Rabu 04 Maret 2020, 10:55 WIB

Mentan Resmikan Museum Tanah dan Perpustakaan Pertanian di Bogor

Dede Susianti | Humaniora
Mentan Resmikan Museum Tanah dan Perpustakaan Pertanian di Bogor

MI/Dede Susianti
Mentan Syahrul Yasin Limpo saat meresmikan Museum Tanah dan Pertanian di Jalan Juanda, Kota Bogor, Jabar, Selasa (3/3).

 

ADA destinasi baru yang wajib dikunjungi jika sedang berada di Kota Bogor, Jawa Barat, adalah Museum Tanah dan Pertanian. Tempat itu secara resmi diluncurkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada Selasa (3/3).

Museum tersebut berada di Jalan Juanda, yang merupakan lokasi strategis yang berdekatan dengan tempat wisata kuliner atau kampung pecinan Suryakancana, berseberangan dengan Kebun Raya Bogor (KRB) dan Museum Zoologi.

Kini museum tersebut hadir serba kekinian, sangat milenial. Bukan sekadar museum, melainkan menjadi tempat yang sangat modern dan nyaman dengan diresmikannya open virtual literacy room.

Open Virtual Literacy Room adalah ruang dengan fasilitas komunikasi interaktif online yang ditujukan untuk meningkatkan literasi jarak jauh, bagi masyarakat seputar dunia pertanian.

Para pengunjung juga bisa memanfaatkannya untuk komunikasi interaktif berbasis video conference, baik untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman maupun transaksi bisnis dan konsultasi teknologi pertanian dengan ahlinya.

Mentan pun mengaku terkesan dan mengapresiasi pengelola yang telah mampu menyatukan sesuatu yang selama ini dipandang sebagai paradok.

"Saya merasakan ini sesuatu yang luar biasa, menyaksikan perpustakaan ini. Ini menjadi paradok dalam pikiran saya. Museum merupakan sesuatu yang lama, tetapi perpustakaan selalu menembus ke depan," kata Mentan yang akrab disapa SYL.

"Museum selalu mengingatkan masa lalu, tetapi dengan perpustakaan ini menjadi sesuatu yang baru. Ini sebuah agenda yang intelektual. Sebuah artificial intelligence baru. Dan ini dibutuhkan Indonesia," ungkap SYL.

Menurut Mentan, Indonesia masa lalu adalah Indonesia yang jaya. Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah tanah yang luhur, subur, dan kaya raya.

Masa lalu itu, kata SYL, ditandai dengan berbagai negara datang ke sini bukan mengambil tanah dan tinggal di sini.

"Tapi tertarik dengan apa yang dibuat rakyat Indonesia. Rakyat Nusantara pada zamannya. Mereka punya rempah- rempah. Mereka punya daya campur pertanian. Mereka mempunyai komoditas- komoditas yang dibutuhkan negara lain," paparnya.

"Itu masa lalu. Dan hari ini tergambar dengan baik di sini. Di perpustakaan hari ini juga menandakan perjalanan agenda besok itu tidak sama dengan yang kemarin," katanya.

Saat melihat-lihat, Mentan sangat terkesan dengan tempat penyimpanan padi, beras atau gabah dari kayu yang juga tempat tidur yang dipajang. Itu sangat jadul (zaman dulu). Mentan tekenang dengan rumah neneknya.

Selain ribuan jenis tanah di Indonesia ada di museum tersebut, alat-alat bertani dari zaman dulu hingga teknologi pertanian yang terbaru juga ada di situ. Seperti drone tanam sebar benih padi. Ruangan sejuk, cozy dan nyaman untuk membaca itu juga serba digital.

"Museum ini menceritakan masa lalu Indonesia dengan sistem pertanian yang dieranya. Dan ini kemudian ada perpustakaan, menyatukan antara masa lalu dan satu perjalanan visi ke depan yang panjang. Karena pertanian itu sudah pernah dengan kerbau, pertanian itu pernah dengan hentraktor, pertanian pernah dengan traktor roda empat.

Kemudian pertanian di era sekarang dengan remot kontrol, dengan artipisial intelejen, dengan robot contruction dengan drone. Itulah yang diceritakan dengan museum ini," terangnya.

Mentan mengatakan, Museum Tanah dan Pertanian itu adalah menjadi jawaban- jawaban besok, bahwa Indonesia mengolah pertaniannya harus bisa lebih baik. Harus lebih maju tidak ada kata mundur.

Perpustakaan terbaik berstandar A

Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA), Retno Sri Hartati Mulyandari mengungkapkan, Perpustakaan Pertanian sudah berstandar atau bersertifikat A dan merupakan salah satu perpustakaan terbaik.

Sertifikat untuk kategori perpustakaan khusus tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Perpusnas, M Syarif Bando kepada Mentan. Pada saat itu juga dilakukan peluncuran buku sejarah pertanian Indonesia.

Retno menjelaskan, virtual literacy room yang baru diluncurkan itu dapat mempertemukan seluruh stakeholder seperti peneliti, penyuluh, petani, dan pelaku usaha. Mereka bisa berkomunikasi, berdiskusi melalui video conference. Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan kegiatan pertanian dari hulu-hilir. 

Sementara itu, Wali Kota Bogor yang hari itu hadir juga melakukan penandatanganan sekaligus penyerahan dokumen penetapan Gedung Museum Tanah dan Pertanian sebagai satu dari 40 bangunan cagar budaya. (DD/OL-09)

Baca Juga

Dok. Instagram

Bima Arya Lahap Makanan Sehat

👤MI 🕔Selasa 07 April 2020, 05:40 WIB
WALI Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, 47, berbagi kabar soal pengobatan yang dijalaninya lewat akun media...
AFP

Lorde Kembali Bernyanyi

👤MI 🕔Selasa 07 April 2020, 05:05 WIB
PENYANYI asal Selandia Baru Ella Marija Lani Yelich-O’Connor atau biasa dikenal Lorde, 23, bersiap merilis musik baru...
ANTARA

Slank Lo Harus Grak

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 07 April 2020, 00:10 WIB
PENYEBARAN virus korona baru cCovid-19) mempengaruhi banyak sektor masyarakat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya