Senin 02 Maret 2020, 15:50 WIB

Saban Tahun di Sulteng Lahan Sawah Susut 10 Hektare

M Taufan SP Bustan | Nusantara
Saban Tahun di Sulteng Lahan Sawah Susut 10 Hektare

MI/Amir MR
Petani tengah menggarap sawah.

 

KEPALA Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulawesi Tengah (Sulteng), Trie Iriany Lamakampali mengakui, kalau lahan pertanian di Sulteng hampir setiap tahun mengalami penyusutan.

Penyusutan lahan pertanian, ungkap dia, terjadi di lima kabupaten yang merupakan sentra produsen beras terbesar di Sulteng.  

"Setiap tabun itu ada sampai 10 hektare lahan pertanian kita yang menyusut," terang Trie kapada Media Indonesia di Palu, Senin (2/3).  

Lima kabupaten yang disebutkan itu di antaranya, Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Poso, Morowali Utara, dan Kabupaten Tolitoli.  

"Penyusutan memang susah dibendung karena banyak petani yang menjual lahannya. Mereka menilai menanam padi sudah tidak menjanjikan," ungkap Trie.  

Melihat peristiwa itu, Trie mengaku, pihaknya terus mengimbangi penyusutan tersebut, salah satu cara yang dilakukan pemerintah dengan membuka lahan pertanian baru.  

"Kebetulan juga Sulteng menjadi salah satu daerah yang dipercaya oleh pemerintah pusat untuk membuka lahan pertanian baru. Ini bisa jadi pengimbang lah," ujarnya.  

Penyusutan lahan pertanian memang tidak bisa dibendung, hal ini seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk khususnya di lima kabupaten tersebut.  

Konsekuensi, tambah Trie, pembangunan pengembangan kota tidak bisa dihindari, yang dipastikan berpengaruh pada penyusutan lahan pertanian.

"Penduduk tidak bisa kita bendung. Manusia yang lahir banyak pasti konsumsi juga makin bertambah, bonus demografi yang ada tidak bisa kita hindari. Penyusutan lahan pertanian juga terjadi, tapi kita bantu melalui cetak sawah baru, minimal kita pertahankan jumlahnya tetap seimbang," sebutnya.  

Trie menuturkan, dengan kepercayaan yang sudah diberikan pemerintah pusat, pihaknya terus menggenjot pencetakan sawah baru.

"Perluasan lahan baru tidak merata, tergantung lahan yang tersedia. Makanya ini yang lagi kami genjot," sambungnya.  

Trie menambahkan, teknis membuka lahan baru itu tidak sembarang, banyak aturannya, harus sumber airnya tersedia, lahan yang ada tidak boleh bermasalah, tidak masuk kawasan hutan, dan hutannya tidak boleh bagian dari konflik antar masyarakat.  

"Selain itu daerah kemiringannya harus dibatasi tidak boleh lebih dari 10 persen, karena harus rata, namanya sawah," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga

MI/Rendy Ferdiansyah

Subuh, Dua PDP di Belitung Dimakamkan

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Rabu 08 April 2020, 13:11 WIB
"Untuk PDP 297 ini ada riwayat perjalanan dari daerah terjangkit covid-19 pada 18 Maret,"ungkap...
MI/Denny Susanto

Gubernur Kalsel Bagikan Disinfektan ke 13 Kabupaten/Kota

👤Denny Susanto 🕔Rabu 08 April 2020, 13:11 WIB
Masyarakat diminta ikut mendukung upaya memerangi wabah virus korona dengan mentaati protokol kesehatan yang ditetapkan...
MI/Kristiadi

Sungai Citanduy dan Cikidang Meluap Rendam Ratusan Rumah

👤Kristiadi 🕔Rabu 08 April 2020, 13:08 WIB
Hendi mengatakan, banjir sering terjadi di Kecamatan Sukaresik dan masyarakat sudah terbiasa. Sehingga, sebagian warga memilih bertahan di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya