Selasa 10 Maret 2020, 17:00 WIB

Ceruk Ekonomi dari Platform Streaming

Fathurrozak | Weekend
Ceruk Ekonomi dari Platform Streaming

MI/SUMARYANTO BRONTO
Band Efek Rumah Kaca; Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar)

 

PADA Maret 2018, Efek Rumah Kaca berangkat ke gelaran South by Southwest di Austin, Texas. Mereka saat itu menjadi delegasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan mendapat bantuan pendanaan akomodasi. Namun, Cholil dkk akhirnya mundur karena perbedaan visi dengan Bekraf, dan memutuskan untuk berangkat secara independen dengan dana sendiri. Saat itu, total personel yang berangkat berjumlah sembilan orang dengan perpanjangan durasi kunjungan di Amerika.

Bujet akomodasi ke SXSW itu diakui manajer Efek Rumah Kaca, Dimas Ario didapat hanya dari pemasukan platform streaming musik. Bagi Dimas, platform streaming sampai sejauh ini cukup mendatangkan ceruk ekonomi.

“Kami lumayan sudah ada penghasilan tetap dengan jumlah signifikan dari platform streaming. Namun, setiap band tentu berbeda-beda. Untuk kami, dari streaming ini bermanfaat banyak. Contohnya, saat berangkat ke SXSW, semua bujet dari platform streaming. Bukan dari manggung atau yang lainnya,” ungkap Dimas saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin, (9/3).

Sejak 2016 lagu-lagu dari trio Cholil, Poppy, dan Akbar ini beredar di platform streaming musik. Dalam mengedarkan karya mereka di kanal streaming, ERK menggunakan jasa distributor digital. Mereka bertugas mendistribusikan ke berbagai agregator. Dari seluruh platform agregrator, Dimas mengaku yang paling dominan mendatangkan pundi ialah Spotify.

Hal serupa juga dirasakan duo North to East, yang digawangi Novila dan Evan. Mereka mengaku platform streaming juga mendatangkan pundi bagi mereka. Ditemui pada kesempatan Love Fest beberapa waktu lalu, Novila mengaku monetisasi dari kanal streaming digunakan keduanya untuk membuat karya baru.

Menata Insfratruktur

Hak-hak musisi yang bersangkutan dengan penyedia layanan streaming, menurut Dimas, sudah selesai. Tidak ada pekerjaan rumah yang bermasalah. Baginya, PR justru datang dari pemenuhan hak-hak yang seharusnya didapat di luar platform streaming, seperti dari performing rights.

Performing rights ialah hak eksklusif untuk menyiarkan, menampilkan, menayangkan, memutarkan komposisi atau karya lagu yang sudah dibuat kepada khalayak luas. Sehingga, seharusnya ketika suatu lagu diputar seperti di konser atau kafe, ada hak ekonomi yang didapat dari si pemilik karya.

"Dalam pendistribusiannya masih ada yang jadi masalah. Misal seperti ketika di festival musik, atau di suatu acara, seharusnya ada izin ketika ada yang menggunakan karya dari musisi atau suatu band. Perlu ada teknologi yang bisa mengakses itu. Masih banyak PR. Agar sistem dibuat lebih mudah. Banyak sekali yang terkait hak cipta, pada praktiknya belum berjalan optimal, perlu juga sosialisasi lebih banyak."

Dimas menjelaskan, meski ERK juga sudah mendapatkan hak mereka dari performing rights atau mechanical rights dalam beberapa kesempatan, perlu ada sistem yang bisa memantau dari mana sumber uang itu berasal, termasuk mengukur persebaran penggunaan karya dan besaran yang seharusnya didapat.

"Walau udah dapat, juga perlu tahu bagaimana prosesnya, dapatnya dari mana saja, perlu diperbaiki sistemnya, perlu ada teknologi yang bisa transparan semua bisa tahu, dan musisi bisa akses," pungkas Dimas.

Ia pun berharap, ke depannya bisa terbangun infrastruktur teknologi digital informasi yang memudahkan semua lapisan dalam industri musik. Ini diharapakan terkait yang berhubungan dengan hak-hak musisi, juga termasuk penulis lagu, akan tersalurkan lebih baik. (M-4)

Baca Juga

AFP/Mark RALSTON

Ayo, Main Bersama Hewan Kesayangan untuk Mengusir Bosan di Rumah

👤Galih agus Saputra 🕔Minggu 05 April 2020, 08:10 WIB
Mereka bahagia karena ada seseorang yang akan menghabiskan banyak waktu...
MI/Heryus Saputro Samhudi

Ondel-Ondel Betawi, Warisan Budaya yang Kini Telantar di Jalan

👤Heryus Saputro Samhudi 🕔Minggu 05 April 2020, 06:45 WIB
Ondel-ondel, warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia dan ikon budaya Kota Jakarta sekaligus kebanggaan orang Betawi,  ngamen masuk...
Dok. Katonvie

Delapan Sudut Kreasi dalam Selembar Hijab Katonvie

👤(Try/M-1) 🕔Minggu 05 April 2020, 06:35 WIB
HIJAB scarf segi empat banyak dikenakan wanita muslim karena selain ringkas, juga bisa dikreasikan bentuknya untuk mempercantik...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya