Senin 09 Maret 2020, 09:00 WIB

Nasib Pembunuh Bocah Tunggu Hasil Tes

Tri Subarkah | Megapolitan
Nasib Pembunuh Bocah Tunggu Hasil Tes

ANTARA/Andi Firdaus
Wakapolrestro Jakarta Pusat AKBP Susatyo memperlihatkan coretan gambar yang dibuat oleh tersangka NF (15)

 

PIHAK kepolisian mulai melakukan serangkaian pemeriksaan kejiwaan terhadap remaja berusia 15 tahun yang diduga membunuh bocah APA, 5, di Rumah Sakit  Bhayangkara Raden Said Sukanto (RS Polri Kramat Jati), Jakarta Timur. Apabila pelaku terbukti mengidap gangguan jiwa, proses hukum tidak dilanjutkan.

Hal itu disampaikan Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Susatyo Purnomo Condro dan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus secara terpisah, kemarin.

"Enggak boleh dihukum. Tapi, kan kita masih dalami semuanya, ke psikolog, psikiater. Karena anak ini kan membunuh. Selain itu, polisi juga harus membuktikan bahwa memang remaja itu benar-benar membunuh tetangganya sendiri, meskipun dia sudah ngaku," kata Yunus.

Hal tersebut, lanjutnya, sesuai dengan Undang-Undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Ada empat asas yang digunakan dalam menangani kasus tersebut. Pertama, asas praduga tak bersalah, anak sebagai korban, harus didam-pingi orangtua, pengacara, dan Bapas (Balai Pemasyarakatan). Keempat, tahanannya berbeda dengan orang dewasa, pelaku akan dipisahkan, biasanya dititipkan di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak).

Terpisah, Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel mengungkapkan, kasus remaja pembunuh bocah 5 tahun itu cukup pelik dan menghadirkan tantangan ekstra bagi penyidik.

"Secara teori klasik, teori belajar sosial, apa pun yang dilihat manusia, memang mendorongnya untuk melakukan hal serupa. Namun, peristiwa keji tersebut tidak akan terjadi apabila manusia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tidak setiap orang yang menonton tayangan kekerasan lantas menjadi pelaku kekerasan," tambahnya.

Psikolog dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) itu berharap media tidak mengekspos pelaku secara berlebihan. Ia khawatir dampaknya bisa  menginspirasi anak-anak lain.

Lebih lanjut, Reza menjelaskan, terdapat empat kondisi yang bercampur pada diri anak dengan perilaku tersebut, yakni  impulsivity, aggression, manipulativeness, dan defiant.

"Hukuman yang akan diberikan kepada anak juga harus dengan pertimbangan sematang mungkin. Pasalnya, studi kekinian di bidang psikologi dan neuroscience justru memandang, anak dengan tabiat callous unemotional--sebutan lazim bagi anak berkepribadian psikopat--tidak laik dihukum. Program rehabilitasi psikis dan sosial pun belum ada yang benar-benar memberikan faedah yang positif," papar Reza. (Tri/Ata/X-7)

Baca Juga

ANTARA/Hafidz Mubarak A

Ini Alasan DPRD Minta Dilibatkan dalam Penerapan PSBB

👤Kautsar Bobi 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 08:11 WIB
Gubernur DKI harus menginformasikan terlebih dahulu kepada DPRD terkait diterapkanya PSBB. Kemudian DPRD akan melakukan pendalaman terlebih...
ANTARA FOTO/Moch Asim

290 Ribu Warga Depok akan Dapat Vaksin Covid-19 Mulai November

👤Kisar Rajaguguk 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 08:00 WIB
Total warga Depok yang akan divaksin adalah 60% dari jumlah penduduk. Namun untuk tahap awal baru 20% yang akan...
MI/Arya Manggala

18 PNS Incar Kursi Sekda DKI

👤Put/J-2 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 06:32 WIB
Terdapat nama PNS yang saat ini aktif menjabat, seperti Sri Haryati selaku Penjabat Sekda DKI; Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya