Selasa 10 Februari 2015, 00:00 WIB

Machfud Borong Apartemen dan Ruko

MI/ADHI M DHARYONO | Politik dan Hukum
Machfud Borong Apartemen dan Ruko

MI/ROMMY PUJIANTO

 
KETERANGAN saksi yang dihadirkan dalam persidangan Machfud Suroso, terdakwa dugaan kasus korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin, memberatkan terdakwa.

Saksi membenarkan dakwaan terhadap Dirut PT Dutasari Citralaras (PT DCL) itu, bahwa Machfud telah membeli sejumlah unit apartemen dan ruko yang diduga dari uang proyek.

Dalam dakwaan disebutkan Machfud membeli ruko di Fatmawati Festival Jakarta Selatan. Hal itu dikatakan oleh Andre Suwita, pegawai PT Bank Internasional Indonesia. Menurut Andre, Machfud tercatat sebagai nasabah debitur Bank BII untuk cicilan KPR pembelian ruko.

"Iya betul, tercatat sebagai debitur KPR dua unit ruko di Fatmawati Festival senilai Rp1,3 miliar," ujar saksi.

Dijelaskan, cicilannya menyisakan empat kali dengan nilai setiap bulan sebesar Rp29 juta. Machfud juga disebut membeli 16 unit apartemen di Grand Center Point, Bekasi, Jawa Barat, dan dua ruko di tempat yang sama. Hal itu dibenarkan oleh Suryadi, direktur di PT Triputra selaku pengelola apartemen tersebut.

Menurut Suryadi, Machfud membeli 16 unit apartemen dan dua unit ruko itu bersamaan dengan Direktur Operasioal PT DCL Roni Wijaya. "Harganya bervariasi, ada Rp162 jutaan, kios Rp240 juta. Saudara Machfud sudah membayar Rp1,6 miliar atau baru dibayar 60%."

Dalam dakwaan disebutkan bahwa Machfud memberikan serta membelanjakan sejumlah uang yang diterimanya dari PT Adhi Karya Divisi Kontruksi I dan PT Wijaya Karya, masing-masing sebesar Rp12,5 miliar dan Rp1,5 miliar.

Selain itu, Machfud didakwa telah menerima uang Rp171 miliar yang merupakan bagian dari realisasi pemberian fee 18% atas penunjukan langsung PT Adhi Karya sebagai pemenang tender proyek Hambalang oleh Kemenpora. Maka dari itu, Kabiro Perencanaan Kemenpora, Dedy Kusdinar, meminta fee 18% atas penunjukan langsung PT Adhi Karya.

Pembayaran fee 18% itu dibayarkan pihak PT Adhi Karya melalui Machfud selaku Dirut PT DCL yang mengerjakan mechanical electric (ME) pada proyek Hambalang. Jadi, total uang yang diterima Machfud sebesar Rp185 miliar. PT DCL hanya menggunakan Rp89 miliar dalam pengerjaan ME di proyek Hambalang.

Bagi-bagi
Machfud juga diduga membagi-bagikan sisa uang fee ke sejumlah pihak, di antaranya anggota DPR periode 2009-2014 Olly Dondokambey (Fraksi PDIP), Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Andi Mallarangeng.

Saksi lain, Yanto, bekas sopir pribadi Machfud, juga membenarkan Machfud menyuruh dirinya untuk mengantarkan uang ke Anas Urbaningrum. Yanto memberikan uang itu melalui sopir probadi Anas, Yadi. Yanto bertemu Yadi di kawasan Pacific Place, Jakarta.

"Saya bertemu dengan Yadi di basement , kasih uang dalam plastik. Tapi saya tidak tahu jumlahnya berapa. Pokoknya merah-merah," ujar Yanto.

Tak hanya di Pacific Place, Yanto mengaku pernah meng-antarkan uang dari Machfud ke rumah Anas di Duren Sawit , Jakarta Timur.

Dalam dakwaan disebutkan Machfud pernah memberikan uang untuk Anas Urbaningrum sebesar Rp2,2 miliar untuk membantu pencalonan Anas sebagai ketua umum dalam Kongres Partai Demokrat Tahun 2010. (P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More