Selasa 10 Maret 2020, 13:25 WIB

Walhi Kalsel Desak KLHK Batalkan Permen Kayu Ulin

Denny Susanto | Nusantara
Walhi Kalsel Desak KLHK Batalkan Permen Kayu Ulin

MI/Denny Susanto
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono

 

ORGANISASI lingkungan di Kalimantan Selatan menolak dan menuntut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membatalkan Permen LHK P. 106/2018 yang mengeluarkan kayu ulin (eusideroxylon zwageri) dan tumbuhan terancam lainnya sebagai tanaman dilindungi.  Hal ini ditegaskan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, Selasa (10/3) dalam perbincangan bersama Pena Hijau Indonesia.

"Kebijakan MenLHK ini memperlihatkan keberpihakan pemerintah terhadap investasi tanpa memperhatikan kekayaan sumber daya alam hayati yang nyaris punah di Kalimantan. Karena itu kita menolak dan menuntut KLHK membatalkannya," tegasnya.

Pemberlakuan Permen LHK nomor 106/2018 tersebut dinilai akan membuka ruang bagi para pemburu kayu atau flora eksotis bernilai ekonomi tinggi, untuk diperdagangkan secara masif. Pada akhirnya akan semakin menghancurkan keanekaragaman hayati dan meningkatkan ancaman bencana ekologi. Hal yang sama juga dikemukakan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Gusti Muhammad Hatta, yang mempertanyakan kebijakan Menteri LHK nomor P.106/2018 yang di dalamnya mencabut status 10 jenis kayu dan salah satunya kayu ulin sebagai kayu  dilindungi.

Mantan Menteri LHK dan Menristek era SBY tersebut mengatakan katakan yang terjadi selama ini meski dilindungi dan perdagangannya dilarang penebangan dan perdagangan kayu ulin, terus berlangsung. Umumnya kalau mau mengeluarkan dari daftar merah suatu jenis flora atau fauna, harus ada rekomendasi dari lembaga ilmiah dan di Indonesia LIPI.

"Sejauh ini LIPI belum keluarkan rekomendasi. Sedangkan untuk pohon gaharu tidak masalah dikeluarkan dari daftar merah, karena budidayanya sudah banyak," tuturnya.

baca juga: Polres Lamongan Ancam Penimbun Masker

Hutan Kalsel merupakan habitat tumbuhan Ulin yang tersebar di beberapa wilayah di luar kawasan konservasi, di antaranya di Tanahbumbu, Kotabaru, Tanahlaut, Tabalong, Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Tapin. Seperti diketahui kayu ulin tumbuh secara alami di hutan alam dengan populasi terbatas. Kayu ulin mesti dilindungi karena
eksploitasi besar-besaran kayu ini akan menghilangkan identitas masyarakat adat Dayak dan Banjar. Hubungan masyarakat adat dayak dengan ulin itu tidak dapat dipisahkan, kayu ulin dianggap sakral oleh masyarakat adat Dayak di Kalimantan. (OL-3)

 

Baca Juga

Dok Humas Pemprov Jawa Barat

Gaji ASN Pemprov Jabar Dipotong 4 Bulan untuk Tangani Covid-19

👤Antara 🕔Senin 30 Maret 2020, 21:02 WIB
ASN bersedia memotong gaji atau tunjangan untuk membantu penanggulangan wabah COVID-19 dan keputusan tersebut juga berlaku untuk Gubernur...
ANTARA/ASEP FATHULRAHMAN

Gubernur Banten: Lockdown Tak Semudah Menutup Pintu

👤Wibowo Sangkala 🕔Senin 30 Maret 2020, 20:17 WIB
Banten sudah terintegrasi dengan Jakarta. Sehari-harinya orang Banten cari pekerjaan, cari upah, cari penghidupan ke Ibu...
AFP/Lionel BONAVENTURE

Bali Membuat Disinfektan Berbahan Dasar Arak

👤Antara 🕔Senin 30 Maret 2020, 20:07 WIB
3.000 liter arak Bali diteliti dan diekstrak menjadi alkohol murni 96 persen sesuai standar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya