempat diamendemen pada 16 Juni 2017.

F. Indonesia.

Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mengindikasikan kratom ke dalam kelompok New Psychoactive Substances (NPS). Komite Nasional Perubahan Penggolongan Narkotika dan Psikotropika juga telah memutuskan kratom sebagai narkotika Golongan 1 tetapi kratom masih bebas ditanam dan diperjualbelikan.

Baca juga: Daniel Johan Dukung Penelitian Kratom

5. Efek kratom

Kratom memberikan efek euforia cepat dan berakhir setelah 1 jam. Penghentian konsumsi kratom dapat memberikan gejala putus obat. Gejala yang ditimbulkan dari putus obat adalah mual, insomnia, palpitasi, hilang selera makan, irritabilitas, gelisah, perubahan mood, diare, rhinorrhea, myalgia dan arthralgia, tremor.

Overdosis kratom memberikan gejala kejang-kejang, palpitasi, hipertensi, psikosis, koma, halusinasi, paranoid, muntah berat, depresi pernafasan dan kematian.

Penggunaan kratom dalam waktu lama dapat menyebabkan adiksi, berat badan menurun, anoreksia, hilang libido, hiperpigmentasi pada wajah dan pipi. (X-15)

Efek penggunaan kratom

Penggunaan

Efek
Singkat             Mual, sulit buang air besar, gangguan tidur, disfungsi seksual temporer, gatal-gatal,  
Lama             Anoreksia, mulut kering, diuresis, kulit lebih gelap, rambut rontok, adiksi, toleransi
Jarang                 kejang-kejang (dosis tinggi, dosis tunggal atau dikombinasikan dengan obat lain), intrahepatic cholestasis, psikosis, gangguan pernafasan, penyakit hipotiroid

Sumber: Pusat Laboratorium Narkotika BNN

Efek toksik jika kratom dicampur

Campuran Efek
Modafinil     Kejang
Profilheksedrin             Kematian
O-destramadol  Kematian

Sumber: Pusat Laboratorium Narkotika BNN

 

Baca Juga

ANTARA/AHMAD SUBAIDI

Demam Berdarah masih Harus Diwaspadai

👤Media Indonesia 🕔Rabu 01 April 2020, 02:30 WIB
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada pandemi covid-19, tapi juga tetap mewaspadai ancaman...
ANTARA/Arif Firmansyah

Langka, Penyandang Disabilitas Produksi Masker

👤Media Indonesia 🕔Rabu 01 April 2020, 01:00 WIB
Para penyandang disabilitas penerima manfaat (PM) di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Wirajaya, Makassar,...
ANTARA /HARVIYAN PERDANA PUTRA

Dorong Keterbukaan untuk Putus Mata Rantai

👤Atikah Ishmah Wahyu 🕔Rabu 01 April 2020, 00:30 WIB
Keterbukaan informasi pasien positif covid-19 dapat berguna untuk meningkatkan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya