Minggu 08 Maret 2020, 13:50 WIB

Mensos: Taruna Siaga Bencana Ujung Tombak Penanganan Bencana

Antara | Humaniora
Mensos: Taruna Siaga Bencana Ujung Tombak Penanganan Bencana

Istimewa
Mensos Juliari P. Batubara memimpin rapat evaluasi penanganan bencana yang terjadi di wilayah Jabodetabek yang diikuti 250 relawan Tagana.

 

MENTERI Sosial (Mensos) Juliari P. Batubara memimpin rapat evaluasi penanganan bencana yang terjadi di wilayah Jabodetabek yang diikuti 250 relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat, Minggu (8/3).

Dalam sambutannya, Mensos memberikan apresiasi kepada para relawan Tagana karena pengabdiannya dalam penanganan bencana.

"Saya bilang kalau Kemensos tidak ada Tagana, kita tidak tahu harus bagaimana. Itu ucapan yang paling tulus dan itu penghargaan yang tidak bisa dinilai dengan uang," ucap Mensos di Jakarta, Minggu (8/3).

Aset Kementerian Sosial (Kemensos), lanjut Juliari, paling berharga saat kebencanaan adalah adanya relawan Tagana. Tidak ada yang lebih berharga dari Tagana untuk Kemensos khususnya pada saat bencana datang.

"Oleh karena itu, pagi hari ini saya mewakili Kementerian Sosial izinkan sekali lagi untuk menyampaikan penghargaan apresiasi yang setinggi tingginya untuk teman teman Tagana semua. Karena tanpa kalian pastinya Menteri Sosial tidak bisa apa apa pada saat bencana," papar Mensos.

Setiap saat, lanjutnya saya turun, saya jadi Menteri kurang lebih empat bulan, beberapa kali saya turun saya lihat disana sudah banyak tagana dan semua dalam keadaan yang siaga dan dalam keadaan in action.

"Jadi bukan dalam keadaan yang seliweran tidak jelas, kan bisa kita nilai semua dalam keadaan siaga dan in action," tutur Ari sapaan akrab Mensos

Ari mengatakan bahwa bencana di Tanah Air sifatnya permanen jadi tidak mungkin tidak ada bencana. "Apakah itu banjir, gempa, letusan gunung berapi, kemudian juga disamping bencana alam bencana sosial juga tetap kita harus waspada dan siaga", katanya.

Oleh karena itu, ungkapnya, sudah sangat pantas apabila kehadiran Tagana ini bisa meringankan atau meminimalisasi tambah beratnya atau tambah korbannya pada saat bencana terjadi karena Tagana ini lahir dari community base disaster managment yang berasal dari masyarakat.

Rapat evaluasi penanganan bencana yang melibatkan 250 Tagana tersebut juga dihadiri Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat, Dirjen Pemberdayaan Sosial Pepen Nazarudin, Dirjen Rehabilitasi Sosial Edy Suharto, dan Kepala Kepala Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial (BP3S) Kemensos Syahabuddin.

Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa ke depan bukan hanya jumlahnya (Tagana) yang dijaga tapi kualitas ditingkatkan. Jumlah Tagana utamanya harus bertambah begitu juga Tagana Madya dan Tagana Pratama.

"Tagana Madya menjadi tagana utama yang tadinya Pratama menjadi Madya. Inilah penjenjangannya yang harus di perkuat", tutur politikus PDIP tersebut. (Antara/OL-09)

Baca Juga

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Dilema Pilkada Serentak di Tengah Ancaman Pandemi

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 12:10 WIB
Tahap-tahap kegiatan Pilkada Serentak ini dikhawatirkan berbagai pihak akan menciptakan kerumunan. Padahal seharusnya hal ini dihindari...
Antara

Cemari Udara, Walhi: BBM Oktan Rendah Berdampak Buruk

👤Antara 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 11:38 WIB
Dampak buruk penggunaan bahan bakar minyak (BBM) beroktan atau RON rendah mulai dari pencemaran udara hingga gangguan kesehatan, termasuk...
Istimewa

Hadapi Pariwisata Era Pandemi, Sekolah Pariwisata Perlu Inovasi

👤Syarief Oebaidillah 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 10:40 WIB
Tantangan yang dihadapi sekolah tinggi pariwisata di Indonesia semakin berat karena persaingan semakin ketat. Terlebih sejak pandemi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya