Selasa 10 Maret 2020, 06:40 WIB

Covid-19 dan Kesiapsiagaan Sekolah

Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI | Opini
Covid-19 dan Kesiapsiagaan Sekolah

Dok.LIPI

DIREKTUR Jenderal WHO, Selasa (3/3), dalam konferensi persnya menyatakan bahwa saat ini terdapat 90.893 kasus covid-19 serta 3.110 kematian yang dilaporkan secara global. Menurutnya, dalam 24 jam terakhir, Tiongkok melaporkan 129 kasus yang merupakan jumlah kasus terendah sejak 20 Januari.

Di luar Tiongkok, terdapat 1.848 kasus dilaporkan di 48 negara. 80% dari kasus-kasus tersebut berasal dari tiga negara, yaitu Korea Selatan, Iran, dan Italia. Sementara itu, 12 negara baru telah melaporkan kasus pertama, 21 negara memiliki satu kasus, serta 122 negara belum melaporkan adanya kasus.

Di Indonesia, setelah Presiden mengumumkan tentang dua warga Indonesia yang positif covid-19, ada begitu banyak kegelisahan yang mendera publik. Kehebohan, terutama di media sosial, begitu terasa, meskipun di dunia nyata aktivitas harian masih berjalan seperti biasa.

Jalanan di Jabodetabek tetap ramai--bahkan terasa semakin macet--tidak ada kantor yang libur, fasilitas publik masih padat, dan barang-barang relatif masih mudah didapat, kecuali untuk masker dan hand sanitizer yang menghilang atau lebih mahal harganya.

Kemarin, pemerintah menyebutkan yang positif covid-19 bertambah menjadi 19 orang.

Meningkatkan kesiapsiagaan

Di dunia pendidikan, sekolah-sekolah tetap beraktivitas seperti biasa. Di beberapa daerah, sudah ada edaran yang diberikan ke pihak sekolah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi saat ini. Misalnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan sudah menyebarkan imbauan kepada satuan pendidikan untuk berupaya mencegah penyebaran covid-19 dengan mengintensifkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), peningkatan peran Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M), dan berkolaborasi dengan pihak pemerintah daerah atau instansi terkait.

Imbauan tersebut ditanggapi beragam oleh pihak sekolah. Beberapa sekolah meresponsnya dengan sigap. Misalnya, Sekolah Victory Plus, salah satu sekolah internasional di Bekasi, langsung memberi surat kepada orangtua dan menyatakan status siaga 2 di sekolah.

Dalam surat edaran tersebut, secara detail dijabarkan apa saja yang menjadi kebijakan sekolah, dari pemeriksaan suhu badan setiap masuk ke sekolah, pembersihan sekolah lebih intensif, dan tentang bersin dan pola bersalaman. Lalu, anjuran tentang siswa yang demam untuk tidak masuk sampai keadaan membaik hingga tidak diizinkannya orangtua dan siswa yang baru melakukan kontak dengan siapa pun yang baru bepergian dari negara-negara yang sedang terdampak covid-19.

Upaya yang sigap itu tentu patut diapresiasi, apalagi sekolah memiliki kapital untuk menjalankannya. Kesiapsiagaan sekolah menjadi sangat penting dalam merespons situasi saat ini. Sense of crisis dari sekolah dengan memiliki standar operasional prosedur yang jelas akan membuat orangtua menjadi nyaman. Selain itu, juga menjadi hal yang baik untuk menghalau penyebaran virus.

Pertanyaannya kemudian, apakah semua sekolah kita siap melakukan upaya yang mendetail seperti itu? Kita tentu berharap semua sekolah mampu untuk melakukan pencegahan terhadap penyebaran virus korona.

Jika becermin dengan situasi sekolah-sekolah di Indonesia, rasanya hal tersebut relatif sulit dilakukan bila hanya bersandar pada sekolah. Itu karena kemampuan sekolah untuk menyediakan alat untuk mengecek suhu badan, wastafel dan sabun cuci tangan, masker, klinik, dan perangkat lainnya sangat bervariasi.

Oleh sebab itu, imbauan dari pemerintah tidaklah cukup. Perlu ada upaya struktural untuk menjamin kenyamanan dan keamanan warga. Selain edukasi publik yang menjadi sangat krusial, penyediaan masker (bagi yang sakit), hand sanitizer, sabun cuci tangan dan wastafel, serta perangkat lain perlu dijamin ada di sekolah, bahkan di ruang publik lainnya.

Mengandalkan sekolah untuk menyiapkan itu semua tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bagi beberapa sekolah yang memiliki kapital memadai, tentu menyiapkan perangkat yang dibutuhkan untuk mencegah penyebaran virus menjadi sangat mudah. Sementara itu, sekolah-sekolah yang hanya mengandalkan dana pemerintah tentu bukanlah hal yang mudah.

Apalagi merujuk pada Syarifah Aini Dalimunthe (2019) dalam tulisannya Bencana Pandemi Covid-19 tidak Socially Neutral menyebut bahwa kelompok miskin sangat rentan menghadapi berbagai pandemi yang ada, termasuk dalam penyebaran virus korona yang terjadi saat ini.

Menurutnya, rumah tangga yang memiliki keterbatasan dalam mengakses air bersih atau tinggal di permukiman yang rapat memiliki keterpaparan yang tinggi terhadap virus. Jika tidak disikapi secara serius, tentu saja bencana yang akan dituai. Maka, sekolah-sekolah pun perlu diperhatikan kondisinya oleh pemerintah. Siapkah perangkat di tiap sekolah?

Upaya struktural

Kampanye Germas memang sangat penting, tapi harus diimbangi upaya struktural karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengakses beragam perangkat yang memadai dalam menangkal virus. Meskipun siapa saja bisa terdampak, lagi-lagi kelompok miskin yang lebih rentan.

Dalam hal sekolah, sebagai lokasi massal anak-anak berkumpul jelas rentan sekali terdampak. Maka pemerintah tidak bisa hanya memberi imbauan, tetapi juga membantu secara langsung kebutuhan-kebutuhan sekolah dalam melakukan upaya preventif pencegahan virus korona.

Selain alur penanganan jika ada orang di sekitar kita diduga terkena virus korona. Langkah apa yang harus dilakukan dan rumah sakit mana yang harus dituju? Itu yang sangat penting.

Di sisi lain, kampanye Germas dan infomasi tentang upaya preventif lainnya harus digencarkan. Edukasi publik sering kali berbenturan dengan beragam misinformasi, disinformasi, bahkan berita hoaks, apalagi setelah pengumuman Presiden. Bukan hanya kewaspadaan yang meningkat, melainkan juga stigma terhadap kedua pasien yang positif.

Di WAG dan media sosial, berita gosip justru lebih dianggap menarik jika dibandingkan dengan arahan WHO tentang upaya pencegahan penyebaran virus korona.

WHO melalui website ataupun media sosialnya secara khusus telah memberikan arahan-arahan dalam upaya mencegah penyebaran virus korona.

Sekolah-sekolah harus mendapatkan informasi yang valid dan memadai tentang penanganan terkait dengan virus korona. Rasa takut tentu wajar, tetapi menjadi lebih parah jika kita justru lebih banyak disuguhi berita-berita palsu yang meresahkan.

Dari sekolah, selain mengedukasi anak-anak untuk melakukan pola hidup sehat, melawan berita palsu dapat diupayakan. Guru merupakan agen transmisi terpenting dalam menyebarkan informasi yang relevan, juga membangun budaya bersih di lingkungan sekolah.

Dalam situasi ini, solidaritas dan kerja sama yang harus dikuatkan. Mengutip pernyataan Direktur Jenderal WHO 'Once again, this is a question of solidarity. This cannot be solved by WHO alone, or one industry alone. It requires all of us working together to ensure all countries can protect the people who protect the rest of us'. Ya, solidaritas dan kekukuhan dalam satu rasa dan penanggungan yang membuat kita dapat bekerja bersama untuk mengatasi segala persoalan.

Baca Juga

MI/MOHAMAD IRFAN

Kedaulatan Data Pribadi

👤Willy Aditya Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:15 WIB
Karena bernilai itulah data pribadi kerap...
MI/AGUS UTANTORO

Konstitusionalitas Hasil Pilpres 2019

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:10 WIB
Semestinya hak uji materi MA dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kekacauan...
Dok. Pribadi

Belanja Militer Jumbo Vs Reformasi Militer, Mana Dulu?

👤Ade Muhammad Pakar Sistem Pertahanan 🕔Jumat 10 Juli 2020, 04:35 WIB
BELANJA militer besar besaran oleh Kemenhan yang diungkap Badan Pusat Statistik ialah terkait dengan data lonjakan impor senjata dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya