Selasa 10 Maret 2020, 07:17 WIB

Edukasi untuk Perangi Sampah di Labuan Bajo

Palce Amalo | Humaniora
Edukasi untuk Perangi Sampah di Labuan Bajo

MI/Palce Amalo
Siswa memungut sampah di pesisir pantai Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada acara puncak peringatan HPSN 2020.

 

BANYAK cara edukasi yang dilakukan berbagai kalangan demi menjadikan kawasan wisata Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), bersih dan bebas dari sampah.

Labuan Bajo merupakan salah satu kawasan destinasi wisata prioritas yang telah dicanangkan Presiden beberapa waktu lalu. Untuk mendukung pengelolaan sampah di destinasi wisata Labuan Bajo tersebut, pemerintah telah membangun fasilitas pengelolaan berupa TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) atau pusat daur ulang pengelolaan sampah (PDU) dengan kapasitas 10 ton per hari dengan prinsip pemilahan dan pengurangan sampah di sumber.

Melengkapi sarana ini juga diberikan motor sampah sebanyak 8 unit, 60 unit tempat sampah tematik, pembangunan tempat pemrosesan ­akhir (TPA), ekskavator, armroll, dan penyerahan 40.000 bibit tanaman keras.

Namun, semua upaya itu tidak akan berhasil bila tidak ada edukasi kepada masyarakat untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai kawasan wisata bersih dari sampah, khususnya sampah plastik.

Salah satu upaya edukasi yang dilakukan kepada siswa siswi SMP Negeri I Komodo. “Edukasi terus berjalan. Kami ajarkan anak-anak memisahkan plastik dan sampah lainnya. Sampah plastik didaur ulang dalam bentuk kerajinan tangan,” kata Guru SMP Negeri 1 Komodo, Manggarai Barat, Reneldis Litamargita.

Reneldis bersama 15 guru lainnya memimpin 150 siswa sekolah tersebut berbaur bersama 10 ribu warga lainnya memungut sampah di Labuan Bajo pada puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2020 di Labuan Bajo, pada Jumat (6/3).

Bagi dia, HPSN telah membangun kesadaran masyarakat setempat agar tidak membuang sampah sembarangan. Edukasi seperti itu jika dilakukan secara terus-menerus, akan menjadikan masyarakat sadar dan dengan sendirinya mengurangi sampah, terutama sampah plastik.

Ajakan untuk peduli sampah juga disampaikan lewat lagu yang dinyanyikan puluhan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Labuan Bajo di hadapan Menko Kemaritiman,  Investasi Luhut B Pandjaitan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, dan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi. Mereka menyanyi penuh semangat bersama penyanyi dan aktivis lingkungan Oppie Andaresta.

‘Buang sampah di tempatnya, hanya semudah itu. Mulai dari hal kecil, 
kita harus disiplin. Sampah plastik dan organik kita pisahkan, karena 
bisa diolah lagi. Sampah plastik kita sulap jadi barang berguna. Sampah organik jadi pupuk tanaman,’ begitu bunyi petikan lirik lagu tersebut.

Tiga pejabat tersebut pun mengikuti irama lagu sambil bertepuk tangan.Ada juga tarian Lampah (pilah sampah) yang dipentaskan tiga siswa SD Negeri Dinoyo 3 Malang, Jawa Timur. Tarian ini memiliki makna berjalan menuju sukses menjadi pegiat untuk menjaga lingkungan, serta edukasi perangi sampah yang disampaikan lewat lagu-lagu berirama reggae.

Ada dua grup band yang manggung pada Jumat malam membawa ‘misi untuk sampah’ dipentaskan The Stars dan De Lale Band yang seluruh personelnya pemuda-pemudi setempat yang juga memiliki kepedulian terhadap kebersih­an lokasi wisata tersebut.

Konser musik digelar di ruas jalan Inay Bay pada Jumat malam menyedot ratusan penonton. “Pentas musik ini bertujuan menghibur masyarakat yang sudah membersihkan sampah-sampah,” kata Ketua Komunitas Musik Labuan Bajo, Frederikus.

Setelah adanya kesadaran membuang sampah pada tempatnya, Lurah Labuan Bajo, Sarifudin Malik, ingin tempat sampah tersedia dalam jumlah yang cukup mulai rumah penduduk sampai hotel berbintang. “Saat ini satu bak sampah untuk 10-20 rumah, saya ingin diperkecil menjadi satu bak sampah untuk lima rumah,” ujarnya.

Persoalan lain juga muncul. Saat sampah sudah terkumpul, mobil 
pengangkut sampah hanya tersedia lima unit yang melayani pengangkutan sampah untuk Kecamatan Komodo. ­Idealnya, tambahnya, lima truk sampah itu hanya melayani pengangkutan sampah di Kelurahan Labuan Bajo.

Persoalan lain yang perlu diatasi, katanya, ialah limbah cair yang 
bersumber dari rumah penduduk masih dibuang ke laut. “Hampir sebagain besar saluran-saluran air dari rumah penduduk muaranya ke laut,” kata Sarifudin Malik.

Namun, ia yakin jumlah rumah penduduk yang membuang limbah ke laut akan berkurang karena saat ini satu-satunya instalasi pengolahan air limbah (Ipal) di kelurahan tersebut, sudah dimanfaatkan oleh 270 keluarga.

Pengelola hotel dan restoran diwanti-wanti agar tidak membuang limbah ke laut. “Saya lihat limbah hotel dibuang ke tong sampah dan dibawa ke TPA,” tambahnya.

Jika tempat sampah dan armada tersedia dalam jumlah yang cukup, sampah di Labuan Bajo akan tertangani dengan baik. Untuk mengurangi sampah di Labuan Bajo yang mencapai 13 ton per hari, fasilitas pengolahan sampah proses termal (PLTSa) berkapasitas 10 ton per hari yang dibangun Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Labuan Bajo juga bisa menjadi referensi dan proses pembelajaran bagi kota lainnya yang memang sudah mengalami darurat sampah.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho, mengatakan metode termal fokus pada pemusnahan sampah secara cepat, ramah lingkungan, dan menghasilkan listrik hingga 700 kilowat (Kw). Listrik dipakai untuk AC, penerangan, dan untuk menggerakan mesin yang ada di PLTSa tersebut. Namun, yang perlu diingat, tidak semua sampah masuk ke proses termal. 

“Harus laksanakan proses pengurangan sampah dari sumber (3R), terakhir sampah tidak bisa dimanfaatkan lagi, dibawa ke proses pengolahan sampah secara termal itu,” jelasnya.

Teknologi ini sudah berjalan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang.

WNA buang sampah ke laut
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengaku 
menerima laporan ada warga negara asing (WNA) yang berprofesi sebagai kapten kapal membuang sampah di laut Labuan Bajo. “Ada satu kapal, tadi malam teman saya cerita. Dia naik kapal di Labuan Bajo, orang asing kaptennya  buang sampah ke laut, ditegur oleh teman saya. Dia bilang kapal asing yang lain juga buang sampah di laut,” katanya.

Dia minta kejadian itu tidak boleh terjadi lagi. Masyarakat Labuan Bajo juga diminta betul-betul peduli terhadap sampah. “Didik anak-anak kita supaya peduli terhadap sampah,” tambahnya.

Pemerintah daerah dan pejabat di daerah itu juga diminta terus 
mengingatkan warga agar membuang sampah pada tempatnya. Tidak membuang sampah di laut dan di jalan.

Ia menyarankan, salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat ialah 
melalui tokoh-tokoh agama, yang disampaikan lewat khotbah di gereja maupun di masjid. “Kebersihan itu bagian dari iman,” tandasnya. (PO/S1-25)

Baca Juga

DOK: KPI

Digitalisasi Penyiaran Tunaikan Informasi dan Pendidikan

👤S1-25 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:28 WIB
KPI menyambut baik rencana analog switch off (ASO) pada 2022, sebagai sebuah transformasi teknologi siaran yang akan memberi banyak manfaat...
AFP

Miley Cyrus Mengaku Pernah Melihat UFO

👤MI 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 03:15 WIB
MUSIKUS asal Amerika Serikat, Miley Cyrus, barubaru ini membagikan pengalamannya yang tak...
Instagram @TIARAANDINI

Tiara Andini Masuk Nominasi Peraih AMI Awards

👤MI 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 02:50 WIB
SATU hal yang tak disangka-sangka oleh Tiara Andini, 19, masuk sebagai salah satu nomine di AMI Awards...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya