Rabu 04 Maret 2020, 09:05 WIB

Kisruh Pilrek, Kemendikbud masih Tangani 11 Kasus

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Kisruh Pilrek, Kemendikbud masih Tangani 11 Kasus

Dok.Kemdikbud
Irjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muchlis Rantoni Luddin

 

PROSES pemilihan rektor (pilrek) di perguruan tinggi dinilai masih diwarnai unsur kolusi dan nepotisme. Akibatnya, menciptakan organisasi yang tidak sehat di dunia kampus yang mestinya beratmosfer budaya akademik yang mengedepankan inovasi dan riset serta Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Adanya keprihatinan tersebut diungkapkan Irjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muchlis Rantoni Luddin saat menjadi pembicara utama pada Rapat Kerja Nasional Universitas Terbuka di kampus UT Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Senin (2/3). Rakernas bertajuk Optimalisasi Anggaran untuk UT Maju tersebut dihadiri seluruh perwakilan UT dari dalam dan luar negeri.

"Saya sedang menangani 11 kasus pilrek yang menjurus pada nepotisme sehingga organisasinya tidak sehat. Mereka yang kompeten tidak terpiliih," ujar Muchlis. Selain itu, diungkapkan, ada indikasi kandidat rektor melibatkan orang luar dari partai politik untuk merebut suara 35% dari menteri. Ada juga aspek transaksional.

Pada kesempatan itu, Muchlis berharap tidak dijumpai praktik-praktik tersebut di kampus UT. Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini menegaskan peran perguruan tinggi sebagai lembaga yang memproduksi ilmu mestinya lebih banyak melakukan riset dan inovasi begitu pun hubungannya kolegial.

"Jadi sebaiknya tidak mengundang praktik-praktik politik dalam kampus sehingga akan mengganggu kinerja," pungkasnya. Muchlis meminta agar UT sebagai kampus pelopor pendidikan jarak jauh juga menjalankan sistem Satuan Pengawasan Internal. Saat ditanya kampus mana saja yang sedang kisruh pilreknya, Muchlis enggan mengungkap. Dia menjelaskan pihaknya masih menangani satu per satu.

Pemimpin akademik

Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) 2020, Arief Satria, senada dengan Irjen Kemendikbud dan menyatakan pemilihan rektor adalah mencari pemimpin akademik. Karena itu, lanjut Rektor IPB ini, seyogianya standar profesional yang dikedepankan. "Standar profesional mencakup kapasitas kepemimpinan termasuk visi menyikapi perubahan akibat revolusi industri 4.0 dan track record kepemimpinan terkait," ujarnya.

Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, M Nasih, menambahkan, PTN merupakan lembaga pendidikan tempat orang-orang terpelajar, berintegritas, dan rasional. "Pimpinan PTN mesti memberi contoh ke masyarakat bagaimana pengelolaan yang baik termasuk pilrek yang merupakan agenda rutin perguruan tinggi," ujar M Nasih.

Hemat dia, tidak boleh ada pihak mana pun memolitisasi setiap pemilihan rektor di PTN. "Pilrek harus didasarkan atas objektivitas, merit system, dan moralitas. Budaya akademik harus ditonjolkan," pungkasnya.

Senada dengan hal tersebut, Asep Saefuddin Rektor Universitas Islam Al-Azhar Jakarta menambahkan, sudah saatnya model demokrasi politik yang sarat dengan kubu-kubuan, voting, dan lobi-lobi di pilrek dihilangkan. "Saya melihat pola pemilihan berbasis akademik di kampus saat ini masih jauh dari harapan," ucapnya. (H-1)

Baca Juga

Instagram LIPI

Peneliti LIPI Temukan 315 Individu Fauna di Relief Candi Borobudur

👤Zubaedah Hanum 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 14:50 WIB
Pemahat kala itu seperti taksonom, ekolog, etolog, dan illustrator...
Ist/RTV

Talkshow Segar 'Master Show' Tayang di Rajawali Televisi (RTV)

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 14:07 WIB
'Master Show' adalah program terbaru unggulan di bulan Oktober 2020 yang menyajikan pengalaman serta cerita dari para...
MI/Emir Chairullah

KLHK Dorong Budidaya Penyu untuk Perekonomian Masyarakat Bali

👤Emir Chairullah 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 13:56 WIB
Potensi ekonomi yang diperoleh melalui bisnis eco wisata pelepasan anak penyu ke laut mencapai Rp100 ribu per...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya