Kamis 05 Maret 2020, 14:53 WIB

Tak Hanya di Indonesia, Panic Buying Juga Terjadi di Negara Ini

Nur Aivanni | Humaniora
Tak Hanya di Indonesia, Panic Buying Juga Terjadi di Negara Ini

AFP
Orang-orang mengenakan masker di tengah kekhawatiran tentang virus korona, Bangkok, Rabu (4/3).

 

BARANG-barang di supermarket seperti tisu toilet, pembersih tangan, dan masker bedah ludes diborong pembeli karena panic buying akibat wabah virus korona. Warga mengabaikan imbauan agar bersikap tenang dalam menghadapi virus korona. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga terjadi di Jepang, Prancis hingga Amerika Serikat. 

Hal tersebut didokumentasikan di media sosial di mana warga berebut ke toko-toko dan panik serta bingung ketika melihat rak-rak kosong dengan barang-barang yang mereka butuhkan.

Baca juga: JK Prediksi Panic Buying Akibat Korona Hanya Sementara

Supermarket terbesar di Australia minggu ini mulai menjatah penjualan tisu toilet setelah polisi harus turun tangan di toko di Sydney ketika ada penggunaan pisau dalam bentrokan atas komoditas langka di sana.

Pada Sabtu lalu, perdana menteri Jepang menggunakan Twitter untuk menenangkan kekhawatiran akan kekurangan kebutuhan nasional, sementara foto-foto media sosial dari AS memperlihatkan rak-rak tempat tisu toilet yang kosong.

Psikolog mengatakan kekhawatiran berlebihan terhadap wabah virus korona itu lah yang disalahkan. "Kita mungkin kurang irasional jika kita tidak diingatkan akan potensi bahaya oleh berita," kata psikolog konsumen yang bermarkas di London, Kate Nightingale, dikutip dari AFP, Kamis (5/3).

Psikolog, Andy Yap, dan Charlene Chen, yang berspesialisasi dalam pemasaran dan bisnis di Singapura mengatakan bahwa kota-kota mengalami kekhawatiran atas tisu toilet yang berdasarkan desas-desus yang "dapat dipercaya" tentang kekurangan yang akan terjadi karena penutupan di Tiongkok yang dilanda virus, sebagai produsen utama.

Menggulir tanpa henti melalui media sosial, kata mereka, juga mengubah persepsi masyarakat dan membuat mereka berpikir bahwa segala sesuatunya jauh lebih serius daripada yang sebenarnya.

Ketika ketidakpastian tumbuh, lanjut mereka, barang-barang seperti masker bedah dan pembersih tangan berubah menjadi barang yang tampaknya bisa membantu orang untuk mengendalikan penyebaran virus.

Masker bedah sekali pakai yang biasanya dijual hanya dengan beberapa sen AS merupakan barang yang paling dicari-cari masyarakat dan diperburuk oleh pembatasan ekspor dari Tiongkok sebagai produsen utama, karena pemerintah lebih mempertahankan penggunaan dalam negeri.

Bulan lalu, sepuluh ribu orang antri di luar toko Hong Kong yang telah mendapatkan kiriman, dan beberapa hari kemudian masker dipilih sebagai hadiah yang paling diinginkan saat Hari Valentine.

Di London, masker sekarang harganya lebih dari 100 kali lipat dari harga eceran normal. Sementara, pihak berwenang Prancis mengatakan mereka akan mengambil alih semua stok masker dan produksinya.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Fadela Chaib mengatakan bahwa permintaan yang meningkat itu didorong oleh panic buying, penimbunan, dan spekulasi.

Ini terlepas dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS yang mengatakan tidak merekomendasikan penggunaan masker wajah untuk melawan wabah tersebut.

Tetapi di kota-kota yang padat dan paranoid di mana orang-orang sudah memakainya, mengenakan masker tersebut bisa menenangkan mereka atas kekhawatiran virus tersebut.

Baca juga: Pemerintah Temukan 14 Peserta Dansa Terkait Kasus Korona

Ketika lebih banyak negara melaporkan kasus baru, kata Yap dan Chen, penting bagi pihak berwenang untuk membangun kembali kendali atas informasi dan desas-desus yang memicu penimbunan dan aksi panic buying.

"Di saat ketidakpastian, bagus untuk menetapkan aturan karena aturan itu memberikan ketertiban dan pengawasan," kata mereka.

Pemerintah diminta lebih jelas dalam menjelaskan aturan baru tersebut dan mengapa aturan itu penting dalam memerangi virus korona. (AFP/OL-6)

Baca Juga

Antara

Pakar Virologi: Garda Depan Tangani Covid-19 bukan Tenaga Medis

👤Antara 🕔Jumat 10 April 2020, 00:13 WIB
Tenaga medis dan pemerintah justru merupakan garda...
AFP/LIONEL BONAVENTURE

TikTok akan Sumbang US$250 Juta untuk Perangi Covid-19

👤Widhoroso 🕔Kamis 09 April 2020, 22:50 WIB
TikTok mengikuti langkah beberapa perusahaan teknologi yang telah menyumbangkan dana untuk memerangi...
Dok. Softex Indonesia

Confidence Donasikan 10 Ribu Popok Dewasa untuk Tangani Covid-19

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 09 April 2020, 22:44 WIB
Bantuan itu juga sebagai wujud solidaritas kemanusiaan terhadap petugas medis yang jadi garda terdepan dalam penanganan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya