Jumat 06 Maret 2020, 07:01 WIB

Biayai Aksi Terorisme, WNI di Singapura Divonis Penjara

Fajar Nugraha | Internasional
Biayai Aksi Terorisme, WNI di Singapura Divonis Penjara

Dok MI
Ilustrasi--Terorisme

 

WARGA negara Indonesia (WNI) yang ditangkap atas tuduhan membiayai kegiatan terorisme di Singapura, dijatuhi hukuman penjara. WNI itu termasuk dalam tiga orang yang ditangkap atas kegiatan terorisme.

Anindia Afiyantari divonis penjara dua tahun berdasarkan putusan pengadilan pada Kamis (5/3). Dia dinyatakan bersalah telah mengeluarkan S$130 atau setara Rp1,3 juta yang disumbangkan kepada kelompok Jemaah Anshaut Daulah (JAD). Kelompok ini merupakan afiliasi dari Islamic State (IS) yang beroperasi di Singapura dan Indonesia.

Perempuan berusia 32 tahun itu menjadi pekerja migran Indonesia ketiga yang dijatuhi hukuman dalam kasus ini. Sebelummya, Retno Hernayani dipenjara pada Februari lalu, dengan hukuman selama satu setengah tahun dan Turmini dipenjara selama tiga tahun sembilan bulan.

Pengadilan mendengar bahwa Anindia bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Singapura ketika memberikan bantuan untuk kelompok teroris. Selama bekerja, dia menghasilkan sekitar S$600 atau Rp6,1 juta per bulan.

Baca juga: Derita Warga New Delhi Akibat Konflik Agama

Dia berteman dengan Retno, 37, dan dua pembantu rumah tangga Indonesia lainnya yang berusia 33 tahun bernama Yulistika dan Nurhasanah.

Yulistika dan Nurhasanah meninggalkan Singapura sebelum investigasi dimulai dan belum kembali ke negara itu.

Anindia pertama kali mengetahui tentang JAD pada 2009 atau 2010, ketika dia menonton sebuah program berita tentang seorang ulama radikal yang ditangkap karena keterlibatannya dalam sebuah kamp pelatihan militer di Aceh, Indonesia.

Dia terus mengikuti berita JAD melalui teman-temannya di Indonesia dan bertemu teman-teman di Singapura dengan ideologi yang sama ketika dia berteman dengan Yulistika. Yuliastika kemudian memperkenalkannya kepada Nurhasanah dan Retno.

“Keempat orang ini diidentifikasi sebagai simpatisan IS dan JAD,” kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Nicholas Khoo, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (5/3).

Anindia diperkenalkan dengan obrolan dan saluran grup Telegram terkait dan mulai menelusuri informasi tentang IS serta kekerasan dan pembunuhannya.

Dia mulai mengunggah informasi yang dia kumpulkan ke akun Facebook miliknya, bermaksud menyebarkan ideologi IS.

Dia mengunggah video yang menggambarkan pengeboman dan pembunuhan orang oleh IS dan membuat akun baru setiap kali akunnya diblokir Facebook. Beberapa akunnya akhirnya dilarang semua.

Ketika dia membaca lebih banyak secara daring dan bertemu dengan teman-temannya, minat Anindia pada kelompok-kelompok terorisme tumbuh. Dirinya merasa pikiran dan keyakinannya selaras dengan mereka.

“Sebagai contoh, ia mengidentifikasi dengan penggunaan kekerasan fisik JAD terhadap pemerintah Indonesia untuk menetapkan hukum Islam di Indonesia. Dia juga mendukung pengeboman bunuh diri karena mereka dapat membunuh lebih banyak ‘musuh Islam’,” kata dokumen pengadilan.

Pada pertengahan 2018, Anindia sepenuhnya mendukung kedua kelompok teror itu. JAD, jaringan ekstremis Indonesia yang bertanggung jawab atas serangan teroris baru-baru ini dan menggagalkan plot di Indonesia, telah dilarang oleh pemerintah Indonesia.

Namun, JAD membiayai kegiatannya melalui ‘amal keagamaan’ yang melakukan kegiatan donasi yang dipublikasikan di media sosial.

Anindia menyumbang ke dua badan amal ini, mengirimkan S$50 atau sekitar Rp500 ribu langsung ke satu badan amal dan S$80 atau sekitar Rp817 ribu melalui teman-temannya, Retno dan Yulistika. (OL-1)

Baca Juga

AFP/Martin BUREAU

Tunawisma yang Meninggal di Prancis Tetap Dikubur Secara Layak

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 31 Maret 2020, 21:25 WIB
Badan persaudaraan amal dari Saint Eloi di Bethune tetap melakukan pemakaman secara layak pada tunawisma di tengah wabah covid-19 yang...
Antaranews

149 WNI di Fiji Bebas Covid-19

👤Antara 🕔Selasa 31 Maret 2020, 20:26 WIB
Di Fiji terdapat lima warganya terkena...
AFP/NARINDER NANU

Rawat Pasien Covid-19, Dokter di India Pakai Jas Hujan dan Helm

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 31 Maret 2020, 19:02 WIB
Kurangnya alat pelindung diri (APD) di India memaksa beberapa dokter di sana untuk menggunakan jas hujan dan helm sepeda motor saat merawat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya