Selasa 10 Maret 2020, 20:31 WIB

Sistem Deteksi Korona di Korsel Kurang Cocok di Indonesia

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Sistem Deteksi Korona di Korsel Kurang Cocok di Indonesia

AFP/Jung Yeon-je
Petugas kesehatan di Korea Selatan menyemprotkan cairan disinfektan di jalur pedestrian untuk menghambat penyebaran virus korona.

 

KOREA Selatan mengantisipasi penyebaran virus korona (COVID-19) dengan cara yang cukup inovatif, yakni menyediakan layanan pemeriksaan drive-thru.

Melalui layanan ini, masyarakat dapat mengecek nafas, suhu tubuh dan lendir tenggorokan, tanpa harus turun dari kendaraan. Hasil pemeriksaan pun dapat diketahui dalam waktu 10 menit.

Dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinolog Omni Hospitals, Dirga Sakti Rambe, menilai layanan yang disediakan otoritas Korea Selatan tergolong agresif untuk mengantisipasi penyebaran korona. Mengingat, semakin banyak orang diperiksa, semakin banyak pula orang yang terdeteksi. Sehingga, penyebaran virus tidak semakin meluas.

Baca juga: Tiongkok dan Korsel Buktikan Virus Korona Bisa Dikendalikan

Meski sistem tersebut efektif diaplikasikan di Korea Selatan, dia berpendapat belum tentu cocok diimplementasikan di Indonesia.  "Kebijakan yang dilaksanakan di suatu negara belum tentu cocok di negara lain. Korea termasuk yang paling agresif," ujar Dirga saat dihubungi, Selasa (10/3).

"Bila diterapkan di Indonesia, sepertinya kurang mampu karena wilayah yang luas sekali. Termasuk pulau-pulau, penduduk banyak dan resources terbatas," ujar Dirga kepada Media Indonesia, Selasa (10/3).

Dirga menilai standar operasional prosedur (SOP) yang diberlakukan pemerintah Indonesia saat ini sudah sesuai dengan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, yang perlu diperbaiki adalah pelaksanaan di lapangan, termasuk meningkatkan detection rate dan testing capacity.

Baca juga: Kenakan Masker, Ribuan Pasangan Nikah Massal di Korea Selatan

"Intinya, meningkatkan jumlah orang yang diperiksa untuk menemukan kasus-kasus baru (sesuai dengan indikasi). Jangan sampai ada orang yang seharusnya dites karena memenuhi kriteria, tapi tidak di-follow up/dilakukan tes, itu maksud dari menaikkan detection rate," jelas Dirga.

"Sedangkan testing capacity, misalnya sekarang sehari cuma bisa 10 tes, harus ditingkatkan. Mungkin dengan memperluas jaringan laboratorium, sehingga yang mengerjakan juga banyak," tandasnya.(OL-11)

 

Baca Juga

Antara

Achmad Yurianto Ingatkan Penggunaan Masker Untuk Semua

👤Ihfa Firdausya 🕔Minggu 05 April 2020, 17:55 WIB
Juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto menegaskan penggunaan masker untuk semua harus...
Antara

Kemenkes Sebut PSBB Lebih Ketat Atur Kegiatan Penduduk

👤Ihfa Firdausya 🕔Minggu 05 April 2020, 17:45 WIB
Sekjen Kemenkes Oscar Primadi dalam teleconference di Gedung BNPB hari ini (5/4) menyebut PSBB diharapkan lebih ketat mengatur masyarakat...
Ilustrasi

Menag Dorong Percepatan Pembayaran dan Pendistribusian Zakat

👤Syarief Oebaidillah 🕔Minggu 05 April 2020, 17:24 WIB
Menteri Agama Fachrul Razy mendorong Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk mempercepat pembayaran dan pendistribusian zakat harta (mal)...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya