Kamis 12 Maret 2020, 10:02 WIB

Virus Korona Dinyatakan Pandemi, IHSG Ambles Sampai 4%

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Virus Korona Dinyatakan Pandemi, IHSG Ambles Sampai 4%

ANTARA/Galih Pradipta
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

 

PERGERAKAN Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami penurunan dan berada pada zona merah dengan rincian 113,14 poin atau melemah 2.20% ke level 5.040,96 pada pembukaan perdagangan, Kamis (12/3).

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 28,85 poin atau 3,52% menjadi 790,92.

Lebih lanjut, dari hasil pantauan Media Indonesia diketahui indeks terus mengalami penurunan pesat, bahkan melemah sampai 4% dan diprediksi akan terus menurun.

Kondisi ini nyatanya bukan hanya dialami Indonesia saja, bursa saham kawasan Asia, pagi ini, juga kompak bergerak di zona merah seperti Indeks Topix (Jepang) turun 4,2%, Kospi (Korea Selatan) 3,7%, Shanghai Composite (China) 1,4%, Hang Seng (Hong Kong) 2,7%, dan Straits Times (Singapura) 2,8%.

Baca juga: Penempatan Dana Investasi Asuransi tidak Terganggu

Kondisi ini juga berlaku bagi Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang tadi pagi ambruk 5,86%, S&P 500 dan Nasdaq Composite kompak mengekor di belakangnya dengan koreksi masing-masing sebesar 4,89% dan 4,7%.

Riset Valbury Sekuritas menyebutkan sentimen virus korona masih menjadi problematika yang tidak kunjung usai. Hal itu pun dikatakan telah menjadi sentimen pasar baik dari dalam maupun luar negeri.

"Dari sentimen pasar luar negeri ada dua hal yang memengaruhi. Pertama, pelaku pasar merespon negatif pernyataan Presiden Donald Trump yang tidak memerinci langkah stimulus untuk menanggulangi kejatuhan ekonomi, bahkan Trump malah mengatakan mungkin AS tidak perlu mengambil langkah itu," tulis Valbury Sekuritas dilansir dari laman resmi, Kamis (12/3).

"Kedua, deklarasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan penyebaran virus korona akan menghambat pertumbuhan global. Pasar akhirnya dilanda kekhawatiran karena dianggap baik Trump dan WHO tidak mampu mencegah pukulan besar akibat virus korona terhadap perekonomian dunia. Padahal, pasar mengarapkan terutama AS adanya stimulus dari pemerintahan Trump yang sangat dinantikan," lanjutnya.

Bukan hanya itu saja, WHO baru saja mengumumkan wabah korona sebagai pandemi juga telah mengakibatkan kepanikan lainnya.

Situasi yang disebut pandemi oleh WHO adalah ketika suatu penyakit menyebar luas ke berbagai penjuru dunia dengan laju yang sangat cepat. Kini total kasus kumulatif virus korona di lebih dari separuh negara di dunia telah melampaui 125.000.

Atas hal tersebut, Valbury Sekuritas memprediksikan virus korona akan memberikan dampak yang besar bagi perekonomian global. Sentimen ini kembali memicu pasar saham kembali dalam bayang tekanan. (OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Yusran Uccang

Ekonomi Masyarakat Kepulauan Terhambat Aturan

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 05:45 WIB
Kendala dalam pengiriman logistik saat ini ialah pada aturan muatan barang dari Menteri Perdagangan, bukan pada PT Pelayaran Nasional...
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Pemerintah Lirik Sagu untuk Sumber Pangan

👤Ham/E-3 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 05:40 WIB
Selain beras, sagu menjadi salah satu komoditas yang kini dikembangkan untuk menuju ketahanan dan kedaulatan...
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Penaikan Cukai Beratkan Petani Tembakau

👤Try/Ant/E-1 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 05:35 WIB
“Petani tembakau telah cukup sengsara dengan adanya kenaikan cukai tembakau 23% pada tahun ini dan juga tekanan pandemi,” ujar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya