Kamis 05 Maret 2020, 23:55 WIB

Derita Warga New Delhi Akibat Konflik Agama

Derita Warga New Delhi Akibat Konflik Agama

AFP

 

SADDAR-UD-DIN telah menunggu jenazah putranya di Rumah Sakit Guru Teg Bahadur (GTB) sejak Senin malam. Putranya yang berusia 32 tahun, Mohammad Furqan, dibunuh oleh gerombolan Hindu di daerah Kardam Puri di timur laut New Delhi, India.

Dia berada di antara lusinan orang yang menunggu, pada Rabu, di luar kamar mayat di rumah sakit GTB untuk menerima mayat kerabat mereka.

Korban tewas pada hari Kamis (5/3) naik menjadi 34 orang dalam kekerasan agama terburuk yang telah melanda ibukota India dalam beberapa dekade. Polisi dituduh berpihak pada Hindu dan melawan Muslim.

Sekitar pukul 15.15 waktu setempat, pada Rabu, tubuh Furqan, yang dibungkus dengan kain kafan, dibawa keluar dengan tandu dan diserahkan kepada keluarganya. “Furqan meninggal pada hari Senin dan sejak itu kami sedang menunggu mayatnya,” kata Din, 64.

Din menduga bahwa putranya, yang bekerja di bisnis kerajinan tangan keluarga di Kardam Puri, ditembak di kaki dan perutnya oleh perusuh Hindu sekitar pukul 16.00 waktu setempat pada Senin, sekitar 150 meter dari rumahnya.

Din, yang juga tinggal di lingkungan kelas pekerja campuran, Kardam Puri, bahwa kekerasan yang terjadi di ibukota mengingatkannya pada kerusuhan anti-Sikh 1984, di mana 3.000 anggota komunitas minoritas Sikh tewas.

“Orang-orang Hindu dan Muslim telah hidup dalam harmoni selama beberapa dekade di daerah itu. Ini seperti 1984 ketika orang-orang Sikh dibantai. Hari ini orang-orang Muslim,” katanya.


RUU Kontroversial

Ribuan orang berdemonstrasi selama berminggu-minggu atas Undang-Undang Kewarganegaraan baru yang kontroversial, yang disahkan oleh pemerintah nasionalis Hindu Narendra Modi. UU itu membuat non-Muslim, bukan Muslim, dari negara-negara tetangga lebih mudah mendapatkan kewarganegaraan India.

Rahul Solanki, 26, ditembak di leher pada Senin malam ketika ia meninggalkan rumahnya untuk berbelanja, kata adiknya, Rohit Solanki, 24, di luar kamar mayat Rumah Sakit GTB.

Ketika tubuh Rahul dibawa keluar dengan tandu dari kamar mayat, empat temannya, termasuk dua wanita, menangis. Mohammad Shahbaz Alam menangis dan memeluk temannya, Vikas, karena merasa kehilangan.

“Kami bukan hanya rekan kerja. Kami semua adalah keluarga,” kata Alam.

“Dalam politik Hindu-Muslim ini, kami kehilangan seorang saudara di Rahul [Solanki],” kata Vikas sambil meneteskan air mata. (Al Jazeera/Nur/I-1)

Baca Juga

AFP

Kondisinya Membaik, Boris Johnson Keluar dari ICU

👤Rudy polycarpus 🕔Jumat 10 April 2020, 02:51 WIB
Juru bicara Johnson mengatakan, meski demikian Boris tetap belum bisa meninggalkan RS St Thomas,...
Antaranews.com

Menag Malaysia Bantu TKI di Cyberjaya

👤Antara 🕔Jumat 10 April 2020, 00:30 WIB
Warga kurang mampu tersebut turut menerima bantuan dari Tabung Musa'adah Covid-19 untuk memastikan keselamatan mereka tidak diabaikan...
AFP/ANGELA WEISS

799 Orang Meninggal dalam Satu Hari di New York

👤Widhoroso 🕔Kamis 09 April 2020, 23:55 WIB
Penutupan sekolah-sekolah dan sebagai pusat-pusat bisnis di New York akan diperpanjang untuk memutus penyebaran...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya