Selasa 10 Maret 2020, 15:30 WIB

Ini Alasan Data Contack Tracing Pasien Korona tak Dibuka

Dhika Kusuma Winata | Humaniora
 Ini Alasan Data Contack Tracing Pasien Korona tak Dibuka

Ilustrasi
Virus korona

 

JURU bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan pemerintah tidak akan membuka data pasien korona beserta hasil penelusuran kontaknya (contact tracing).

Hal itu berbeda dengan kebijakan Singapura yang membuka hasil penelusuran kontak pasien korona.

"Contact tracing kami sepenuhnya kita serahkan ke dinas kesehatan setempat. Mereka yang pahami betul kondisi masyarakatnya. Tidak mudah untuk kita samakan masyarakat kita dengan Singapura. Tetapi bukan berarti tracing itu diam-diam, sekitarnya pasti diajak bicara," kata Yurianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3).

Yurianto menyatakan upaya penelusuran kontak tersebut hingga kini masih dilakukan meski ia tidak membeberkan detailnya. Alasan penelusuran kontak sengaja tidak diumumkan untuk menghindari kepanikan.

"Untuk mencegah penyebaran kasus, yang kami lakukan terus ialah contact tracing, karena bagaimana pun juga cara menghentikannya ialah menemukan kasus positif sebagai sumber dan harus diisolasi," ujarnya.

Hingga saat ini, ada 19 kasus positif Covid-19 di Indonesia. Dari jumlah itu, dua di antaranya berubah menjadi negatif yakni kasus 06 dan kasus 14. Keduanya ialah WNI kru kapal Diamond Princess dan seorang pria berusia 50 tahun. Kasus keduanya diyakini merupakan imported case atau penularan terjadi saat yang bersangkutan di luar negeri.

Meski negatif, keduanya masih menjalani isolasi dan kembali akan menjalani tes laboratorium. Jika hasilnya kembali negatif, keduanya akan dipulangkan dari rumah sakit.

Dari jumlah 19 pasien tersebut, juga terdapat dua orang warga negara asing atau WNA. Pemerintah tidak membuka identitas asal negara dengan alasan menghindari diskriminasi terhadap kewarganegaraan tertentu.

"Untuk dua WNA kami sampaikan kondisinya stabil dan kedutaan sudah tahu. Permintaan kedutaan tidak diumumkan negaranya, karena kami sempat dikomplain karena muncul diskriminasi masyarakat. Ini yang membuat tidak nyaman. Yang pasti kedutaan mereka sudah tahu dan sudah berkomunikasi dengan pasien melalui prosedur yang berlaku," tukas Yurianto. (OL-2)

Baca Juga

Istimewa

Mumpung Di Rumah Saja, Saatnya Mengasah Kemampuan Berbisnis

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 April 2020, 08:22 WIB
Danar mengajak para pelaku UMKM, terutama kaum milenial yang saat ini sedang terdampak usahanya untuk memanfaatkan platform online...
MI/TRI SUBARKAH

Aduh, Ini mah Malah Tambah Penyakit

👤Tri Subarkah/X-7 🕔Selasa 07 April 2020, 07:20 WIB
Para pasien beserta pendamping mereka antre proses screening saat berobat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta,...
Ebet

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Demensia

👤Daily Mail/Nur/X-3 🕔Selasa 07 April 2020, 06:20 WIB
Kami dapat menemukan 364 kasus demensia. Kami mengamati bahwa mereka yang menderita demensia terpapar pada tingkat polusi udara yang lebih...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya