Senin 09 Maret 2020, 09:30 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Perlu Direvisi ke Bawah

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Perlu Direvisi ke Bawah

ANTARA FOTO/M Risyal Hidaya
Ilustrasi

 

EKONOM dari Center of Reforms on Economic (CORE) Indonesia, Piter Abdullah sependapat dengan laporan Moody's Investor Services soal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Lembaga pemeringkat itu merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula 4,9% menjadi 4,8%. Perevisian tersebut dilatarbelakangi oleh merebaknya Covid-19 (virus korona).

"Dampak virus korona terhadap perekonomian Indonesia sudah sangat jelas. Pertumbuhan ekonomi triwulan I sudah dapat dipastikan di bawah 5%," ujar Piter saat dihubungi Minggu (8/3).

Kondisi serupa menurutnya masih akan terjadi pada triwulan II. Persoalan virus korona masih akan berdampak dan menghantui perekonomian global dan domestik. Meski pemerintah dan Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan pelonggaran dan stimulus pada perekonomian dalam negeri, itu hanya efektif untuk menahan pelambatan ekonomi.

"Pelambatannya sendiri tetap terjadi. Dengan perlambatan yang signifikan pada triwulan I dan II. Sementara pada triwulan III dan IV meskipun perekonomian sudah membaik tetapi tidak akan cukup menutup besarnya pelambatan perekonomian pada triwulan I dan II," jelas Piter.

"Oleh karena itu proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 sewajarnya direvisi ke bawah. Saya perkirakan di 2020 ini pertumbuhan ekonomi kita dikisaran 4,6% sampai dengan 4,9%," pungkas Piter.

Pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar 5,3%. Dalam laporannya yang bertajuk Global Macro Outlook 2020, Moody's mengatakan dampak dari virus korona akan mengguncang rantai pasokan dan permintaan, yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2020.

"Kami merevisi baseline perkiraan pertumbuhan ekonomi 2020 untuk semua ekonomi G-20. Negara-negara ini sebagai kelompok, akan tumbuh sebesar 2,1% pada tahun 2020, 0,3 poin lebih rendah dari perkiraan kami sebelumnya," demikian petikan laporan Moody's yang diterima Minggu (8/3).

baca juga: Tenang, Dampak Korona ke Perbankan Masih Managable

Khusus untuk Tiongkok, diperkirakan pertumbuhannya di 2020 hanya sebesar 4,8%, turun dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,2%. Pun demikian dengan AS, diprediksi pertumbuhan ekonominya hanya akan sebesar 1,5% di 2020. Angka itu juga lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,7%. Selain menyebabkan terganggunya rantai pasokan dan guncangan permintaan, Moody's menilai permintaan domestik juga akan terganggu lantaran merebaknya virus korona. Itu disebabkan ketakutan berlebih yang akhirnya mengubah pola konsumsi masyarakat di tiap negara terdampak virus tersebut. (OL-3)

 

Baca Juga

Antara

Erick Petakan Langkah Strategis BUMN Jaga Perekonomian

👤Despian Nurhidayat 🕔Minggu 05 April 2020, 22:04 WIB
Langkah awal yang akan dilakikan ialah merampingkan 51 anak-cucu usaha dari Pertamina, Telkom, dan Garuda...
ISTIMEWA

PLN Kerja Sama dengan Aparatur Daerah Jangkau Daerah Terpencil

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 April 2020, 19:23 WIB
Hingga Pukul 09.00 WIB, 10 Juta Pelanggan Prabayar Sudah Dapat Nikmati Token Listrik...
MI/USMAN ISKANDAR

Kondisi Perbankan Masih Baik

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 05 April 2020, 19:14 WIB
Kondisi perbankan hingga saat ini masih cukup baik meski pandemi covid-19 perlahan memukul berbagai sektor...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya