Rabu 04 Maret 2020, 06:30 WIB

Polusi Udara Pembunuh Nomor Satu Umat Manusia

Melalusa Susthira K | Weekend
Polusi Udara Pembunuh Nomor Satu Umat Manusia

AFP
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cardiovascular Research, polusi udara dapat mengurangi harapan hidup global hingga tiga tahun.

BUKAN Virus Korona, HIV, atau penyakit jantung, atau perang sekali pun yang menjadi ancaman utama kehidupan umat manusia, melainkan polusi udara. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cardiovascular Research, polusi udara dapat mengurangi harapan hidup global hingga tiga tahun dan menyebabkan 8,8 juta kematian dini setiap tahunnya.

Polusi udara kini menjadi pembunuh utama umat manusia, bahkan lebih tinggi dari yang disebabkan oleh malaria, HIV,  atau merokok.

Seperti dikutip Dailymail, dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Jerman itu dikhawatirkan dunia tengah menghadapi pandemi polusi udara  (wabah penyakit yang terjadi secara luas di seluruh dunia) yang dapat memperpendek umur rata-rata di seluruh dunia.

Tim penelitian yang dipimpin oleh profesor dari Max Planck Institute for Chemistry, Jos Lelieveld, memeriksa hubungan antara paparan polusi udara dan hilangnya harapan hidup orang.

Penelitian tersebut menemukan paparan jangka panjang terhadap polusi udara dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah melalui peningkatan stres oksidatif, dengan mempengaruhi jantung dan pembuluh darah yang berperan menyuplai otak.

Penyakit jantung koroner dan stroke menjadi penyebab hampir setengah dari jumlah kematian tersebut. Sedangkan sebagian besar penyebab kematian lainnya, disebabkan oleh penyakit paru-paru dan penyakit tidak menular lainnya, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Sedangkan dari jumlah tersebut, hanya 6 % kematian akibat penyakit kanker paru-paru yang disebabkan oleh polusi udara.

Sementara itu sekitar dua pertiga atau sekitar 5,5 juta kematian dianggap dapat dihindari, karena disebabkan oleh polusi buatan manusia, seperti yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Sehingga dengan mengeliminasi campuran berracun dari molekul dan partikel penyumbat paru-paru yang dihasilkan oleh pembakaran minyak, gas, dan batubara, harapan hidup global dapat mengembalikan harapan hidup setahun penuh. Adapun bila menyingkirkan emisi buatan manusia, harapan hidup global akan meningkat hampir dua tahun.

"Polusi udara adalah risiko kesehatan masyarakat yang lebih besar daripada merokok. Sebagian besar dapat dihindari dengan mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan yang bersih," terang Max Planck kepada AFP.

Rekan penulis penelitian, Profesor Thomas Münzel, mengatakan karena dampak polusi udara bagi kesehatan masyarakat secara keseluruhan jauh lebih besar dari yang diperkirakan dan menjadi fenomena di seluruh dunia, maka para peneliti meyakini temuan mereka yang menunjukkan adanya pandemi polusi udara.

"Hasil kami menunjukkan ada pandemi polusi udara. Baik polusi udara dan asap rokok dapat dicegah, tetapi selama beberapa dasawarsa terakhir perhatian terhadap polusi udara lebih sedikit ketimbang merokok, terutama di kalangan ahli jantung," terang Thomas. (M-4)

Baca Juga

Dok. EMPC 2020

Kompetisi untuk Para Produser Musik Elektronik Kembali Digelar

👤Fathurrozak 🕔Jumat 10 Juli 2020, 17:15 WIB
Tahun ini EMPC menggandeng label asal Belanda, Barong...
Dok. EMPC 2020

Saran Yellow Claw Untuk Produser Musik Elektronik

👤Fathurrozak 🕔Jumat 10 Juli 2020, 16:40 WIB
Duo DJ asal Amsterdam, Belanda, Yellow Claw, menilai orisinalitas amat penting agar tetap bisa menonjol di tengah banyaknya musisi musik...
123RF

Belum Ditemukan, Bintang Glee Naya Rivera diduga Tewas

👤Irana S 🕔Jumat 10 Juli 2020, 10:26 WIB
Sebelumnya, dua tragedi telah merundung keluarga besar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya