Sabtu 07 Maret 2020, 17:50 WIB

Eks Teroris Akui Kembali Dukung NKRI karena Sikap Manusiawi BNPT

Indriyani Astuti | Politik dan Hukum
Eks Teroris Akui Kembali Dukung NKRI karena Sikap Manusiawi BNPT

MI/Usman Iskandar
Eks pimpinan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) Jakarta yang juga mantan narapidana terorisme Haris Amir Falah

 

EKS pimpinan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) Jakarta yang juga mantan narapidana terorisme Haris Amir Falah mengakui butuh waktu untuk menghilangkan paham-paham radikalisme.

Haris yang sempat menolak ideologi negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kini berhijrah melihat Islam sebagai agama yang moderat. Dan setelah hampir delapan tahun menjalani program deradikalisasi, dia memandang terorisme dan radikalisme hal yang sepenuhnya salah.

Baca juga: Eks Teroris Minta Waspadai Eks IS Pura-Pura Mau Kembali ke NKRI

Haris Amir Falah merupakan mantan napiter yang ditangkap dalam kasus pendanaan latihan militer di Jalin Jantho, Aceh, pada 2010 dan divonis 4,5 tahun penjara.

Disampaikan Haris, hal yang mendorongnya untuk hijrah kembali setia pada NKRI ialah ketika terkena kasus hukum tindak pidana terorisme pada 2010.

Baca juga: Deradikalisasi masih Alami Kendala

Saat itu, ia merasa diperlakukan secara manusiawi walaupun hal yang dilakukan tindak pidana kriminal dan kasusnya diproses secara hukum. Ia juga mengungkapkan, sejak itu paradigmanya terhadap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror berubah.

"Saya mulai tersentuh dengan perlakuan dari Densus 88. Tidak selalu dengan kekerasan tapi pendekatan yang dijelaskan bahwa saya terkena kasus hukum, seberapa dalam, hak-hak saya sebagai seorang muslim diberikan. Bukan Islam yang diperangi, tapi saya sebagai muslim melakukan pelangggaran hukum di NKRI," ujar pria yang menuliskan pengalamannya hijrah dari pemahaman ekstrem dan takfiri dalam buku berjudul Hijrah dari Radikal Kepada Moderat di Jakarta, Sabtu (7/3).

Baca juga: Perlukah Eks Islamic State Dipulangkan ke Indonesia

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) 2010-2014 Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai menyampaikan radikalisme berdasarkan definisi kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah gerakan melakukan pembaharuan secara cepat termasuk melalui jalan kekerasan. Ada ciri-ciri yang harus diantisipasi dari mereka yang sudah terpapar radikalisme.

Pertama kelompok yang mengklaim kebenaran bergama hanya bagi kelompoknya, kedua mereka merasa yang paling paham doktrin agama yang tidak sesuai dengan paham mereka adalah salah. Ketiga mereka merasa punya otoritas menghakimi pemahaman orang lain yang berbeda atas nama Tuhan. Menurutnya tujuan utama dari deradikalisasi ialah menghilangkan pemahaman tersebut dari mereka yang sudah terpapar. (X-15)

Baca Juga

BIRO PERS SETPRES/LUKAS

Reformasi Struktural Jalan Terus meski Pandemi

👤Andhika Prasetyo 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:15 WIB
Jokowi meminta untuk menjadikan krisis sebagai momentum guna melakukan lompatan-lompatan kemajuan yang mungkin akan lamban jika dilakukan...
DOK: KLHK

Kementerian LHK Dukung Padat Karya Lewat Penanaman Mangrove

👤JI/S3-25 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:12 WIB
Keberhasilan pemulihan mangrove juga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Luhut menyampaikan apabila mangrovenya dalam kondisi...
MI/Adam Dwi

Pesantren Diminta Lahirkan Santri Gus Iwan

👤Mir/X-11 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 03:59 WIB
Pesantren harus bangun, tidak boleh tidur. Mari kita bangkit mengembangkan santri yang kuat sehingga negara juga menjadi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya