Rabu 04 Maret 2020, 13:56 WIB

Batik Ciprat Karya Kaum Disabilitas Jadi Seragam Pejabat Kemensos

Tosiani | Nusantara
Batik Ciprat Karya Kaum Disabilitas Jadi Seragam Pejabat Kemensos

MI/TOSIANI
Kepala Bidang Resosialisasi dan Bimbingan Lanjut, BBRSPDI Kartini Temanggung, Ambarina Murdiati memmerkan batik ciprat

 

KAIN batik ciprat buatan para penyandang disabilitas intelektual yang menjalani pendidikan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini Temanggung, Jawa Tengah akan dijadikan seragam wajib di lingkungan Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Kain batik ini akan diproduksi di 19 lokasi binaan yang tersebar di
Indonesia. Sejauh ini batik ciprat menjadi ikon ketrampilan yang paling mudah dilakukan oleh para penyandang disabilitas intelektual. Batik ini dibuat hanya dengan dicipratkan saja ke kain.

Plt Kepala BBRSPDI Kartini Temanggung, Langgeng Setiawan mengatakan, pada tahap pertama batik ciprat juga akan digunakan oleh para pejabat di lingkungan Kemensos. Kemudian diteruskan oleh para pegawai. Terkait seragam ini masih dibahas anggarannya di Kemensos.

"Ini merupakan kebijakan Menteri Sosial (Mensos) yang baru. Instruksi yang kami terima, pejabat di lingkungan Kemensos harus menggunakan batik ciprat sekali dalam sepekan," kata Langgeng di Temanggung, Rabu (4/3).

Saat ini sudah ada beragam model dalam katalog batik ciprat yang bisa dipilih menjadi seragam. Batik ciprat juga dapat dimodifikasi dengan berbagai corak sesuai selera pemesannya. Pembuatan batik ciprat harus melibatkan penyandang disabilitas intelektual.

"Namun demikian, dalam pembuatan batik ciprat juga harus memperhatikan soal pembuangan limbah. Hal itu agar nantinya limbah batik tidak menimbulkan masalah pada lingkungannya," kata dia.

Kepala Bidang Resosialisasi dan Bimbingan Lanjut, BBRSPDI Kartini Temanggung, Ambarina Murdiati, menambahkan, BBRSPDI telah mempunyai 19 binaan di 19 lokasi. Antara lain tiga lokasi di Blitar, dua lokasi di Kulonprogo. Lainnya di Semarang, Magetan, Ponorogo, Banyumas, Pekalongan, dan Wonosobo.

Selama ini para penyandang disabilitas intelektual di 19 lokasi binaan itu juga telah dilatih untuk memproduksi batik ciprat. Namun untuk kepentingan produksi batik ciprat tersebut, pihak BBRSPDI menyelenggarakan pelatihan bagi para pendamping sosial. Pelatihan bertajuk Diseminasi dan Pembekalan Ketrampilan Teknis Pendamping Sheltered Workshop Peduli yang berlangsung Rabu (4/3) hingga Kamis (5/3) di BBRSPDI Kartini Temanggung. Selanjutnya para pendamping itu yang akan meneruskan ketrampilan membatik ciprat pada para penyandang disabilitas intelektual binaannya.

baca juga: Hadapi Penyebaran Covid-19, RSU Anutapura Gelar Simulasi

"Seharusnya mulai Maret ini sudah menjadi seragam wajib. Itu akan diproduksi di 19 lokasi binaan. Nantinya akan ada semacam Surat Edaran dari Mensos untuk mendukung kebijakan tersebut," kata Ambarina. (OL-3)

 

Baca Juga

Antara

Imbas Covid-19 Ribuan Karyawan Hotel di Lombok Barat Dirumahkan

👤Yusuf Riaman 🕔Minggu 05 April 2020, 14:40 WIB
SEDIKITNYA 1.316 karyawan hotel di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) terpaksa dirumahkan akibat merebaknya...
Ilustrasi/Media Indonesia

Dana Reses DPRD Bengkulu Rp6 Milar untuk Penanganan Covid-19

👤Marliansyah 🕔Minggu 05 April 2020, 14:15 WIB
DPRD Provinsi Bengkulu sepakat mengalihkan dana reses atau kegiatan penjaringan aspirasi dari masyarakat untuk penanganan penyebaran wabah...
ilustrasi/mediaindonesia.com

Peran Wartawan Vital untuk Edukasi Covid-19 tapi Minim Dukungan

👤Ardi Teristri Hardi 🕔Minggu 05 April 2020, 13:40 WIB
Wartawan bisa memperjuangkan orang lain, tapi susah memperjuangkan dirinya. Bahkan, untuk mendapatkan masker dan hand sanitizer pun...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya