Rabu 11 Maret 2020, 07:00 WIB

Belanda Minta Maaf Atas Kekerasan Pascakemerdekaan

Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum
Belanda Minta Maaf Atas Kekerasan Pascakemerdekaan

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Presiden Joko Widodo bersama Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti melihat keris milik Pangeran Diponegoro.

 

RAJA Belanda Willem-Alexander menegaskan Pemerintah Belanda mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ia juga meminta maaf atas kekerasan yang terjadi pada masa agresi militer pasca-Proklamasi 1945.

Penegasan itu disampaikannya seusai diterima Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin. "Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya (Pemerintah Belanda) sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut (setelah proklamasi). Saya mengucapkan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini," kata Raja Willem yang datang bersama istrinya, Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti.

Willem lalu mengapresiasi hubungan kedua negara yang hingga kini terjalin semakin erat.

Sementara itu, Presiden Jokowi menyatakan Indonesia berkomitmen memperkukuh hubungan bilateral dengan Belanda melalui sebuah hubungan yang saling menghormati kedaulatan, integritas, wilayah, saling menghormati dan saling menguntungkan.

"Ini adalah kunjungan yang bersahabat, produktif, menatap masa depan, tanpa harus melupakan sejarah masa lalu," ucap Jokowi.

Dalam kunjungan ini, Raja Willem juga menyerahkan keris milik Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro. Keris berwarna cokelat pada gagangnya dan warna emas pada sarungnya itu sempat dinyatakan hilang, namun berhasil diidentifikasi melalui penelitian panjang yang dilakukan di Museum Volkenkunde di Leiden.

 

Kerja sama bisnis

Indonesia dan Belanda menyepakati kerja sama bisnis senilai US$1 miliar. Kedua negara juga menyepakati kerja sama mengenai kelapa sawit berkelanjutan, isu perempuan, perdamaian, dan keamanan serta pengendalian penyakit menular.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menuturkan bahwa Raja Belanda membawa sekitar 185 delegasi bisnis. Sejumlah kesepakatan bisnis yang tercapai antara lain investasi pengembangan terminal di Pelabuhan Tanjung Priok, pengembangan pabrik susu dan investasi perusahaan Shell di sektor migas.

MI/Haufan Hasyim Salengke

Menlu RI Retno Marsudi dan Menlu Belanda Stef Blok melakukan
penadatanaganan MoU kerja sama pelatihan diplomat Indonesia (clingendael)
dan LoI on enhanching billateral cooperation in the field of women, peace,
and security bertempat di Plataran Taman Kota, Senayan, Jakarta, Senin
(9/10/2020) malam.

 

Menlu Retno juga bertemu dengan Menlu Belanda Stephanus Abraham dan membahas berbagai isu global termasuk perkembangan wabah virus korona dan peran aktif Indonesia dalam proses perdamaian di Afghanistan. (Dhk/Hym/X-11)

Baca Juga

Antara

Polri Terbitkan Aturan Khusus Soal Hoaks dan Penghinaan Presiden

👤Tri Subarkah 🕔Minggu 05 April 2020, 20:24 WIB
Ia menyebut pihak kepolisian akan menindak tegas setiap orang yang memanfaatkan pandemi covid-19 untuk menyebarkan berita bohong dan...
DOK DPR RI

Pemerintah Diminta Ciptakan Iklim Kondusif Bagi Peternak Kecil

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 April 2020, 15:50 WIB
Pemerintah juga harus menyiapkan regulasi agar peternak kecil bisa menjadi pamasok daging ayam, telur ke restoran, hotel atau katering...
DOK DPR RI

Pemerintah belum Akomodatif Soal Usul Karantina

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 April 2020, 14:50 WIB
Pemerintah tetap kukuh pada kebijakan social dan physical distancing. Padahal, virus korona terus menelan korban setiap...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya