Senin 09 Maret 2020, 22:35 WIB

Crude Oil Turun, Pemerintah Tidak Buru-Buru Sesuaikan Harga BBM

Raja Suhud | Ekonomi
Crude Oil Turun, Pemerintah Tidak Buru-Buru Sesuaikan Harga BBM

Antara/Agung Rajasa
Operator SPBU melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax turbo ke kendaraan konsumen di SPBU Dago, Bandung, Jawa Barat.

 


Jatuhnya harga minyak dunia  akibat perang harga antara Rusia dan Arab Saudi menjadi faktor baru  yang mendapat perhatian pemerintah setelah virus korona dan runtuhnya harga saham di Bursa Efek Indonesia.


Penurunan harga minyak yang mencapai level US$30-an per barel membawa konsekuensi besar bagi pemerintah. Pertama adalah  dampak negatif pada penerimaan negara karena berarti devisa penjualan hasil minyak mentah Indonesia lebih sedikit.


Kedua, memberi peluang bagi pemerintah untuk menurunkan harga BBM sebagai bagian dari stimulus yang diperlukan untuk mempertahankan daya beli masyarakat yang tergerus akibat peningkatan harga barang-barang akibat virus korona.  


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menilai anjloknya harga minyak dunia harus dicermati baik-baik. Namun tidak perlu direspon dengan kebijakan yang terburu-buru.

"Tadi saya juga bilang di Istana, harga (minyak) ini kita mesti cermati baik-baik, tidak boleh juga buru-buru karena yang kena bukan Indonesia saja tapi dunia kena sekarang,"katanya ditemui di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi Jakarta, Senin (9/3).

Ekonomi Global Melemah, Jokowi : Kalkulasi Risiko Lebih Detail
Saat ditanya apakah pemerintah perlu memberi kebijakan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak menyusul anjloknya harga minyak dunia, Luhut
mengaku hal tersebut tidak bisa diputuskan begitu saja. "Ya nanti, pelanlah. Baru satu hari kan. Ini kan hanya perkelahian antara Rusia dan Saudi. Jadi ndak boleh buru-buru. Lihat yang begini ini mesti cermat," ujarnya.

 

Sebelumnya, harga minyak dunia turun signifikan lebih dari 20% dimana minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate(WTI)
dan Brent Oil masing-masing turun ke level US$32,4  per barel atau turun 21,5% dan US$35,31  per barel terkoreksi 22%.
 
Anjloknya harga minyak dunia itu terjadi setelah Rusia menolak turut serta dalam pemotongan produksi yang diikuti dengan penurunan harga jual oleh Saudi Arabia.
 
Rusia menolak keras usulan pengurangan produksi curam OPEC untuk menstabilkan harga karena wabah Virus Corona memperlambat ekonomi global dan mengganggu permintaan energi. (Ant/E-1)

Baca Juga

Antara

Saham Inggris Kembali Melemah Tergerus 1,09 persen

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:35 WIB
SAHAM-saham Inggris berakhir lebih rendah pada perdagangan Selasa atau Rabu WIB (28/10), memperpanjang penurunan untuk hari kedua...
Antara

Saham Prancis Merugi Dengan Indeks CAC 40 Jatuh 1,77 persen

👤Muhamad Fauzi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:30 WIB
SAHAM-saham Prancis kembali ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa (27/10) atau Rabu WIB, mencatat kerugian untuk hari kedua...
ANTARA/Irsan Mulyadi

Pemerintah Berencana Sesuaikan Tarif Pungutan Ekspor CPO

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:27 WIB
Namun, besaran tarif itu belum dipublikasikan lantaran menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang saat ini masih dalam tahap...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya