Kamis 12 Maret 2020, 07:00 WIB

Maya Stolastika Membangkitkan Lahan Tidur

Bagus Pradana | Humaniora
Maya Stolastika Membangkitkan Lahan Tidur

MI /MOHAMAD IRFAN
Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 Bidang Lingkungan Maya Stolastika Boleng

 

Dengan memanfaatkan lahan tidur, perempuan asal Flores ini sukses memberdayakan kaum perempuan untuk mengembangkan pertanian organik.

PETANI bisa jadi merupakan profesi yang jarang dilirik generasi muda. Sebagian dari mereka mungkin beranggapan profesi ini merupakan pekerjaan rendahan yang tidak memiliki prospek menjanjikan. Namun, anggapan ini tidak berlaku bagi Maya Stolastika Boleng. Gadis kelahiran Waiwerang, Flores, Nusa Tenggara Timur, ini, justru bisa sukses mengembangkan pertanian organik di lahan seluas 3.000 meter persegi yang ia garap bersama ibu-ibu di Desa Claket, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

Kata Maya, Tuhan telah menciptakan alam dan segala isinya untuk manusia, maka tugas utama yang harus disadari manusia ialah memberi manfaat, layaknya apa yang alam berikan kepada manusia. Berbekal filosofi ini, dia memantapkan hati untuk bertani. Meski sempat tidak mendapatkan restu dari keluarga, gadis kelahiran 11 Juni 1985, ini, berhasil membuktikan bahwa apa yang ia lakukan tidak sia-sia, bahkan membanggakan.

Maya bercerita awalnya dia tertarik dengan aneka produk sayuran organik saat masih menimba ilmu di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ketertarikannya semakin menguat ketika ia berkesempatan mengunjungi sebuah lahan pertanian organik di kawasan Baturiti, Bali. Di sana Maya bertemu sang pemilik lahan dan dari usahanya tersebut berhasil memajukan desa tempatnya tinggal.

"Saya kenal dengan pertanian organik itu pertama di tahun 2007, ketika saya ke Bali untuk belajar tentang pertanian organik dengan Bapak Murti Tunggal Chandra. Beliau memiliki pemikiran yang berbeda dari petani-petani pada umumnya dan berbagai hal yang beliau jelaskan berhasil memantik kegelisahan yang ada di dalam pikiran saya waktu itu," ungkap Maya kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Sepulang dari Bali, Maya bersama empat orang teman kuliahnya mantap membuka kebun organik pertama mereka yang berlokasi di Desa Claket, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Meski dengan pengetahuan mengenai pertanian organik yang masih minim, mereka tetap bersemangat menggarap kebun organik pertama yang berhasil mereka sewa.

"Saya buka kebun pertama tahun 2008, di dekat Susteran di Desa Claket. Saya kumpulkan uang sendiri dari pekerjaan saya menjadi seorang pengajar waktu itu," kenang Maya.

Menurut Maya, saat merintis usahanya dia berangkat dari nol. Kala itu, dia berpegang pada pepatah 'ketika ketidaktahuan ialah berkah, lalu apa artinya ilmu pengetahuan'. "Jadi, saat itu saya tidak tahu risiko apa yang akan saya hadapi, yang saya lakukan ialah membaca buku-buku pertanian organik, lalu mempraktikannya sedikit demi sedikit," ujarnya.

Usaha itu bukannya tanpa kendala. Jenis tanaman yang mereka tanam kala itu, caisim, memang tumbuh, tapi mereka kebingungan memasarkannya sehingga tanaman itu membusuk dan mereka rugi.

Tiga dari empat orang teman kuliah yang diajak Maya untuk membuka kebun itu pun mengundurkan diri karena tidak sanggup bertahan dengan risiko kerugian yang cukup sering meneror mereka kala itu. Maya pun sempat putus asa dan berniat menutup lahan tersebut. Namun, telepon dari seorang ibu membuat dia mengubah keputusannya. "Ibu itu bertanya kepada saya, apakah masih jual sayur? Dari situ saya sadar ternyata ada orang yang membutuhkan apa yang kami tanam beberapa waktu lalu. Sejak itu, semangat saya untuk bertani kembali muncul," ungkap Maya.

Tak lama setelah itu, Maya dan rekannya berhasil menyewa lahan kembali atas bantuan seorang teman, yang lokasinya tak jauh dari lahan mereka sebelumnya. Di lahan kedua ini pasar mereka mulai terbuka. Beberapa tawaran untuk menjadi supplier di beberapa supermarket pun mulai terealisasi. "Dari tahun 2009 hingga 2010 kami berhasil menyuplai tujuh supermarket. Akhirnya, apa yang kami kerjakan membuahkan hasil," tambahnya.

Jatuh bangun yang telah Maya lalui dalam membangun usaha pertanian organik ini merupakan bukti bahwa tidak ada hal yang instan yang dapat dicapai dalam hidup ini. Meski usahanya sempat terseok-seok, Maya tetap berusaha memberikan manfaat kepada orang lain. Dia memberdayakan sejumlah warga, terutama kaum perempuan, untuk ikut mengelola pertanian organik.

Menurut cerita Maya, ketika pertama kali membuka kebun organik di Desa Claket, masyarakat di sana belum terlalu tertarik dengan konsep pertanian ramah lingkungan yang dibawanya, meskipun mayoritas penduduk di situ memiliki mata pencarian sebagai petani. Mereka lebih memilih untuk mengolah lahan dengan cara konvensional karena pola pertanian yang diperkenalkan Maya terlampau riskan dan membutuhkan waktu tanam yang lebih lama.

Kebanyakan warga menolak untuk mengubah pola tanamnya, apalagi ketika mereka dilarang untuk menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Maya mengakui memang butuh kesabaran yang ekstra untuk mengedukasi warga agar mau beralih ke pertanian organik.

"Kebanyakan mereka menganggap pertanian organik ini membutuhkan waktu tanam yang lama dan rentan terserang hama atau risiko meruginya lebih tinggi daripada pola konvensional yang selama ini mereka praktikan. Mereka juga memiliki ketergantungan dengan pupuk kimia dan pestisida untuk mempercepat pertumbuhan produk-produk pertaniannya, maka di sinilah letak pentingnya edukasi," ujar May.

Meski tidak banyak warga yang tertarik dengan konsep pertanian organik, Maya tidak kehabisan akal untuk terus mengajak mereka mencoba pola pertanian ramah lingkungan ini. Pada 2015-2016, dia mulai menyasar ibu-ibu, tentu saja dengan treatment yang berbeda.

"Kami ganti cara pendekatannya dengan mengajak ibu-ibu, tentu dengan bahasa mereka. Kami cuma bilang, 'Ibu-ibu kalau mau nanem sayur organik, nanti akan saya beli'. itu bahasa yang mudah dicerna oleh mereka," terang gadis berdarah Flores itu.

"Setelah sudah terjalin, baru kami ajari mereka menanam aneka sayur-mayur organik sampai mereka memahami dan melihat sendiri bahwa pertanian organik itu adalah sebuah potensi usaha yang ternyata juga menghasilkan," tambah Maya.

Lahan tidur

Konsep pemberdayaan yang Maya ajarkan kepada ibu-ibu ini ialah dengan memanfaatkan lahan tidur yang berada di sekitar rumah sebagai media/lahan tanamnya. Lahan tidur di sini ialah lahan yang tidak terpakai atau sengaja untuk disisihkan, yang berada di sekeliling rumah seperti lahan pekarangan yang tidak digarap, tapi masih cukup luas untuk menunjang pertanian.

Menurut Maya, lahan tidur menjadi solusi yang paling baik untuk mengenalkan pertanian organik kepada warga. Selain itu, untuk pengolahannya, lahan tidur lebih mudah diolah sebagai media tanam produk-produk organik daripada lahan pertanian yang luas seperti sawah yang telah bertahun-tahun terpapar zat kimia. Konversi lahan luas untuk pertanian organik membutuhkan waktu dan perawatan yang lebih lama ketimbang lahan tidur tadi.

"Jadi, memang kami melihat yang cocok untuk mengelola pertanian organik adalah ibu-ibu. Jadi, kita memutuskan untuk membikin program yang khusus menyasar mereka. Karena faktanya, rata-rata kepemilikan lahan di Indonesia ini memang didominasi oleh laki-laki, tetapi bisa dipastikan hampir mayoritas penggarapnya adalah perempuan sehingga saya rasa peran ibu-ibu petani ini harus diangkat," terang Maya.

Melalui brand produk-produk sayur organik yang telah ia bangun sejak 2012, Twelve Organic, Maya kini mempromosikan sayur-sayur organik yang ditanam ibu-ibu di Desa Claket tadi pada para pelanggan yang telah lama memercayakan kebutuhan sayur-mayurnya ke Maya. Saking membeludaknya permintaan, mereka bahkan terpaksa mengurangi jumlah stok sayur untuk hotel dan supermarket. "Karena ternyata untuk mencukupi kebutuhan pembelian perorangan saja kami sudah kewalahan. Kini kami lebih fokus untuk menggarap pasar yang perorangan," ungkap Maya. (M-4)

Baca Juga

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Hadapi Covid-19, Pengadaan Alat Pelindung Diri Semakin Digenjot

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:27 WIB
Di sisi lain, pemerintah telah melakukan pengadaan 191.666 set APD dan didistribusikan ke seluruh provinsi serta rumah sakit yang...
MI/Susanto

Keputusan Larangan Mudik Tunggu Presiden

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:20 WIB
Berdasarkan Ratas tentang Antisipasi Mudik Lebaran 2020 yang dipimpin Presiden, pemerintah masih akan melakukan kajian dampak ekonomi jika...
Antara/Nyoman Hendra Wibowo

Kriteria Jalur Prestasi dalam PPDB harus Jelas

👤Atikah Iswahyuni 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:10 WIB
Pemerintah dan seluruh pihak terkait harus menetapkan definisi dari prestasi yang dimaksud, apakah akademik atau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya