Minggu 08 Maret 2020, 00:20 WIB

Merdeka Belajar

Fetry Wuryasti | Weekend
Merdeka Belajar

MI/ADAM DWI
Rektor Universitas Indonesia (UI), Profesor Ari Kuncoro.

PENDAFTARAN calon peserta seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) atau jalur undangan dan seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN/ujian tulis berbasis komputer) telah dibuka. Jika berkaca pada data tahun lalu, ada 168.742 peserta diterima di 85 perguruan tinggi negeri (PTN) se-Indonesia melalui jalur SMBPTN serta 93.321 peserta lewat jalur undangan.

Angka itu menunjukkan masih tingginya minat calon mahasiswa untuk kuliah di PTN. Untuk mengetahui lebih jauh serba-serbi tentang pendidikan tinggi di Indonesia, peran PTN di era disrupsi serta mutu lulusan PTN,  wartawan Media Indonesia, Adiyanto dan Fetry Wuryasti, mewawancarai Rektor Universitas Indonesia (UI), Profesor Ari Kuncoro, yang juga seorang ekonom. Berikut petikannya.

Belum lama ini, UI berhasil menduduki peringkat pertama PTN di Indonesia versi Webometrics Ranking of World Universities 2020. Lembaga ini juga  menempatkan UI di peringkat ke-10 PTN terbaik di Asia Tenggara dan peringkat 766 di dunia. Sebagai rektor, bagaimana Anda melihat keberhasilan ini?

Peran universitas itu sangat berkaitan dengan defisit neraca dagang suatu negara. Jadi, kalau kita perhatikan negara-negara yang neraca dagangnya sehat, biasanya peringkat universitasnya bagus-bagus. Salah satu contohnya, Singapura.

Singapura memosisikan diri sebagai konsep excellence untuk universitas. Di sana, universitas sudah mencapai kelas dunia. Akibatnya dia menjadi pusat tujuan orang di dunia untuk mengenyam pendidikan, termasuk dari Indonesia. Itu ada konsekuensi lagi kepada neraca berjalan dan segala macam. Jadi, sangat sederhana sebenarnya.

Namun, sebenarnya di balik rangking adalah kemampuan menghasilkan SDM yang tingkat manajer berkecimpung dalam dunia negosiasi, mulai penelitian sampai rantai pasokan industri. Universitas di Indonesia, tidak hanya UI, harus terus memperbaiki diri.

Tadi Anda menyebut soal SDM, lantas bagaimana peran universitas untuk mencetak lulusan yang andal?

Sebenarnya yang diperlukan negara ini adalah lebih guyub ke dunia internasional. Negosiasi dengan luar negeri bisa lewat perdagangan internasional, diplomasi, atau universitas. Kita harus menembus tembok-tembok budaya.

Untuk menembusnya, ada pada level universitas. Jadi, ini mikrokosmos. Pertama adalah dengan menggunakan program internasionalisasi dari pendidikan. UI memiliki double degree/gelar ganda dan join degree berupa pertukaran pelajar.

Kalau double degree melalui kelas khusus internasional (KKI). Pendidik­annya 2 tahun di UI, 2 tahun sisanya di universitas negeri di negara lain, misalnya, di Australia.

Dengan begitu, mahasiswa akan memiliki jejaring dengan lingkungan Indonesia dan Australia. Itu karena kemampuan dia menjadi pengusaha, ilmuwan, perlu teman yang pertemanan itu dibangun pada saat dia berada di bangku universitas. Jadi, penting bagi UI untuk mempunyai mitra universitas-universitas yang bereputasi pendidikan untuk prog­ram double degree ini.

Untuk itu, kita mesti memperbaiki diri. Pertama, rangking kita tidak boleh jatuh, kemudian keuangan kita. Ketiga, kita juga harus memiliki dosen-dosen yang berkualitas internasional.

Bagaimana cara mengembangkan kemampuan dosen?

Dosen bisa berkembang kalau mereka mempunyai kegiatan penelitian yang bisa mengasah keahlian, melakukan berbagai conference di dalam dan luar negeri.

Dunia ilmu pengetahuan saat ini adalah dunia orang harus bersilaturahim. Orang tidak bisa sendirian di laboratorium menemukan sesuatu seperti dahulu. Sekarang peneliti harus saling berbagi ide. Makanya, sekarang yang laku itu kolaborasi penelitian. Selain untuk pertukaran ide, juga menghemat biaya karena laboratoriumnya dan penelitiannya bisa dibagi-bagi.

Dengan para dosen terlibat dalam klaster penelitian internasional, mereka akan punya kemampuan untuk membuka kontak dengan universitas lain yang lebih bereputasi. Dosen itu bukan hanya mesti pintar, melainkan juga harus punya soft skill untuk menghasilkan kerja sama.

Dalam pidato Anda saat terpilih sebagai rektor, Anda mengutip peribahasa suku Bushmen di Afrika bahwa perburuan akan membawa hasil banyak jika dilakukan secara bersama-sama. Bisa Anda jelaskan maksudnya?

Dunia sekarang adalah dunia kolaborasi. Pengetahuan sekarang tidak bisa untuk pintar sendiri. Dengan berbagi dan bekerja sama, maka terangsang untuk menciptakan ilmu pengetahuan yang lebih baru.

Menteri Pendidikan Nadiem Makarim belum lama ini menekankan perlunya kolaborasi antaruniversitas di Indonesia dalam bentuk mahasiwa boleh kuliah di program studi di universitas lain. Selama ini belum ada karena banyak urusan terkait dengan SPP (biaya kuliah), transfer nilai, dan lainnya. Ide ini bagus karena bisa saling bertukar pengalaman antar-PTN dan mahasiswanya. Nanti perkuliahan bisa diisi pada semester biasa.

Di UI, sejauh ini baru dilakukan antarfakultas. Artinya, mahasiswa boleh mengambil mata kuliah di fakultas lain, tentunya yang masih berhubungan.
 
Kenapa tidak diterapkan mayor-minor saja sekalian seperti universitas di Amerika?

Ya, itu adalah implikasi dari mengambil kuliah di luar program studi. Jadi, nanti bisa kita definisikan, misal, anak yang berkuliah di prodi ekonomi mau mengambil beberapa mata kuliah di fakultas hukum. Nanti ekonominya jadi mayor, hukumnya jadi minor.

Kita (UI) sudah seperti itu, tetapi belum dideklarasikan sebagai mayor dan minor. Misalnya, anak ekonomi ambil mata kuliah di matematika atau hukum. Itu diterima sebagai blok transfer. Kita memang nanti menuju ke arah sana (mayor-minor), tetapi agak lambat prosesnya.

Guru besar UI, Profesor Rhenald Kasali, memprediksi ke depan kampus akan hanya jadi semacam event organizer yang menyelenggarakan kelas-kelas dengan pengajar ahli-ahli seluruh dunia. Apakah nantinya akan seperti Itu?

Jadi, memang kampus akan berge­rak ke arah sana, istilahnya clearing house. Dosen mungkin tinggal merekam kuliahnya, mahasiswa tinggal di rumah. Kalau perlu tatap muka, tinggal tentukan hari untuk konsultasi. Itu masa depan universitas, virtual.

Selain itu, kampus juga akan berupa platform di masa depan. Pekerja yang hanya butuh kemampuan tambahan terkait dengan pekerjaannya bisa mengambil mata kuliah tertentu. Nanti dia mendapat sertifikat.

Misalnya, seseorang butuh punya kemampuan statistik untuk pekerjaan di bank. Dia bisa ambil mata kuliah statistik, lalu mendapat sertifikat yang menyatakan tamat kuliah statistik dari fakultas MIPA. Bila dia butuh beberapa mata kuliah ekonomi, bisa ambil di fakultas ekonomi.

Apabila menambah jam pelajaran atau mengasah ke level yang lebih tinggi, bisa saja dia akan mendapat gelar master. Itu namanya global master program. Itulah yang dinamakan kemerdekaan dalam belajar karena kita belum tentu perlu gelarnya.

Lebih baik dengan skema gelar mayor-minor atau pemberian sertifikasi saja?

Tergantung kebutuhan orang itu. Pekerja butuhnya sertifikasi saja biasanya. Dia insinyur, tapi bekerja di perbankan sehingga butuh sertifikasi di bidang perbankan.

Namun, bila dia baru lulus SMA, punya pilihan untuk ambil gelar mayor-minor, misal prodi ekonomi. Dia ngin kerja di bidang legal, jadi butuh kelas hukum.

Itulah dunia yang baru. Jadi, industri tidak lagi melihat keahlian sebagai satu keahlian. Karena penelitian menunjukkan bahwa akhirnya hanya 20% dari keahlian yang kita peroleh di universitas, yang akhirnya terpa­kai. Sisanya dia harus belajar lagi.

Artinya, lulusan perguruan tinggi kita memang tidak siap pakai?

Sekarang ternyata yang namanya siap pakai itu sudah tidak ada lagi karena yang memakai sudah berubah teknologinya. Makanya, yang kita didik adalah lulusan yang siap beradaptasi pada perubahan teknologi.

Kalau begitu, apa perlu dibuat prodi baru dan menghapus prodi yang dianggap sudah tidak relevan?

Kalau membuat prodi baru harus dilihat apakah pengajarnya ada. Yang paling aman adalah lintas prodi. Mayor-minor yang sudah kita bicarakan tadi, misal akuntansi-politik. Ini lebih fleksibel.

Untuk mata kuliah, mungkin yang akan diubah dari yang satu arah menjadi partisipasi kelas. Jadi, meng­ajar menggunakan multimedia dikaitkan dengan isu terkini sehingga murid diajar untuk diskusi.

Menurut Anda, masih relevan penulisan skripsi sebagai syarat kelulusan mahasiswa?
Seorang mahasiswa itu harus bisa memformulasikan sesuatu. Waktu kerja nanti juga begitu. Pekerja harus menghasilkan solusi dari permasalahan. Solusi itu membutuhkan connecting the dot. Skripsi sebenarnya mendidik hal itu.

Namun, sekarang pemikirannya adalah kembali kepada strategi tiap-tiap mahasiswa. Mereka mengambil skripsi karena ingin membuat tulisan yang bagus dengan topik yang dipilih. Tujuannya nanti skripsi itu akan dipakai ketika dia interview pekerjaan ke depannya.

Ada juga mereka yang memilih magang. Mungkin pertimbangannya begitu selesai dia membuat laporan, punya kesempatan untuk bekerja di sana. Itulah yang disebut kemerdekaan dalam belajar.

Bagaimana dengan kuliah kerja nyata (KKN)?

Kalau KKN di UI sekarang optional. Laporannya bisa dikonversi menjadi kredit untuk SKS. Kalau KKN diwajibkan, bukan kemerdekaan namanya.

Terkait dengan maraknya hoaks di masyarakat, hal ini antara lain juga karena pakar/akademisi dari kalangan perguruan tinggi kurang berani speak up ke publik dan menyuarakan kebenaran. Apa pendapat Anda tentang hal ini?

Para pakar memang harus mengutarakan kebenarannya yang dia ketahui sebagai ahli untuk meluruskan berbagai hoaks. Namun, budaya yang masih merasa takut salah berbicara dan juga tidak merasa nyaman untuk berbicara kepada publik, itu jadi kendala karena dia merasa tidak bisa menyampaikan dengan bahasa yang bisa dimengerti orang lain.

Jadi, para pakar memang harus bisa membahasakan dunia ilmiah ke dunia aplikasi. Sayangnya, tidak semua orang bisa. Kami sekarang sedang mencoba, paling tidak dengan mengundang pembicara yang ahli, misalnya, untuk mengajarkan para dosen bagaimana konsep matematika yang ruwet dari  ekonomi bisa mudah dipahami awam.

Bicara soal radikalisme, kampus kerap dituding sebagai salah satu tempat penyemaian bibit-bibit radikalisme. Bagaimana pendapat Anda?

Salah satu kenyataan bahwa dengan berkembangnya kelas menengah, mereka juga punya kebutuhan untuk dunia spiritual. Masalahnya adalah siapa yang menjadi orang untuk dia hubungi? Ketika di kampus tidak ada alternatif, hanya ada orang itu. Akhirnya, dia melihat orang itulah yang paling bagus dijadikan ‘guru’. Padahal, yang namanya interpretasi pada ayat itu banyak. Jadi, dia harus melihat semuanya. Harus ada silaturahim secara akademis dengan yang lain, jangan bergaul dengan yang itu-itu saja, sehingga hanya satu pikiran yang dia anggap benar. Lama-lama pikiran itu mengkristal dan diyakini sebagai kenyataan.

Di lingkungan UI sendiri bagaimana?

Makanya, kita buat tugas-tugas kelompok agar anak-anak dari berbagai kelompok pendapatan dan asal/daerah bisa bercampur sehingga anak itu tahu ada perspektif lain dan berinteraksi. Anak itu juga akan memiliki perbandingan. Radikalisme itu adalah fenomena modern. Radikalis­me itu terjadi karena pada waktu pembentukan sikapnya, dia tidak pernah menghadapi orang/kelompok lain. Kita coba pecah dinding-dinding itu dengan forum kebangsaan. Kegiatan forum yang mendatangkan pakar yang mampu memecah kotak-kotak itu. Kemarin, kami hadirkan (Menko Polhukam) Mahfud MD, tapi dengan host Cak Lontong agar lebih cair juga pembahasannya. (M-4)

Baca Juga

123RF

'Bagaimana Mencegah Virus Corona’ Tren Teratas Google Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Selasa 07 April 2020, 01:15 WIB
Tanggal 16 Maret menjadi puncak minat...
Instagram @cmbynfilm

Timothee Chalamet Akan Bermain di Sekuel "Call Me by Your Name"

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 13:25 WIB
"Call Me by Your Name" masuk nominasi film terbaik Oscar...
 Angela Weiss / AFP

PBB Minta Pemerintah di Seluruh Dunia Lindungi Perempuan

👤Adiyanto 🕔Senin 06 April 2020, 10:25 WIB
Selama beberapa pekan terakhir ketika tekanan ekonomi dan sosial dan ketakutan telah tumbuh,  pihaknya telah menyaksikan lonjakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya