Minggu 08 Maret 2020, 00:00 WIB

Nyantaka, Anjani Hamil

Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia | Weekend
Nyantaka, Anjani Hamil

MI/Ebet
Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia

PERASAAN Dewi Anjani campur aduk. Ketidakkaruan itu mengharu biru sanubarinya sejak ia menyadari ada janin dalam rahimnya yang terus tumbuh dan membesar. Betapa tidak, ia belum bersuami dan tidak pernah sekalipun bersenggolan secara intim dengan lelaki mana pun. Rasa gelisah, malu, dan takut terus mengimpit hati dan pikirannya.

Anjani menyelisik hari-harinya yang lalu. Namun, ia tetap tidak bisa menjawab apa yang menyebabkan dirinya mengandung. Pun, waktu-waktu belakangan, apa yang ia lakukan sehari-hari tiada lain hanya ‘mengambang’ di Telaga Madirda yang airnya bening nan segar.

Hingga orok lahir, Anjani tetap tidak mengerti benih dari siapa putranya itu. Bayi laki-laki berwujud wanara berbulu putih yang diberi nama Anoman itu dewasanya sangat kondang di seluruh penjuru jagat.

Karma berebut cupu

Alkisah, pada suatu hari, Resi Gotama terganggu semedinya di sanggar pamujan Pertapaan Grastina. Gara-garanya, ada kegaduhan dari tiga anaknya, yakni Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa yang berebut cupu manik astagina. Tiga bersaudara itu tergila-gila ingin memilikinya.

Gotama terpaksa menghentikan laku spiritualnya, kemudian ia melangkah menemui anak-anaknya. Ia melihat Anjani memegang erat-erat cupu, sementara kedua adiknya tampak bersiap merampasnya. Gotama langsung paham bahwa yang direbutkan itu pusaka kahyangan milik Bathara Surya.

Ia meminta pusaka itu dan bertanya dari mana mendapatkannya. Anjani mengaku dipinjami sang ibu, Dewi Windradi, lalu Gotama memanggil istrinya itu. Namun, Windradi menutup mulut rapat-rapat, meski berulang kali sang suami menanyakan dari mana asal muasal cupu.

Gotama lalu bergumam, ditanya, tapi diam seperti tugu. Keajaiban terjadi, ucapan sang petapa itu seketika menjadi kutukan. Windradi berubah wujud menjadi patung batu, kemudian patung itu diangkat Gotama dan dilempar dengan sekuat tenaga hingga sampai ke wilayah Alengka.

Tidak lama kemudian, Gotama juga membuang jauh cupu. Pusaka itu jatuh di tengah hutan. Setelah menyentuh tanah, tutup cupu menjadi Telaga Sumala, sedangkan induknya berubah menjadi Telaga Nirmala.

Ketiga anak Gotama, yang sudah terpikat keelokan pusaka tersebut, serta-merta berlari berburu cupu. Merasa yakin cupu jatuh ke dalam Telaga Nirmala. Guwarsi dan Guwarsa, yang berbarengan tiba di tempat, langsung mencemplung, mengaduk-aduk telaga mencari cupu.

Setelah tidak menemukan hingga dasar telaga, kemudian keduanya muncul ke permukaan. Betapa kagetnya mereka karena sama-sama berubah wujud menjadi wanara, lengkap dengan ekornya yang panjang.

Anjani yang tiba belakangan tidak menceburkan diri ke telaga seperti kedua adiknya. Ia hanya membasuh muka dengan air telaga guna menghilangkan rasa panas dan keringat setelah berlari sejak dari pertapaan. Ia pun kaget bukan kepalang ketika mengetahui mukanya telah berubah menjadi wajah kera.

Ketiga bersaudara itu bergegas kembali ke pertapaan menemui bapaknya dengan tangis pilu. Gotama mengatakan, apa yang telah terjadi itu merupakan karma akibat sembrono memperebutkan pusaka wingit kahyangan.

Untuk menebus kesalahan atas kelancangannya, ketiga anaknya diperintahkan menjalani laku prihatin. Anjani bertapa nyantaka di Telaga Madirda, sedangkan Guwarsi bersemedi ngalong dan Guwarsa menjalani laku ngidang di Hutan Sunyapringga.

Melahirkan Anoman

Nyantaka ialah bertapa dengan sikap seperti halnya katak ketika sedang mengambang di kolam. Tubuhnya terendam air, sedangkan kepalanya muncul ke permukaan. Ketika menjalani laku penebusan dosa tersebut, Anjani tidak mengenakan selembar pakaian pun alias bugil.

Pada suatu ketika, pemimpin Kahyangan Bathara Guru beranjangsana mengelilingi marcapada. Guru melihat-lihat dan menikmati keindahan jagat dari atas punggung Lembu Andini yang melayang-layang di langit. Sesaat kemudian, ia menghentikan laju Andini untuk mengamati dengan saksama Telaga Madirda yang tampak tidak biasa.

Matanya tertuju pada perempuan tanpa busana yang mengambang di permukaan air Madirda yang berkilap-kilap, lalu Guru pelan menurunkan ketinggian terbangnya hingga bisa melihat jelas kemolekan Anjani.

Tanpa disadari, akibat terangsang libidonya, Bethara Guru meneteskan air mani (sperma) yang kemudian jatuh ke Madirda. Sejenak setelah merasa terpuaskan gelegak birahinya, Guru meninggalkan tempat dan melanjutkan perjalanan hingga kembali ke Kahyangan Jonggring Saloka.
Hari berganti hari, hingga kemudian Anjani menyadari ada yang berubah dalam tubuhnya. Namun, hal itu tidak menghentikan laku prihatinnya, nyantaka. Ia mengandung, tapi tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal, ia tidak pernah bersentuhan dengan lelaki.

Ketika usia bayi sudah saatnya lahir, Bethara Guru mengutus sejumlah bidadari turun ke marcapada untuk membantu persalinan Anjani. Anak Anjani lahir laki-laki berwujud wanara berbulu putih. Pascamelahirkan, wajah Anjani kembali pulih cantik jelita seperti sediakala.

Para bidadari membopong bayi laki-kali tersebut untuk disowankan kepada Guru. Ikut serta Anjani ke kahyangan. Setelah menerima anak itu, Guru memberikan nama Anoman, kemudian Bethara Bayu diperintahkan menggulawentah Anoman di Kahyangan Panglawung.  

Bayu mendidik dan membesarkan Anoman dengan berbagai ilmu. Sejumlah dewa di kahyangan pun banyak yang memberikan ilmu dan ajian hingga Anoman menjadi titah yang sakti mandraguna. Misalnya, Anoman bisa terbang, bertiwikrama, dan mampu mencabut gunung. Dengan ajian Sepiangin, ia bisa bergerak bak kilat. Namun, di sisi lain, Anoman ialah sosok yang rendah hati, sopan, dan tahu diri.

Untuk mengamalkan semua ilmu yang dimiliki, Anoman diperintahkan turun ke marcapada. Ia bertemu dan kemudian mengabdi kepada pamannya, Sugriwa alias Guwarsa, yang menjadi raja di Negara Goakiskenda.   
 
Berusia panjang

Dari sanalah, Anoman menjadi senapati andalan Rama Wijaya ketika merebut kembali Dewi Sinta dari sekapan Dasamuka. Anomanlah yang mengubur Dasamuka hidup-hidup dengan gunung sehingga raja Alengka itu berhenti mengumbar angkara murkanya.

Dalam seni pakeliran, Anoman dikisahkan berusia sangat panjang, bahkan sosoknya muncul hingga era Pandawa-Kurawa (Mahabarata). Ia memiliki banyak nama, di antaranya Anjaniputra (putra Anjani), Bayudara (putra Bathara Bayu), Palwagaseta (kera putih), Senggana (panglima perang), Ramandayapati (putra angkat Sri Rama), dan Mayangkara ketika menjadi resi di Kendalisada di usia senjanya.

Benang merah kisah singkat ini ialah keajaiban yang terjadi pada diri Anjani. Ia hamil hanya karena ‘berenang’ di kolam (telaga) Madirda yang pada suatu ketika pernah membuat Bathara Guru terangsang. (M-2)

Baca Juga

123RF

Banyak di Rumah, Awasi Risiko Ini

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 09 April 2020, 20:25 WIB
Banyaknya waktu di rumah berpotensi menaikan berat badan pada...
MI/ Fetry Wuryasti

Masih Gagal Bikin Dalgona? Coba Trik Kami Ini

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 09 April 2020, 13:00 WIB
Kesukseskan membuat dalgona akan lebih terjamin jika menggunakan kopi instan tanpa...
AFP

Khawatir Pembajakan, Festival Cannes Tolak Beralih ke Digital

👤Fathurrozak 🕔Kamis 09 April 2020, 12:05 WIB
Untuk mencegah penularan covid-19, penyelanggara Festival Cannes lebih memilih memundurkan penyelenggaraan hingga kemungkinan baru...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya