Kamis 12 Maret 2020, 13:12 WIB

GLZoo Terus Kembangkan Fungsi Konservasi

Agus Utantoro | Nusantara
GLZoo Terus Kembangkan Fungsi Konservasi

MI/Agus Utantoro
Orangutan di GLZoo Yogyakarta berhasil dibreeding dan melahirkan bayi orangutan bernama Hope tahun lalu.

 

GLZOO Yogyakarta, selain menjadi destinasi wisata unggulan, juga menjadi lembaga konservasi. Manajer Konservasi GLZoo (Kebun Binatang Gembira Loka) Yogyakarta, Josephine Vanda Tirtayani menjelaskan, salah satu keberhasilan GLZoo sebagai lembaga konservasi adalah keberhasilan pengembangbiakan (breeding) orangutan Kalimantan.

"Kami kini memiliki bayi orangutan berusia satu tahun. Bayi orangutan ini lahir dari betina Moly dengan pejantan Popo," ujar Vanda, Kamis (12/3).

Ia menjelaskan, bayi orangutan yang diberi nama Hope ini, lahir pada 11 Maret tahun lalu, dan saat ini masih dalam pengasuhan induknya. Vanda menjelaskan, Hope bukan satu-satunya anakan orangutan yang lahir di GLZoo Yogyakarta. Sebab sebelumnya juga sudah pernah terjadi kelahiran bayi orangutan. Vanda menegaskan, dalam  tiga tahun terakhir GLZoo meningkatkan perawatan satwa koleksinya lebih intensif khususnya satwa langka yang dilindungi keberadaannya, termasuk orangutan ini.

Ia menambahkan, sehari sebelumnya, GLZoo menggelar kegiatan peringatan ulang tahun yang pertama bagi bayi orangutan, Hope. Menurut dia, ulang tahun ini sengaja dirayakan sebagai upaya promosi dan kampanye terhadap perlindungan satwa langka termasuk orangutan.

"Sampai sekarang ancaman keselamatan dan kepunahan  orangutan masih tinggi," jelasnya.

Meski diakui breeding bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan  GLZoo sebagai lembaga konservasi dianggap cukup berhasil dalam breeding.

"Yang jadi tolok ukur dan amat penting adalah merawat dan menyejahterakan satwanya," tandas dia.

baca juga: Kejari Kembalikan Uang Sitaan Korupsi Tebu ke Kas Negara

Perayaan satu tahun bayi orangutan, Hope itu dirayakan bersama anak-anak yang berkunjung ke GLZoo, Yogyakarta. Dengan mengajak anak-anak dalam kegiatan ini diharapkan anak memiliki kesan yang mendalam terhadap satwa dan ke depannya mereka menjadi orang yang mencintai satwa serta berpikiran sebagai pelestari. Anak-anak juga diberikan pengertian bahwa satwa langka tersebut menarik, lucu dan menyenangkan. Satwa langka bukan hewan mainan dan bukan hewat peliharaan.

"Jadi harus dibiarkan hidup bebas di alam liar," tambahnya. (OL-3)

 

 

Baca Juga

MI/Amiruddin A.R

Pengawasan Akses TKI di Jalur Tikus Selat Malaka Ditingkatkan

👤Amiruddin Abdullah Reubee 🕔Selasa 07 April 2020, 19:25 WIB
Peningkatan pengawasan di sepanjang panati Delat Malaka tersebut, untuk mencegah sebaran Covid-19 yang mungkin dibawa TKI ilegal dari...
MI/SUPARDJI RASBAN

Ancaman Covid-19 di Kota Tegal dari Daerah Sekitarnya

👤Supardji Rasban 🕔Selasa 07 April 2020, 19:10 WIB
PERANTAU yang mudik ke Kota Tegal jumlahnya sedikit, karena menjadi magnet bagi daerah sekitarnya, Tegal kerap disinggahi puluhan pemudik...
MI/Rendy

Babel Terima 3.000 APD dari Gugus Tugas Covid-19 Pusat 

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Selasa 07 April 2020, 18:32 WIB
Mikron berharap APD dari Gugus Tugas Pusat ini dapat membantu tim medis di RS rujukan dan tempat karantina di Babel yang menangani...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya