Senin 09 Maret 2020, 03:00 WIB

Achmad Yurianto Redam Teror Misinformasi

Dhika Kusuma Winata | Hiburan
Achmad Yurianto Redam Teror Misinformasi

MI/M. Taufan
Achmad Yurianto

 

TIDAK  banyak masyarakat yang tahu bahwa orang di balik setelan alat pelindung diri (APD) serbaputih yang membuka pintu pesawat yang mengevakuasi 238 WNI dari Provinsi Hubei, Tiongkok, di Natuna, Kepulauan Riau, awal Februari lalu itu ialah Achmad Yurianto. Sosok yang kini menjadi juru bicara pemerintah untuk penanganan virus korona itu ialah orang yang mengoordinasikan karantina ratusan WNI tersebut.

"Saya memberanikan diri menjadi orang yang membuka pintu pesawat, lalu yang pertama berkontak dengan para WNI saat di Natuna. Itu agar semua yang di lapangan juga tidak ketakutan menangani mereka dalam masa karantina. Tentu saya berani dengan perhitungan rasional, wong sudah pakai pelindung lengkap," kata pria yang akrab disapa Yuri itu saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Sabtu (7/3).

Menurut Yuri, masalah terbesar dalam penanganan virus korona selain aspek kesehatan itu sendiri ialah kepanikan masyarakat. Maraknya informasi yang beredar, meneror masyarakat dan menimbulkan kepanikan.

"Kalau bencana seperti di Palu kepanikannya riil karena soal bantuan untuk bertahan hidup. Kalau covid-19 karena informasi. Selama ini gambaran masyarakat soal korona selalu Wuhan yang digambarkan sebagai kota mati, sembako susah, orang yang tiba-tiba mati di jalan. Image seperti itu yang ditangkap di masyarakat. Maka setelah pengumuman kasus pertama di Indonesia, terjadilah panik itu," ungkapnya.

"Kepanikan itu yang harus dibenerin. Kenyataannya enggak kayak gitu korona. Ini influenza, hanya virusnya baru. Dari dulu kita sudah pintar menghadapi influenza. Kepanikan ini akibat teror informasi," imbuh lelaki kelahiran Malang 1962, itu.

Menurut Yuri, Indonesia punya pengalaman baik dalam menghadapi pandemi global korona virus, seperti SARS-CoV dan MERS-CoV. Bedanya, kata pria yang menjabat Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes itu, masalah covid-19 lebih heboh lantaran banyaknya informasi yang tidak keruan.

"SARS dan MERS tidak seheboh ini karena tidak sebanyak sekarang yang punya akses informasi. Yang jadi masalah adalah informasi yang disebarkan kalau menyesatkan itu yang menimbulkan kepanikan. Episode ini memang jauh lebih ramai dan heboh. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga negara lain sama hebohnya," ucapnya.

Presiden Joko Widodo menunjuk Yuri sebagai juru bicara pemerintah mengenai covid-19. Tugasnya ialah mengoordinasikan penanganan korona dan mengomunikasikan perkembangan, serta kebijakan pemerintah. Yuri tak mengira ia akan ditunjuk langsung sebagai juru bicara. Sebagai orang berlatar belakang militer, ia tak pernah berpikir panjang atas penugasan tersebut dan langsung melakoninya. Yang jelas, ucapnya, Presiden berpesan kepadanya untuk meredam kepanikan publik.

"Kepanikan muncul karena ketidaktahuan. Karena itu, Presiden berpesan kepada saya untuk kelola informasi," ujarnya.


Jarang pulang

Tugas baru sebagai juru bicara pemerintah diakui Yuri memiliki intensitas tinggi dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Sejak 2014 hingga 2019, dia memimpin Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes yang antara lain menangani bencana di Lombok, Palu, dan Banten. Semasa dinas di TNI-AD, Yuri juga pernah menjalani misi sebagai dokter Batalyon Infanteri 745/Sampada Yudha Bakti yang ditugaskan ke Timor Leste (dulu dikenal Timor Timur) pada 1991. Yuri mengaku sudah terbiasa menghadapi situasi genting hingga tidak pulang berbulan-bulan.

"Di tentara dulu saya jadi dokter pasukan, tugasnya menangani kepanikan juga. Di Lombok, Palu, Banten, ketika bencana gempa dan tsunami juga begitu. Sampai tidak pulang berbulan-bulan. Di militer sudah biasa tidak pulang lama," ucapnya.

Intensitas pekerjaan yang tinggi dan beban besar dalam menangani berbagai masa krisis diakuinya kerap menimbulkan stres. Namun, ia juga tidak lupa untuk melepas stres. Ia mengaku punya terapi sederhana untuk menenangkan pikiran.

"Kalau ada waktu, saya memancing ke laut. Kalau tidak ada waktu, saya bertanam hidroponik. Kalau tidak, saya membuat macam-macam boneka dari bahan kertas bekas. Sesederhana itu, yang penting beban harus dilepaskan dulu sebentar, semua orang harus begitu kan," tukasnya. (H-3)

Baca Juga

Soompi

So Ji Sub Nikahi Mantan Wartawan

👤Siswantini Suryandari 🕔Selasa 07 April 2020, 13:08 WIB
Di tengah pandemi virus korona, So Ji Sub dan Jo Eung Jung dalam keterangan resmi tidak akan menggelar resepsi pernikahan. Mereka hanya...
AFP/ROBERTO SCHMIDT

Gloria Estefan Ubah Lagunya untuk Perangi Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 07 April 2020, 12:53 WIB
Gloria Estefan mengubah lagu Get On Your Feet menjadi Put On Your Mask untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai...
AFP/Tolga AKMEN

JK Rowling Mengaku Alami Gejala Covid-19 Selama Dua Pekan

👤Antara 🕔Selasa 07 April 2020, 10:16 WIB
Dia mengaku selama dua pekan mengalami semua gejala utama virus korona termasuk masalah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya