Rabu 11 Maret 2020, 05:00 WIB

Menggaet Anak Muda Turun ke Sawah

Putra Ananda | Fokus
Menggaet Anak Muda   Turun ke Sawah

Kementerian Pertanian/Dok.MI

SYAHRUL Yasin Limpo punya mimpi besar di jabatannya sebagai Menteri Pertanian saat ini. Mimpinya itu sederhana, tapi butuh perjuangan besar untuk mencapainya.

"Mimpi saya itu menarik, sebanyak-banyaknya anak muda untuk turun ke sawah dan kebun. Jadi petani!" seru Syahrul dalam sebuah perbincangan dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Sebagai negara yang bergantung pada kegiatan bercocok tanam, profesi petani merupakan profesi krusial yang harus ada di Indonesia. Ketersediaan beras sebagai makanan pokok 267 juta rakyat Indonesia ataupun kebutuhan pangan lain amat bergantung dari produktivitas yang dihasilkan para petani.

"Karena itu, keberadaan profesi petani di Indonesia tidak boleh berhenti di satu generasi tertentu. Perlu ada regenerasi dari kalangan anak muda sebagai generasi penerus profesi petani untuk menjaga ketahanan pangan kita," tutur Syahrul.

Ia menyadari kementeriannya harus secara proaktif mendorong generasi muda mau memilih profesi sebagai petani.

Apalagi di era modern saat ini, profesi petani tak kalah bergengsinya dengan profesi lain, seperti karyawan swasta di perusahaan startup ternama ataupun pegawai negeri sipil (PNS) yang menjadi primadona para fresh graduate.

"Kita berharap yang muda itu akan ambil bagian di pertanian. Jika semua sudah menyadari bahwa pertanian memberi marginal yang kuat, tentu semua akan lari ke pertanian," tutur Syahrul.

Dengan kemajuan dan perkembangan teknologi, kaum muda juga dapat memanfaatkan potensi keuntungan di dunia pertanian. Dengan teknologi, sektor pengolahan dan distribusi hasil pertanian juga jadi ladang emas tersendiri.

"Selain on farm, para anak-anak muda dengan startup-nya bisa memaksimalkan sisi off farm pascapanen, seperti mengolah dan menjual hasil pertanian. Kami ada program khusus untuk itu," tuturnya.

Salah satu program yang saat ini sedang dijalankan Kementan untuk menaungi para petani milenial ialah Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostra Tani). Dengan Kostra Tani, Kementan membangun sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.

Bangun citra positif

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menjelaskan Kostra Tani merupakan optimalisasi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang sudah ada sejak era pemerintahan Soeharto.

Optimalisasi yang dilakukan antara lain peningkatan saranan TI, rehabilitasi kantor-kantor balai yang sudah rusak, dan peningkatan kapabilitas para penyuluh pertanian.

"Para penyuluh itu diberi pelatihan, bisa melalui video conference atau melalui e-learning," tutur Dedi.

Berdasarkan data yang dipegangnya, saat ini sudah 2,7 juta petani muda yang tergabung dalam Kostra Tani. Para petani muda tersebut usianya di bawah 45 tahun.

Sementara itu, para petani yang sudah melebarkan profesinya menjadi seorang pengusaha milenial di bidang pertanian hingga mampu melakukan ekspor jumlahnya mencapai 2.500 orang.

"Belum terlalu banyak. Itu pun masih banyak terkonsentrasi di Jawa, yangg luar Jawa masih sangat minim. Nah, ini yang harus kita dorong bagaimana petani milenial bisa makin banyak dan di saat yang sama petani milenial di luar Jawa kita dorong agar mereka tumbuh," ujarnya.

Salah satu cara menumbuhkan minat para anak muda untuk berprofesi sebagai petani, Kementan terus membangun citra yang positif dari profesi petani. Misalnya, membangun duta petani milenial yang telah sukses mengembangkan usaha pertaniannya di dalam negeri dan luar negeri hingga menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan para petani muda.

"Kita permudah perizinan, berikan pendampingan, dan berikan fasilitas seperti peralatan-peralatan pertanian. Namun, pada umumnya mereka semua itu mandiri, tidak bergantung pada kita," jelasnya.

Selain memberdayakan para petani milenial yang sudah berhasil, Kementan juga melakukan kerja sama dengan beberapa universitas yang memiliki fakultas pertanian. Program kerja sama tersebut berupa program magang bagi para fresh graduate sarjana pertanian.

"Mereka diarahakan untuk mandiri, beriwirausaha, dan berbisnis. Nanti begitu mereka selesa S-1, kita akan minta proposal rencana usaha mereka. Kita kasih insentif Rp15 juta-Rp30 juta," papar Dedi.

Ia melanjutkan, Kementan amat menyadari bahwa regenerasi petani merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. "Target kita dalam empat tahun ke depan lahir petani milenial sekitar 2,5 juta orang," ujarnya. (E-2)

Baca Juga

 MI/PIUS ERLANGGA

Satgas Pelajar untuk Sekolah Bebas Candu

👤 (J-3) 🕔Senin 16 Maret 2020, 05:00 WIB
PEREDARAN narkoba di Jakarta masih menjadi persoalan yang tiada...
MI/YAKUB PRYATAMA

Ke Mana aja Lo Hari Gini masih Gitu

👤 (Yakub Pryatama/J-2) 🕔Senin 16 Maret 2020, 04:45 WIB
AISAH Dahlan seperti menelan pil pahit saat mengetahui adik kandungnya menjadi korban ganasnya narkoba pada 1997. Sang adik pun dibawa...
Dok.MI/BNN

Berprestasi tanpa Narkoba

👤 (Sru/Tri/J-2) 🕔Senin 16 Maret 2020, 04:30 WIB
NARKOBA berujung gelap mata. Seorang anak, AF, 24, nekat menggadaikan sertifikat tanah milik orangtuanya yang bernilai Rp60 miliar menjadi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya