Minggu 08 Maret 2020, 21:05 WIB

Laporan Moody's Mengkonfirmasi Pemburukan Ekonomi

M Ilham Ramadhan | Ekonomi
Laporan Moody

Antara/Andri Widiyanto
Suasana bongkar muat di pelabuhan. Dampak virus Korona membuat perekonomian memburuk

 


Laporan dari Lembaga Pemeringkat Moody's yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,9% menjadi 4,8% menjadi sinyal beratnya perekonomian ke depan.
Direktur Eksekutif Intstitute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menuturkan, laporan dari lembaga pemeringkat indepen itu  menjadi salah satu konfirmasi akan prediksi bahwa ekonomi Indonesia di 2020 akan memburuk.

"Saya kira respon lembaga internasional kepada kita menunjukkan bahwa ekonomi kita di 2020 akan semakin buruk dari perkiraan semula. Lembaga independen internasional saja sudah ragu kita bisa tumbuh di atas 5,0%," kata Tauhid saat dihubungi, Minggu (8/3).

Tauhid menilai, revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan buah dari efek lanjutan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Ditambah lagi merebaknya virus Korona yang dampaknya menjalar ke beberapa sektor perekonomian.


Setidaknya, kata Tauhid, 4 sektor perekonomian Indonesia seperti pariwisata, industri, perdagangan dan keuangan terdampak dari merebaknya virus korona. Di pariwisata misalnya, dalam skala domestik telah terjadi penurunan hingga 1,5 juta orang wisatawan.

 

"Sekarang yang rerata 6,5 juta penumpang per bulan, mungkin sekarang 5 jutaan. Itu turun drastis, ini menurut saya implikasi yang menunjukkan bahwa di dalam negeri orang sudah mulai menghindari perjalanan domestik," jelas Tauhid.

 

Merosotnya sektor pariwisata berimbas pada sektor penunjang lainnya seperti hotel, restoran, usaha makanan dan minuman serta transportasi. Sementara pada sektor industri, karena impor bahan baku hampir 27,5% diimpor dari Tiongkok, maka dampaknya amat terasa.

 

"Otomatis akan ada keterlambatan pasokan bahan baku industri. Sehingga industri akan delay, agak lama untuk beberapa produksi untuk industri yang melakukan impor dari Tiongkok, misalnya, kimia, tekstil, baja. Termasuk nikel juga tehambat karena kan ekspor nikel kita ke Tiongkok turun dan mereka tidak bisa berproduksi," urai Tauhid.

 

Tauhid sependapat dengan laporan Moody's yang menyebutkan dampak virus Korona akan mengubah pola konsumsi masyarakat. Menurutnya, konsumsi non pangan akan mulai melemah karena kekhawatiran penyebaran virus korona tersebut.

Akan tetapi Tauhid tak sependapat dengan laporan Moody's yang menyebutkan, virus korona meningkatkan risiko resesi global. Untuk Indonesia, kata Tauhid, masih terlalu dini untuk dikategorikan mengalami resesi.

"Kalau resesi itu biasanya kalau pertumbuhan ekonomi kita mendekati di bawah 4,5%. Itu sudah hampir. Tapi memang yang bahaya adalah kalau Indonesia tidak bisa menyelesaikan virus ini dalam waktu yang relatif cepat. Kalau misalnya masih bertambah besar, dan memakan korban lebih banyak, kemungkinan berkurangnya pertumbuhan ekonomi kita bisa lebih banyak," pungkasnya. (E-1)

Baca Juga

DOK KEMENTAN

Swasembada Bawang Putih Makin Menjauh Akibat Aturan Dilanggar

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 30 Maret 2020, 20:28 WIB
selain menabrak UU No.13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, juga sekaligus menyepelekan UU 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan...
MI/Putra Ananda

Pengusaha Garmen: Harga APD Rp50 Ribu karena Calo Jadi Rp1 Juta

👤Putra Ananda 🕔Senin 30 Maret 2020, 19:37 WIB
"Karena oknum dan calon tersebut, akibatnya harga APD yang beredar di pasaran saat ini melonjak hingga Rp300 ribu-Rp1 juta, padahal...
Antara/Idhad Zakaria

Menteri BUMN Pastikan Proyek Strategis Terus Berjalan

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Senin 30 Maret 2020, 18:44 WIB
"Penting juga memberi sinyal positif bahwa di tengah-tengah kita amat fokus pada penanggulangan korona. Tapi tetap ekonomi kita harus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya