Selasa 03 Maret 2020, 06:30 WIB

IHSG Melorot, Rupiah Menguat

Hilda Julaika | Ekonomi
IHSG Melorot, Rupiah Menguat

ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/3/2019).

 

 INDEKS harga saham gabungan (IHSG) melemah pada penutup­an perdagangan, kemarin, setelah dua warga Indonesia di­nyatakan positif terkena virus korona baru atau covid-19. IHSG ditutup melemah 91,46 poin atau 1,68% ke posisi 5.361,25.

Adapun kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 ber­gerak turun 20,21 poin atau 2,3% menjadi 859,33.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kebijakan stimulus moneter. Rupiah ditutup menguat 53 poin atau 0,37% menjadi 14.265 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi di hari sebelumnya 14.318 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas, Na­fan Aji, mengatakan sebetulnya data purchasing manager index (PMI) manufaktur dan data inflasi mengalami hasil yang po­sitif sehingga membuat IHSG sempat mengalami penguatan.

“Namun, setelah itu ­terjadilah panic selling yang luar biasa sehingga menyebabkan ­pelemahan pada IHSG. Hal ini merespons pengumuman pemerintah me­nge­nai ditemukan dua pasien penderita covid-19,” ujarnya.

Nafan memprediksi IHSG ha­ri ini masih memiliki tren pe­nurunan. Hal itu didasarkan pada indikator moving average convergence/divergence (MACD), stochastic, dan relative strength index (RSI) yang masih menunjukkan sinyal negatif.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, me­ngatakan sentimen positif ba­­gi rupiah terjadi setelah BI ­me­ngeluarkan kebijakan stimulus moneter untuk meredakan dampak negatif korona.

“BI juga mengatakan akan me­­lakukan intervensi yang inten­sif,” kata Ariston.

Gubernur BI Perry Warjiyo ke­marin mengumumkan lima langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Pertama, meningkatkan intensitas intevensi di pasar keuangan.

Kedua, menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) valuta asing bank-bank umum konvensional yang sebelumnya 8% dari DPK, sekarang 4% dari DPK.

Ketiga, menurunkan GWM ru­piah sebesar 50 bps yang ditujukan kepada perbankan yang melakukan kegiatan ekspor dan impor, yang tentu saja dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengam pemerintah.

Keempat, memperluas je­­nis dan cakupan underlying ­tran­­saksi bagi investor asing dalam melakukan lindung nilai, termasuk domestic non delivery forward (DNDF).

Kelima, menegaskan investor global dapat menggunakan bank kustodian, baik global maupun domestik, dalam melakukan in­vestasi di Indonesia. (Hld/Uta/Pra/X-10)

Baca Juga

Ilustasi

Korpri Harapkan Pensiunan ASN Tetap Peroleh THR

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 07 April 2020, 17:22 WIB
Zudan menyebutkan, walaupun pihaknya sepakat dengan wacana yang digulirkan pemerintah, ada beberapa elemen ASN dan mantan ASN yang...
MI/Anggoro

SKK Migas Salurkan Bantuan Rp5 M Untuk Daerah Terdampak Covid-19

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Selasa 07 April 2020, 16:54 WIB
SKK Migas memberikan bantuan senilai Rp5 miliar yang telah disalurkan dan dialokasikan kepada 11 provinsi yang terdampak virus korona atau...
ANTARA

Nasabah Jiwasraya SP Tagih Lagi Klaim Usai Pandemi

👤Hilda Julaika 🕔Selasa 07 April 2020, 16:39 WIB
Nasabah Jiwasraya Saving Plan (SP) akan kembali bergerak untuk menagih hak pencairan dana mereka usai pandemi covid-19...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya