Kamis 12 Maret 2020, 09:05 WIB

Pelecehan Siswi di Sulut Lampaui Batas Wajar

Ihfa Firdausya | Humaniora
Pelecehan Siswi di Sulut Lampaui Batas Wajar

Medcom.id /M Rizal (Amaluddin)
Ilustrasi -- Pelecehan

 

KASUS pelecehan seksual yang dilakukan lima pelajar SMK terhadap teman se-kelasnya, SG, di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sula-wesi Utara, dinilai sebagai bentuk perundungan oleh grup dan telah melampaui batas kewajaran.

Para pelaku yang terdiri atas dua siswi dan tiga siswa merupakan teman sekelas korban. Dalam video berdu-rasi 40 detik yang beredar di media sosial, korban berseragam putih abu-abu itu ter-baring di lantai dan dipegangi para pelaku yang ikut meremas payudaranya.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Rissal-wan Habdy Lubis menyatakan peristiwa itu harusnya menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan juga para orangtua.

"Biasanya, kelompok teman sebaya usia remaja yang bercanda mengarah kepada tendesi seksual adalah kelompok jenis kelamin sejenis, laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan dengan perempuan. Dalam kasus ini, itu dilakukan oleh lima orang yang berbeda jenis kelamin dan juga dengan nekatnya mereka rekam," kata Rissal-wan kepada Media Indonesia, kemarin.

Secara sosiologis, imbuhnya, kelima pelaku sedang berusaha mencari perhatian dengan cara melakukan amplifikasi sosial lewat rekaman audiovisual di media sosial.

Amplifikasi sosial berma-cam-macam tujuannya, misalnya, ingin mendapatkan pengakuan eksistensi sebagai peer group berpengaruh atau bisa saja sebagai bentuk pernyataan kelompok superordinat terselubung yang sedang 'mengumumkan' legitimasinya sebagai kelompok perundung yang patut diperhitungkan.

Sependapat dengan Rissalwan, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati, mengaku tidak habis pikir dengan peristiwa tersebut. Sekolah ataupun orangtua mestinya bisa mendeteksi lebih awal perilaku anak sehingga aksi perundungan tidak menjadi sebuah tindak kekerasan.

"Maksudnya bercanda, padahal itu menyakiti. Padahal, batas nilai tentang menyakiti orang dengan bercanda itu kan ada batasannya. Kalau di rumah dan di sekolah sering diingatkan, tidak boleh lo itu menyakiti orang lain, itu pelecehan, harusnya kan sudah tahu. SMK kan sudah besar, harusnya sudah pada titik itu," sergahnya.

Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu, antara lain ketiadaaan empati akibat kurang perhatian dari orangtua, tidak diajari tentang batasan-batasan dalam bersikap, dan kurangnya pengawasan sekolah. Untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama pada diri anak, Rita menyarankan agar anak diajak melakukan kegi-atan sosial. "Pergi ke panti, ke desa, ke rumah orang yang membutuhkan, biar punya rasa empati," tandasnya.

Tidak efektif

Terkait dengan imbauan Kemendikbud kepada sekolah untuk membentuk tim pencegah tindak kekerasan, pengamat pendidikan Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto, menilai itu tidak efektif jika tidak dibarengi dengan badan konseling dan sistem peringatan dini kekerasan yang memantau situasi setiap jam dan hari di sekolah.

"Pemda buat SK tim sekolah aman tingkat kab/kota dan provinsi, yang penting tim ini bekerja terus-menerus, tidak hanya saat ada krisis," sebutnya.

Saat ini polisi telah menetapkan status tersangka kepada lima pelaku yang 'menggerayangi' siswi SMK di Kabupaten Bolaang Mongondow. Mereka tidak ditahan, tapi dikenai sanksi wajib lapor se-tiap hari. (Aiw/VL/H-2)

Baca Juga

MI/ Adi Kristiadi

Minim APD, Petugas Medis di Kalsel Terpaksa Pakai Jas Hujan

👤Denny Susanto 🕔Minggu 05 April 2020, 23:30 WIB
Kalau para tenaga medis terpapar korona, lalu siapa yang akan menyembuhkan...
Ilustrasi

IDI Catat Total 24 Dokter Meninggal Terkait Covid-19

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Minggu 05 April 2020, 22:54 WIB
Di antara para korban yang meninggal akibat Covid-19, terdapat tenaga medis yang telah berjuang di garda depan untuk merawat para...
MI/ Ramdani

MPR Minta Pemerintah Lindungi Tenaga Medis Secara Maksimal

👤Ade Alawi 🕔Minggu 05 April 2020, 22:43 WIB
Menurutnya, sebagai garda terdepan dalam penanganan wabah Covid-19 ini, dokter dan para tenaga kesehatan adalah kelompok yang paling rawan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya