Kamis 05 Maret 2020, 09:20 WIB

Adi Asmawan: Lakoni Gaya Hidup Serbacukup

Uca/M-2 | Humaniora
Adi Asmawan: Lakoni Gaya Hidup Serbacukup

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
Adi Asmawan

 

TIDAK hanya memelopori toko zero waste di Jakarta untuk membantu mengatasi permasalahan sampah, Adi Asmawan mengaku kini juga menerapkan konsep hidup yang mempedulikan dampak lingkungan. Lewat gaya hidup minimalis, ia menyebutnya sebagai salah satu cara untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Sebelum menggawangi Saruga, Adi mengaku kerap konsumtif dalam menghabiskan uang untuk berbelanja bulanan di pasar swalayan.

"Dulu lima tahunan lalu, saya belanja bulanan itu Rp10 juta, hanya untuk belanja kebutuhan lemari di dapur, bisa Rp12 juta belum jajannya, Rp8 juta minimal. Dulu Rp12 juta selesai belanja 4 jam di supermarket masuk bagasi mobil ke rumah, di tengah jalanan beli martabak berhenti lagi, padahal yang di dalam mobil belum tentu semuanya mau," ungkap Adi.

Setelah menyadari bahwa gaya hidup konsumtif ternyata memiliki dampak signifikan bagi lingkungan yang dapat memacu timbunan sampah, Adi kemudian berupaya mengendalikannya. Ia lantas beralih melakoni hidup yang serbakecukupan dengan mulai memilah antara kebutuhan dan keinginan.

"Sekarang saya belanja bulanan paling tinggi Rp3,5 juta. Rp4 juta sudah sama jajan, jadi berkurang setengah. Rp4 jutanya bisa buat saving. Rp4 juta kalau saya belanjain produk pangan, hitung aja setengahnya itu bujetnya kemasan. Setengahnya produk isinya setengahnya kemasan, Rp2 juta. Uang Rp2 juta dibeliin plastik berapa banyak plastiknya? Itu yang saya bisa kurangi selama 5 tahun," terang Adi.

Tak hanya berusaha menekan dorongan konsumtif, Adi juga mengaku kini lebih memberikan waktu untuk memperhitungkan dan mengukur kebutuhan yang diperlukan dirinya ataupun keluarganya dalam rentang waktu tertentu. Misalnya, dengan mengomunikasikan dengan anggota keluarganya perihal apa yang hendak dimasak atau dihidangkan di meja makan rumahnya. Dengan mengetahui takarannya, sambung Adi, ia pun mengetahui batas cukup, yang lebih lanjut dapat mengurangi sumbangan sampah organik rumah tangga --yang menjadi penyumbang sampah tertinggi.

"Di rumah hampir engga pernah ada sampah sisa makanan, hanya sedikit. Sebelum makan kita diskusi dulu, malam kita mau makan apa? Takarannya kita tahu, datanya itu kan sampah organik paling banyak ketimbang sampah yang lain, menurut data semuanya dari makanan. Jadi ternyata malam itu, saya buat makan bertiga itu cukup makan nasi 'segini'. Satu minggu 2 liter beras itu enggak habis, malah kadang bisa sampai dua minggu, jadi sebulan berapa? Cuma 5 liter. Terus buat apa sebulan beli 25 liter?" tutur Adi.

Selepas menamatkan bangku kuliah di jurusan desain produk, Adi yang berkecimpung di dunia professional conference organizer (PCO) selama belasan tahun pun hijrah menyelami isu sampah dan lingkungan secara autodidak sejak 2015. Selain mempelajari seluk-beluk permasalahan sampah secara autodidak, Adi juga mengaku belajar ke komunitas-komunitas yang telah malang melintang mengurusi isu sampah sejak lama, misalnya, belajar ke komunitas YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) di Bandung. Dari situlah, ia kemudian berkenalan dengan komunitas-komunitas lain yang memiliki misi sama dalam isu permasalahan sampah dan keberlanjutan (sustainability), tapi dengan fokus yang berbeda-beda--sebelum akhirnya mendirikan bisnis model baru, Saruga, pada 2018.

"Pokoknya dari 3 tahun pertama itu (sebelum membuka Saruga), saya belajar dulu tentang sampah, perbedaan dari macam-macam tipe plastik, kenapa bisa jadi mikroplastik, pokoknya semuanya saya pelajari. Setelah itu saya mulai bikin business plan-nya retail," ujar Adi.

Meninggalkan pekerjaan lamanya, Adi mengungkapkan kini total 100% dalam mengelola Saruga. Ia mengaku pada awalnya tergerak mempelajari isu sampah berangkat dari permasalahan dan kekhawatiran pribadi atas problem maraknya membakar sampah di lingkungan tempatnya tinggal. Aktivitas yang masih kerap dilakukan banyak masyarakat Indonesia itu tidak hanya mengganggu, tapi membakar sampah juga disebutnya berbahaya bagi lingkungan ataupun manusia.

"Menghirup asap hasil orang bakar sampah, malam itu ketika saya pikir untuk berhenti kerja, mau usaha itu saya alami lagi dan itu saya alami setiap hari selama bertahun-tahun. Kesabaran saya habis, tapi akhirnya saya sadar, ini kenapa ya enggak selesai-selesai urusannya, kenapa orang bakar sampah, kenapa harus ada sampah, dari mana asalnya sampah. Jadi lima tahunan yang lalu akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari segala macam permasalahan sampah," pungkasnya. (Uca/M-2)

Baca Juga

DOK: KPI

Digitalisasi Penyiaran Tunaikan Informasi dan Pendidikan

👤S1-25 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:28 WIB
KPI menyambut baik rencana analog switch off (ASO) pada 2022, sebagai sebuah transformasi teknologi siaran yang akan memberi banyak manfaat...
AFP

Miley Cyrus Mengaku Pernah Melihat UFO

👤MI 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 03:15 WIB
MUSIKUS asal Amerika Serikat, Miley Cyrus, barubaru ini membagikan pengalamannya yang tak...
Instagram @TIARAANDINI

Tiara Andini Masuk Nominasi Peraih AMI Awards

👤MI 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 02:50 WIB
SATU hal yang tak disangka-sangka oleh Tiara Andini, 19, masuk sebagai salah satu nomine di AMI Awards...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya