Selasa 03 Maret 2020, 01:10 WIB

Musim Panas 2034, Lautan Es di Kutub Utara Lenyap?

Melalusa Susthira K | Weekend
Musim Panas 2034, Lautan Es di Kutub Utara Lenyap?

123RF
Lautan es di Kutub Utara berperan membantu mengatur suhu Bumi dengan memengaruhi sirkulasi atmosfer dan laut.

Perubahan iklim membawa dampak nyata pada salah satu tempat terdingin di dunia yakni, Kutub Utara. Sebuah hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa es di Kutub Utara diproyeksikan akan benar-benar lenyap pada musim panas 2034 mendatang.

Prediksi tersebut diperoleh oleh para ilmuwan yang meninjau data satelit selama empat dasawarsa terakhir. Menggunakan model statistik untuk memprediksi jumlah es Arktik di masa depan, ilmuwan menemukan bahwa wilayah Kutub Utara itu akan 'bebas' dari es pada musim panas selama dekade 2030-an, dan memprediksikan kemungkinan besar terjadi pada 2034.

Lautan es yang membeku di wilayah Arktik memang lazimnya akan mencair setiap musim panas, lalu akan membeku kembali setiap musim dingin. Sementara lapisan tebal es yang mengelilingi Kepulauan Arktik Kanada cenderung bertahan lebih lama sekalipun di musim panas

Namun, hamparan luas lautan es musim panas di Kutub Utara terus menyusut selama beberapa dasawarsa terakhir akibat pemanasan global. Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat mengatakan pengurangan jumlah lautan es yang cepat itu terjadi di semua musim. Walakin, utamanya terjadi pada penghujung musim panas.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Climate itu mengatakan penurunan cepat lautan es itu sendiri berdampak bagi ekosistem Kutub Utara, termasuk para penghuninya, seperti beruang kutub dan walrus.

Lautan es yang menurun cepat juga menyebabkan peningkatan erosi pantai yang dapat berdampak langsung pada orang-orang yang mendiami Kutub Utara, seperti suku eskimo. Tak hanya itu, lautan es itu juga memiliki peranan untuk membantu mengatur suhu planet dengan memengaruhi sirkulasi atmosfer dan laut.

"Sebaliknya, hilangnya es Kutub Utara menciptakan peluang eksploitasi ekonomi, termasuk pembukaan ladang minyak yang potensial dan rute pengiriman baru,” terang NOAA dalam sebuah pernyataan.

Adapun pembakaran bahan bakar fosil tentu saja memengaruhi pola cuaca global, yang menyebabkan Bumi memanas dan menyebabkan es mencair. Para ilmuwan juga khawatir dengan lebih banyak kapal - termasuk kapal pesiar --menuju ke Kutub Utara, kemungkinan tumpahan minyak yang menghancurkan lingkungan juga meningkat.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari NOAA, University of Washington, dan North Carolina Institute for Climate Studies itu berpendapat apa yang disebut musim panas tahun pertama Arktik bebas dari es, ketika jumlah lautan es di Arktik turun di bawah dari 1 juta kilometer persegi --dari total 14 juta kilometer persegi luas wilayah Arktik itu sendiri. (M-2)

Baca Juga

AFP/JOHANNES EISELE (STF)

Arloji Cerdas dikembangkan untuk Deteksi Corona

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 29 Mei 2020, 19:35 WIB
Fitbit, bersama dengan Apple, juga berkolaborasi dengan Stanford Healthcare Innovation Lab dalam COVID-19 Wearables...
Unsplash/ William Iven

Tabungan Bertambah Saat WFH? Anda Tetap Disarankan Berhemat

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 29 Mei 2020, 16:55 WIB
Meski banyak orang yang turun pendapatan karena pandemi, banyak pula yang tabungannya justru bertambah karena beruntung masih bergaji penuh...
A Jamieson

Ada Penampakan Spesies Gurita Langka di Palung Sunda

👤Bagus Pradana 🕔Jumat 29 Mei 2020, 13:10 WIB
Mereka menjuluki spesies gurita laut dalam yang mereka temui ini dengan sebutan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya